Tak Mau Bergantung, Muhammadiyah Bangun Pabrik Cairan Infus Yang Siap Produksi 15 Juta Botol Infus per Tahun
Pimpinan Pusat Muhammadiyah tengah mempersiapkan pembangunan pabrik cairan infus sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan di lingkungan organisasinya. Proyek ini akan...
Pimpinan Pusat Muhammadiyah tengah mempersiapkan pembangunan pabrik cairan infus sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan di lingkungan organisasinya. Proyek ini akan dijalankan melalui entitas bisnis baru, PT Suryavena Farma Indonesia.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, menyampaikan bahwa selama ini Muhammadiyah dikenal kuat di sektor layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan, organisasi tersebut masih bergantung pada pihak eksternal.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” kata Tatat Rahmita Utami usai peluncuran PT Suryavena Farma Indonesia di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin.
Saat ini, Muhammadiyah memiliki sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut terus bertambah setiap tahun, namun belum diimbangi dengan ketersediaan industri hulu kesehatan milik sendiri.
Kondisi tersebut mendorong Muhammadiyah untuk mulai memproduksi kebutuhan medis secara mandiri. Langkah awal yang diambil adalah memproduksi cairan infus melalui merek Suryavena.
Selama dua tahun terakhir, produksi cairan infus Suryavena masih dilakukan melalui skema maklon atau kerja sama dengan pabrik pihak lain. Namun, skema ini menimbulkan sejumlah kendala, terutama terkait konsistensi pasokan.
“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” ujarnya.
Baca juga: Deretan Kampus Terbaik di Banda Aceh Versi EduRank 2026, Universitas Syiah Kuala Paling Unggul
Untuk mengatasi hal tersebut, Muhammadiyah berinisiatif membangun pabrik sendiri yang akan berlokasi di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra industri cairan infus nasional.
“Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah melalui uji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik cairan infus,” kata Tatat.
Pembangunan pabrik ditargetkan dapat dimulai dalam waktu dekat, dengan target operasional pada akhir 2027 atau awal 2028. Pendanaan proyek ini akan berasal dari kombinasi pembiayaan eksternal, termasuk perbankan dan investor.
Saat ini, studi kelayakan atau feasibility study telah dilakukan dengan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), serta didukung oleh konsultan keuangan untuk perencanaan pembiayaan.
Dari sisi produksi, pabrik ini ditargetkan mampu menghasilkan hingga 15 juta botol cairan infus per tahun. Sebanyak 13 juta botol di antaranya akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan internal Muhammadiyah, sementara sisanya berpotensi dipasarkan secara umum.
Permintaan pasar terhadap produk Suryavena disebut cukup tinggi karena menawarkan harga yang kompetitif dengan kualitas yang baik. Namun, keterbatasan kapasitas produksi saat ini masih menjadi kendala utama.
“Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,” ujarnya.