Di tengah pesatnya arus informasi yang dapat diakses dengan mudah melalui gawai, seringkali memunculkan kekhawatiran apakah hal ini dapat menggeser budaya membaca? Karena ketergantungan pada konten instan seperti video pendek yang dilakukan terus menerus dengan scrolling, dapat menyebabkan seseorang menjadi brain rot. Akibatnya, kemampuan fokus dan konsentrasi mereka menjadi menurun, sehingga cenderung malas untuk menerima informasi utuh yang didapatkan melalui membaca buku.
Adapun Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia, berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa masyarakat wilayah Indonesia Timur mendominasi posisi puncak TGM tertinggi. Secara rinci, berikut 10 Provinsi di Indonesia dengan skor TGM tertinggi pada 2025:
- Nusa Tenggara Timur (NTT): 62,05
- Nusa Tenggara Barat (NTB): 61,19
- Sumatra Selatan: 60,86
- Maluku Utara: 60,66
- Kalimantan Barat: 59,85
- Sulawesi Selatan: 59,84
- Sulawesi Tengah: 59,51
- Sumatra Barat: 59,42
- Sumatra Utara: 59,36
- Kepulauan Riau: 59,33
Angka ini diperoleh dari beberapa aspek yang dinilai untuk mengukur tingkat kegemaran membaca berdasarkan pedoman Pengukuran Pembudayaan Kegemaran Membaca Masyarakat Indonesia Perpustakaan Nasional RI. Mulai dari frekuensi membaca, durasi membaca, rata-rata jumlah halaman yang dibaca, dan frekuensi akses internet serta durasi akses internet yang digunakan untuk mencari informasi dan hiburan.
Oleh karena itu supaya budaya membaca dapat mengakar di masyarakat Indonesia, keluarga memegang peranan penting dalam menanamkan budaya literasi sejak dini. Salah satu upayanya yakni dengan mengajarkan kepada anak untuk membaca nyaring (read aloud). Karena selain manfaatnya untuk belajar membaca, hal ini juga dapat membantu membangun kedekatan emosional dengan buku dan menumbuhkan rasa cinta terhadap proses belajar itu sendiri.