Kayla Kwok, Mahasiswa FEB UI yang Jadi Satu-Satunya Delegasi Asal Indonesia di Harvard World MUN 2026 Peru
Kayla Kwok, satu-satunya peserta asal Indonesia di komite ECOFIN (Economic and Financial Committee) pada ajang Harvard World Model United Nations (World MUN) 2026
Kayla Kwok menjadi satu-satunya delegasi dari Universitas Indonesia (UI) sekaligus satu-satunya peserta asal Indonesia di komite ECOFIN (Economic and Financial Committee) pada ajang Harvard World Model United Nations (World MUN) 2026. Hal ini merupakan sebuah pengalaman luar biasa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Kayla.
Harvard World MUN sendiri dikenal sebagai salah satu ajang simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terbesar di dunia. Setiap tahunnya, forum bergengsi ini menghimpun ribuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk membedah isu-isu global melalui jalur diplomasi, negosiasi, dan pemikiran kritis. Dalam forum tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Kelas Khusus Internasional (KKI) angkatan 2025 ini berpartisipasi sebagai delegasi individu yang berkolaborasi dengan peserta internasional lainnya dalam diskusi intensif mengenai berbagai tantangan global yang kompleks.
Sepanjang perjalanan panjang itu, ia terus mematangkan argumennya serta membayangkan berbagai dinamika yang akan dihadapi di forum. Setibanya di Peru, tantangan langsung terasa ketika ia menyadari bahwa mayoritas masyarakat setempat menggunakan bahasa Spanyol untuk berkomunikasi sehari-hari. Pada momen itulah, ia menyadari bahwa ia harus sepenuhnya bersandar pada kesiapan, keberanian, dan kemampuan mandiri untuk menghadapi segala tantangan.
Di dalam komite ECOFIN, topik yang dibahas adalah climate finance (pendanaan iklim). Isu ini membuka matanya bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan tantangan ekonomi global yang menentukan masa depan banyak negara. Hal yang paling membuka wawasannya adalah kenyataan pahit mengenai kesenjangan lebar antara komitmen dan implementasi. Begitu banyak janji yang telah diikrarkan oleh para pemimpin dunia untuk mengatasi perubahan iklim, namun realisasinya dalam bentuk tindakan nyata masih sangat minim.
Bagi Kayla, pencapaian terbesar dari perjalanan lintas benua ini bukanlah sekadar hasil kompetisi. Nilai utamanya terletak pada keberanian untuk tetap melangkah maju, meskipun harus berdiri sendiri dan menghadapi ketidakpastian di belahan dunia lain.
Sebagai penutup, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa UI agar tidak takut dalam mengambil risiko. Menurutnya, dunia ini jauh lebih luas dari apa yang dilihat sehari-hari, dan pertumbuhan terbesar dalam hidup sering kali dimulai justru saat seseorang berani melangkah keluar dari zona nyamannya.
Baca Juga: Sibuk Organisasi dan Ikut Kompetisi, Ini Cerita Maureen yang Jadi Lulusan Tercepat di UGM