Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Laysa Latifah, berhasil meraih norma Woman Grandmaster (WGM) dalam debutnya di Olimpiade Catur FIDE ke-46 yang berlangsung di Samarkand, Uzbekistan, pada 16–27 September 2026.
Pecatur putri Indonesia yang menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNJ, tersebut sebelumnya telah menyandang gelar Woman International Master (WIM). Pencapaian di Olimpiade Catur FIDE 2026 melengkapi perjalanan Laysa menuju gelar bergengsi bagi pecatur putri tersebut.
Menghadapi ratusan tim dari berbagai negara
Olimpiade Catur FIDE 2026 menjadi pengalaman internasional pertama Laysa di ajang tersebut. Kompetisi berlangsung dalam 11 babak selama 11 hari dengan kategori putri yang diikuti 196 tim dari 194 negara.
Sejumlah negara dengan kekuatan catur seperti China, India, Kazakhstan, dan Georgia turut menjadi bagian dari persaingan. Dalam menghadapi para pecatur dari berbagai negara, Laysa menilai tantangan terbesar justru berasal dari dirinya sendiri, terutama dalam menjaga kepercayaan diri selama pertandingan.
Laysa berusaha menjaga fokus dan tidak terlalu memikirkan hasil akhir setiap pertandingan. Ia memilih menikmati setiap permainan dan memberikan kemampuan terbaiknya. Bahkan, hingga babak ke-10, ia belum mengetahui bahwa kemenangan pada pertandingan tersebut akan membawanya meraih norma WGM.
Dukungan pelatih dalam perjalanan karier
Di balik pencapaian tersebut, Laysa mendapat dukungan dari sejumlah pelatih yang mendampingi perjalanan kariernya sejak masih kecil. Saat ini, ia tergabung dalam Pelatnas Junior Indonesia dan mendapatkan pelatihan dari Grandmaster Susanto Megaranto serta International Master Tirta Chandra Purnama.
Pembinaan juga diperolehnya dari sejumlah pelatih di KONI DKJ, yakni MN Hendry Jamals, WIM Upi Darmayana, FM Syarif Mahmud, dan MN Aris TLS. Pendampingan tersebut berlangsung sejak Laysa masih kecil hingga mengikuti Pelatda 2 dan kemudian Pelatda 1.
Menurut Laysa, pelatih memiliki peran penting dalam perkembangan seorang pecatur karena dapat membantu menganalisis permainan sekaligus menjadi tempat berdiskusi mengenai berbagai hal baru dalam catur.
Pengalaman pertama yang penuh tantangan
Selain persaingan di papan catur, Laysa menghadapi sejumlah tantangan selama mengikuti Olimpiade Catur FIDE 2026. Salah satunya adalah akses menuju lokasi pertandingan yang cukup jauh dari hotel tempat kontingen Indonesia menginap.
Kondisi tersebut membuat tim Indonesia harus menempuh perjalanan panjang menuju venue. Mereka bahkan perlu berangkat lebih dari dua jam lebih awal dibandingkan sejumlah tim lain yang memperoleh akomodasi lebih dekat dengan lokasi pertandingan.
Perbedaan makanan yang tersedia bagi peserta juga menjadi bagian dari pengalaman Laysa selama berada di Uzbekistan. Namun, kondisi tersebut dinilai dapat dipahami karena penyelenggaraan olimpiade tidak berlangsung di ibu kota Uzbekistan.
UNJ turut mendukung prestasi Laysa
UNJ turut memberikan dukungan terhadap perjalanan pendidikan dan prestasi Laysa melalui beasiswa. Dukungan tersebut membantu Laysa menjalani pendidikan sekaligus mengembangkan kariernya sebagai pecatur.
Dengan pencapaian sebagai penerima norma WGM keempat dari Indonesia, Laysa berharap prestasinya dapat ikut mendorong perkembangan olahraga catur di Tanah Air.
Ia juga berharap olahraga catur semakin dikenal dan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
Baca Juga: Yoga Ardika Putra, Mahasiswa UNJ yang Cetak Sejarah Teqball Indonesia di Asian Games 2026




Komentar Pengunjung (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!