Putra Bali Raih IPK 4,00, Lulus Doktor UGM dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan
Keterbatasan jarak maupun kondisi ekonomi tidak menghalangi I Made Sarmita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor.
Keterbatasan jarak maupun kondisi ekonomi tidak menghalangi I Made Sarmita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Pria asal Kabupaten Badung, Bali, tersebut berhasil menjadi salah satu wisudawan terbaik Program Doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan meraih IPK sempurna, 4,00.
Table Of Content
Menariknya, Made mampu menuntaskan Program Studi Doktor Kependudukan di Sekolah Pascasarjana UGM dalam waktu 2 tahun 10 bulan. Durasi tersebut lebih singkat dibandingkan masa pendidikan doktor yang umumnya ditempuh selama empat tahun.
Made mengaku tidak menyangka dapat meraih predikat tersebut. Menurutnya, capaian itu merupakan hasil dari kesungguhan yang dijalani selama proses pendidikan, ditambah doa serta dukungan dari berbagai pihak.
“Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain,” ujar Made seperti dikutip dari laman UGM.
Menekuni Bidang Kependudukan Sejak Pendidikan S1
Perjalanan pendidikan Made bermula di Bali. Pada 2006 hingga 2010, ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali.
Ketertarikannya terhadap isu kependudukan kemudian membawanya melanjutkan studi ke Yogyakarta. Ia memilih UGM untuk menempuh pendidikan magister, sebelum akhirnya meneruskan ke jenjang doktor pada bidang yang sama.
Made menjelaskan, keputusan mengambil S3 Kependudukan didasarkan pada kesinambungan bidang studi yang telah ditempuh sebelumnya.
“Saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1,” jelasnya.
Selama menjalani pendidikan doktor, Made juga mendapatkan beasiswa. Namun, proses untuk memperoleh kepastian beasiswa tersebut sempat membuatnya merasa khawatir sebelum akhirnya berhasil mendapatkannya.
Peran Dosen Pembimbing dalam Mempercepat Studi
Salah satu faktor yang menurut Made berperan besar dalam penyelesaian studinya adalah dukungan dari dosen pembimbing. Promotor dan ko-promotor disebutnya aktif memantau perkembangan penelitian serta rutin berkomunikasi selama proses studi.
Bagi Made, perhatian tersebut membuat dirinya terus terdorong untuk menjaga progres penelitian.
“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.
Selain mengandalkan arahan dosen, Made juga menyiapkan rencana penelitian sejak awal. Ia menyarankan mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan doktor agar sudah memiliki gambaran riset sebelum resmi memulai perkuliahan.
Menurutnya, mahasiswa juga perlu berani mengambil langkah lebih awal dalam ujian komprehensif agar memperoleh masukan yang dapat mendukung proses publikasi jurnal.
Made turut menyarankan agar calon mahasiswa mempertimbangkan calon promotor dan ko-promotor yang memiliki keahlian sesuai dengan rencana riset. Kesibukan, pola komunikasi, serta karakter calon pembimbing juga dinilai penting untuk dipertimbangkan.
Menjalani Proses dengan Fokus dan Sungguh-sungguh
Di balik pencapaian IPK 4,00, Made mengaku tidak memiliki strategi belajar khusus. Ia hanya berusaha tetap fokus dan menyelesaikan setiap tugas dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, keseriusan dalam menjalani setiap tahapan pendidikan akan membantu menghasilkan capaian yang baik. Namun, usaha tersebut juga perlu disertai doa dan tawakal.
“Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” pesannya.
Baca Juga: Dari Limbah Menjadi Karya, Dosen Unesa Olah Daun Nanas Jadi Tekstil Ramah Lingkungan