Indonesia–Tiongkok Perkuat Kolaborasi Pendidikan Vokasi untuk Transformasi Pendidikan dan Integrasi Industri
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan industri dalam menghadapi berbagai disrupsi global. Ia menyebut...
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan industri dalam menghadapi berbagai disrupsi global. Ia menyebut perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik sebagai tantangan yang harus direspons secara adaptif. Dalam konteks tersebut, kolaborasi antarnegara dinilai semakin krusial untuk memperkuat daya saing.
Table Of Content
Pratikno juga menyoroti bahwa kawasan Asia saat ini berada dalam momentum kebangkitan global. “Sekarang ini adalah Asian Century, saatnya Indonesia dan China menjadi motor kepemimpinan Asia di kawasan ini,” ujarnya saat membuka Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA) yang digelar pada 27–28 April 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM.
Baca juga: Menuju Indonesia Emas 2045, Pendidikan Tinggi Didorong Jadi Pusat Solusi Nasional
Disrupsi Sebagai Peluang Lompatan Kemajuan
Pratikno menegaskan bahwa disrupsi yang terjadi saat ini perlu dipandang sebagai peluang untuk melakukan lompatan kemajuan. Menurutnya, kerja sama yang terbangun harus berorientasi pada aksi nyata dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Keterlibatan industri dalam pendidikan juga perlu diperkuat agar mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial. “Kerja sama ini harus melahirkan aksi nyata, dengan melihat disrupsi sebagai peluang untuk melompat lebih jauh,” tuturnya.
Kolaborasi Internasional dan Transformasi Pendidikan
Sejalan dengan itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, menilai kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjawab perubahan industri yang berlangsung cepat. Ia menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri serta penguatan riset terapan.
Transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan disebut sebagai faktor utama yang mendorong perubahan tersebut. Karena itu, perguruan tinggi perlu beradaptasi melalui kemitraan lintas negara yang konkret. “Forum ini menjadi ruang untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” ungkapnya.
Baca juga: Tersedia 1.458 Kursi, Intip Daya Tampung 25 Prodi UIN Suka Yogyakarta di UM-PTKIN 2026!
Ova menambahkan bahwa forum ini membawa pesan kuat tentang pentingnya membangun ekosistem masa depan yang terintegrasi. Keterhubungan antara talenta, teknologi, dan industri menjadi fondasi utama dalam menghadapi persaingan global. “Kita sedang membangun ekosistem masa depan yang menghubungkan talenta, teknologi, dan industri lintas negara,” tegasnya.
CITIEA Perkuat Sinergi Pendidikan Vokasi Global
CITIEA yang memasuki tahun ketiganya menjadikan Universitas Gadjah Mada sebagai tuan rumah forum internasional ini. CITIEA menjadi ruang pertemuan strategis antara pemerintah, perguruan tinggi vokasi, dan mitra industri dari Indonesia dan Tiongkok.
Agenda ini sekaligus memperkuat sinergi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri global yang terus berkembang. Selain itu, konferensi ini juga menjadi momentum evaluasi sekaligus pengembangan program kolaboratif lintas negara. Melalui forum ini, Indonesia didorong memperkuat perannya dalam jejaring pendidikan vokasi di kawasan ASEAN.
Partisipasi Global dan Penguatan Ekosistem Vokasi
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Agus Maryono, menyampaikan bahwa konferensi ini diikuti lebih dari 300 peserta dari puluhan institusi vokasi Indonesia dan Tiongkok serta berbagai perusahaan internasional.
Ia menilai forum ini menjadi ruang bertemunya kepentingan pendidikan, industri, dan inovasi teknologi dalam satu ekosistem. “Kami ingin membangun keterhubungan dari hulu ke hilir, mulai dari proses belajar hingga penyerapan tenaga kerja di industri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendekatan dalam forum ini berfokus pada keterhubungan menyeluruh antara pendidikan, pelatihan, hingga dunia kerja. “Forum ini diharapkan memperluas akses magang, rekrutmen global, serta kolaborasi riset yang berdampak nyata bagi kedua negara,” tutur Agus.
Kolaborasi Indonesia–Tiongkok dalam Pendidikan Vokasi
Perwakilan China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA), Qiu Fuming, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan vokasi. Ia menyampaikan bahwa kemitraan ini terus berkembang dan melibatkan berbagai institusi pendidikan serta industri dari kedua negara.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan global. Selain itu, pertukaran pengetahuan dan pengalaman menjadi bagian penting dalam kerja sama ini. “Kemitraan ini akan terus kami dorong agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi kedua negara,” jelasnya.
Tantangan dan Peluang Lulusan Vokasi
Staf Khusus Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Oki Earlivan Sampurno, menyoroti pentingnya akses global bagi lulusan vokasi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri.
Menurutnya, pemerintah berperan sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan industri. Ia juga menekankan pentingnya sertifikasi profesional serta kolaborasi internasional untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja. “Kolaborasi global dan sertifikasi menjadi kunci agar lulusan kita mampu bersaing di pasar kerja internasional,” imbuh Oki.