Pelibatan Kantin Sekolah dalam Program MBG Dinilai Bisa Pangkas Anggaran dan Perkuat UMKM
Wacana melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons positif dari kalangan akademisi.
Wacana melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Selain dinilai mampu meningkatkan efisiensi program, langkah tersebut juga disebut berpotensi memperluas dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di lingkungan sekolah.
Table Of Content
Peneliti Pusat Studi Politik dan Transformasi Sosial (Puspolnas) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Syarifudin, menilai pelibatan kantin sekolah merupakan alternatif kebijakan yang realistis dan layak dipertimbangkan dalam pengembangan program MBG ke depan.
Menurutnya, skema tersebut dapat menjawab sejumlah tantangan yang selama ini muncul dalam implementasi program makan gratis, terutama terkait biaya operasional dan distribusi makanan.
“Kantin sekolah bisa menjadi mitra strategis yang membuat pelaksanaan program lebih efektif sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Syarifudin, dikutip dari laman resmi Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Baca Juga: Inovatif! Siswa MAN 5 Kampar Riau Sulap Limbah Minyak Goreng MBG Jadi Biodiesel
Distribusi Makanan Lebih Efisien
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp268 triliun untuk Program Makan Bergizi Gratis pada 2026. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk pembangunan dapur, penyediaan peralatan, hingga distribusi makanan ke sekolah.
Syarifudin menilai biaya distribusi menjadi salah satu komponen yang menyerap anggaran cukup besar dalam pelaksanaan program tersebut. Karena itu, produksi dan penyajian makanan langsung di sekolah melalui kantin dinilai dapat menjadi solusi yang lebih efisien.
Dengan sistem tersebut, makanan tidak lagi harus melalui rantai distribusi yang panjang. Biaya transportasi, logistik, serta kebutuhan operasional lainnya berpotensi ditekan sehingga anggaran dapat dimanfaatkan lebih optimal.
“Kehadiran kantin sekolah sebagai mitra pelaksana dapat mengurangi biaya distribusi karena makanan diproduksi dan disajikan langsung di lokasi,” jelasnya.
Buka Peluang Lebih Besar bagi UMKM
Selain bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik, Program MBG juga dirancang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Syarifudin, jika kantin sekolah dilibatkan secara aktif, manfaat ekonomi program tidak hanya dirasakan kelompok usaha besar yang memiliki akses modal dan jaringan distribusi luas. Pedagang dan pelaku UMKM yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem sekolah juga berpeluang mendapatkan manfaat langsung.
Perputaran ekonomi yang tercipta diyakini akan lebih merata karena melibatkan lebih banyak pelaku usaha di tingkat lokal.
“Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembangunan inklusif yang memberi ruang bagi masyarakat akar rumput untuk berkembang,” katanya.
Perlu Standar dan Pengawasan Ketat
Meski menawarkan berbagai keuntungan, pelibatan kantin sekolah tetap membutuhkan persiapan yang matang. Pemerintah perlu memastikan setiap kantin yang terlibat memenuhi standar sanitasi, keamanan pangan, serta memiliki fasilitas yang memadai.
Selain itu, pengelola kantin juga perlu mendapatkan pelatihan terkait penyusunan menu bergizi, pengolahan makanan, manajemen keamanan pangan, hingga perhitungan kebutuhan nutrisi peserta didik.
Dengan dukungan tersebut, kantin sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pendidikan kesehatan dan gizi bagi siswa.
MBG Dinilai Sebagai Investasi Jangka Panjang
Syarifudin menegaskan Program Makan Bergizi Gratis seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai bantuan pangan bagi peserta didik. Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Karena itu, model pelaksanaan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan perlu menjadi prioritas. Dalam konteks tersebut, kemitraan dengan kantin sekolah dinilai sebagai salah satu opsi yang patut dipertimbangkan pemerintah.
Jika diterapkan dengan sistem pengawasan yang baik, kantin sekolah berpotensi menjadi ujung tombak keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis sekaligus mendukung pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia.