Indonesia Masih Tertinggi dalam Pendidikan STEM di ASEAN
Proporsi lulusan STEM di Indonesia masih jauh di bawah lulusan negara ASEAN lain.
Pendidikan berbasis STEM (science, technology, engineering, mathematics) kini menjadi fondasi utama dalam membangun daya saing negara di era ekonomi berbasis pengetahuan. Di tengah bonus demografi dan percepatan transformasi industri di kawasan ASEAN, kemampuan suatu negara menghasilkan talenta STEM menjadi faktor penentu kemajuan ekonomi dan inovasi.
Table Of Content
Namun, posisi Indonesia dalam pendidikan STEM masih tertinggal dibanding sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara. Kajian terbaru dari Muda Bicara menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Singapura dalam berbagai indikator pendidikan dan pengembangan STEM.
Baca Juga: Minat Belajar di Luar Negeri? Ini 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia 2026!
Indonesia Masih Ada di Lapisan Bawah ASEAN
Berdasarkan data dalam kajian tersebut, proporsi lulusan STEM di Indonesia hanya mencapai 19% dari total lulusan sarjana. Angka ini terpaut jauh dibanding Malaysia yang mencapai 37% dan Singapura sebesar 34%.
Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan STEM belum menjadi arus utama dalam pengembangan sumber daya manusia nasional. Bahkan jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, Indonesia masih tertinggal dari India dengan 31% lulusan STEM dan China yang mencapai 40%.
Rendahnya jumlah lulusan STEM berdampak langsung pada kemampuan inovasi nasional dan kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi kebutuhan industri teknologi, manufaktur maju, hingga ekonomi hijau.
Minim Anggaran Riset Jadi Hambatan Besar
Ketertinggalan Indonesia tidak hanya terlihat dari jumlah lulusan STEM, tetapi juga dari dukungan terhadap riset dan inovasi. Alokasi anggaran riset Indonesia tercatat hanya sekitar 0,2% dari produk domestik bruto (PDB), jauh di bawah standar global.
Sebaliknya, Singapura dan Malaysia dinilai berhasil membangun ekosistem STEM yang lebih kuat melalui kombinasi investasi riset, dukungan industri, dan pengembangan pendidikan tinggi yang terintegrasi.
Kondisi ini membuat Indonesia menghadapi tantangan ganda: jumlah lulusan STEM yang masih rendah sekaligus kualitas penyerapan tenaga kerja yang belum optimal.
Masalah Struktural Pendidikan dan Industri
Kajian tersebut menilai ketertinggalan STEM Indonesia dipengaruhi berbagai persoalan struktural. Salah satunya adalah terbatasnya kuota program studi teknik dan sains di perguruan tinggi, ditambah proses seleksi yang ketat serta masa studi yang relatif panjang.
Di sisi lain, biaya sertifikasi profesi yang mahal, keterbatasan laboratorium praktikum, hingga minimnya program magang industri turut menghambat pengembangan kompetensi mahasiswa STEM.
Hubungan antara dunia pendidikan dan industri juga dinilai belum sepenuhnya selaras. Akibatnya, banyak lulusan STEM mengalami horizontal mismatch, yakni keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan sektor kerja strategis.
Perlu Lompatan Kebijakan STEM Nasional
Hasil perbandingan antarnegara ASEAN ini menegaskan perlunya langkah kebijakan yang lebih agresif untuk memperkuat pendidikan STEM di Indonesia.
Peningkatan anggaran riset hingga minimal 1% dari PDB dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional. Selain itu, pemerintah juga didorong memperluas akses pendidikan STEM melalui penambahan kuota mahasiswa, subsidi pendidikan, hingga integrasi sertifikasi profesi ke dalam kurikulum.
Penguatan kerja sama antara kampus dan industri juga dianggap krusial agar lulusan STEM lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Program magang wajib, sinkronisasi kurikulum, serta investasi pada laboratorium modern dan pengembangan green skills menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
STEM Dinilai Jadi Penentu Daya Saing Masa Depan
Di tengah persaingan ekonomi berbasis teknologi, pendidikan STEM dipandang sebagai kunci untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia secara optimal.
Tanpa penguatan serius di sektor ini, Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam kompetisi inovasi dan teknologi di kawasan ASEAN. Sebaliknya, jika pengembangan STEM dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dan meningkatkan daya saing di tingkat regional maupun global.
Baca Juga: 10 Kampus Terfavorit di SNBT 2025, Bekal Prediksi Hasil SNBT 2026!