Dari Limbah Menjadi Karya, Dosen Unesa Olah Daun Nanas Jadi Tekstil Ramah Lingkungan
Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Inty Nahari, berhasil mengolah daun nanas jadi material tekstil ramah lingkungan.
Limbah pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang terbuang. Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Inty Nahari, membuktikan hal tersebut melalui penelitian yang mengolah daun nanas menjadi material tekstil ramah lingkungan.
Table Of Content
Dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Unesa itu melihat adanya potensi besar pada daun nanas yang selama ini kerap ditinggalkan setelah proses panen buah. Melalui penelitian dan eksplorasi material, serat dari daun tersebut kemudian dikembangkan menjadi karya tekstil yang memiliki nilai estetika sekaligus mengangkat isu keberlanjutan.
Barik, Eksplorasi Serat Daun Nanas dari Kelud
Gagasan tersebut diwujudkan melalui karya tekstil bernama Barik. Nama tersebut berasal dari bahasa Jawa yang berarti garis.
Bagi Inty, makna garis dalam karya Barik tidak hanya berkaitan dengan elemen visual. Garis juga dimaknai sebagai gambaran jejak lingkungan tempat tanaman tumbuh dan berkembang.
Dalam proses pembuatannya, Inty mempertahankan karakter alami serat daun nanas, termasuk perbedaan tekstur, warna, dan ketebalannya. Serat-serat tersebut kemudian dipadukan dengan teknik tenun kluwung sehingga menghasilkan permukaan tekstil dengan karakter yang khas.
Perpaduan antara pola tenun yang teratur dan karakter alami serat membuat setiap bagian tekstil memiliki tampilan yang berbeda. Hasilnya, karya tersebut memiliki permukaan yang unik dan sulit menghasilkan pola yang benar-benar sama.
Material Lokal yang Membawa Isu Global
Karya Barik tidak berhenti sebagai eksperimen material. Inty membawa hasil riset tersebut ke panggung seni internasional melalui pameran bertajuk “Becoming: Prakriti-Pustaka-Padma” di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali.
Menurut Inty, penggunaan serat daun nanas dari kawasan Kelud menunjukkan bahwa material yang berasal dari lingkungan lokal dapat menjadi media untuk membicarakan persoalan yang bersifat global.
Melalui karya tersebut, isu seperti keberlanjutan, pengelolaan limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, hingga penghargaan terhadap pengetahuan tradisional dapat diangkat dalam konteks industri kreatif.
Dengan demikian, material lokal tidak hanya dipandang sebagai bahan baku, tetapi juga sebagai bagian dari cerita mengenai lingkungan dan budaya di tempat material tersebut berasal.
Berpotensi Dikembangkan Menjadi Beragam Produk
Eksplorasi serat daun nanas yang dilakukan Inty juga membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas. Material tersebut berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk, tidak hanya dalam bentuk karya seni atau tekstil untuk pameran.
Sejumlah produk seperti aksesori, elemen interior, hingga berbagai produk kriya berpeluang memanfaatkan karakter serat daun nanas sebagai material alternatif.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah pertanian dapat diarahkan ke sektor industri kreatif sekaligus memberikan nilai tambah pada material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Dorong Riset Serat Alam Indonesia
Ke depan, Inty berencana memperluas jejaring penelitian terkait serat alam yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Salah satu gagasannya adalah mengembangkan pusat dokumentasi dan laboratorium yang secara khusus mengkaji karakteristik material, teknik pengolahan, serta peluang hilirisasi serat alam.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak eksplorasi terhadap kekayaan material lokal Indonesia. Dengan riset yang berkelanjutan, limbah pertanian tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga berpotensi diubah menjadi produk bernilai ekonomi, estetika, dan lingkungan.
Karya Barik menjadi salah satu contoh bahwa inovasi berbasis material lokal dapat mempertemukan kreativitas, tradisi, dan konsep keberlanjutan dalam satu karya.
Baca Juga: Inovatif! Siswa MAN 5 Kampar Riau Sulap Limbah Minyak Goreng MBG Jadi Biodiesel