Mengukir Prestasi Dunia, Mahasiswi FK UIN Jakarta Tembus Jurnal Internasional Scopus Q1
Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan tinggi keagamaan Islam di kancah internasional. Seorang mahasiswi kedokteran dalam negeri berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan...
Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan tinggi keagamaan Islam di kancah internasional. Seorang mahasiswi kedokteran dalam negeri berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersaing di level global melalui publikasi riset klinis yang bereputasi tinggi. Capaian impresif ini tidak hanya mengharumkan nama institusi tempatnya bernaung, tetapi juga menjadi representasi nyata dari kualitas dan ketajaman riset generasi muda Indonesia di panggung dunia.
Prestasi gemilang ini ditorehkan oleh Dinnisa Haura Zhafira Hidayat, mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2020. Ia sukses memublikasikan karya ilmiahnya di Journal of International Students, sebuah jurnal bereputasi global yang masuk dalam kategori Scopus Q1. Artikel ilmiah berjudul “Culture, Language, and Professional Identity: A Narrative Inquiry of an Indonesian Medical Student’s Clinical Exchange in Taiwan” tersebut merupakan publikasi Scopus ketiganya, sekaligus melengkapi total sekitar 18 karya ilmiah yang telah ia telurkan sepanjang masa studinya. Rekam jejak ini menjadi bukti autentik bahwa mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) memiliki daya saing tinggi dan mampu berkontribusi aktif dalam perkembangan riset kesehatan global.
Riset kualitatif ini dikembangkan menggunakan metode narrative inquiry berbasis self-study. Isinya merupakan hasil dari program clinical student mobility exchange yang diikuti Haura selama satu bulan di Departemen Dermatologi Far Eastern Memorial Hospital, Taiwan. Melalui catatan refleksi harian, penelitian ini merumuskan tiga poin temuan penting terkait kapasitas global calon tenaga medis: dinamika dalam beradaptasi dengan budaya lokal di Taiwan, proses pembentukan identitas profesi dokter melalui pengamatan klinis yang berkualitas, serta peran ganda bahasa yang dapat menjadi kendala sekaligus jembatan komunikasi dalam dunia medis. Atas capaian ini, Haura mengaku sangat bersyukur dan berharap pencapaiannya dapat memicu motivasi mahasiswa lain di Indonesia untuk lebih berani mengambil bagian dalam program mobilitas internasional.
Keberhasilan luar biasa ini selaras dengan peta jalan Kementerian Agama (Kemenag) dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan memperluas cakrawala global mahasiswa PTKI. Lewat dukungan terhadap program pertukaran pelajar dan kolaborasi riset antarnegara, Kemenag berkomitmen kuat untuk membangun jaringan profesional global yang diimbangi dengan integrasi nilai-nilai keislaman serta kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai lembaga di bawah naungan Kemenag, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga terus memperkokoh dedikasinya untuk melahirkan lulusan yang tidak sekadar kompeten di bidang akademik, tetapi juga berwawasan kebangsaan dan berdaya saing global.
Melalui ungkapan syukurnya, Haura menyampaikan bahwa pengalaman berharga ini tidak hanya mempertajam keahlian klinisnya, tetapi juga merevolusi cara pandangnya sebagai calon dokter dalam merespons keberagaman budaya di masyarakat. Keberhasilan ini menjadi refleksi penting bagi dunia akademis Indonesia bahwa ruang aman dan dukungan kolaboratif yang tepat akan selalu melahirkan inovasi serta prestasi yang diakui dunia. Semoga langkah inspiratif ini menjadi pemantik awal bagi lahirnya ilmuwan-ilmuwan muda lain dari seluruh pelosok negeri.