Tingkat literasi dan meratanya fasilitas pendidikan di suatu daerah bisa dilihat dari seberapa banyak perpustakaan yang tersedia. Di tengah gempuran e-book versi digital yang serba praktis, buku fisik tetap memegang peranan yang fungsinya tidak bisa digeser begitu saja oleh teknologi.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, secara keseluruhan dominasi perpustakaan terakreditasi berpusat di Pulau Jawa, berikut rinciannya:
- Jawa Timur: 3.285 perpustakaan
- Jawa Tengah: 2.681 perpustakaan
- DI Yogyakarta: 1.150 perpustakaan
- Jawa Barat: 1.129 perpustakaan
- Bali: 866 perpustakaan
- Sulawesi Selatan: 796 perpustakaan
- Kepulauan Bangka Belitung: 766 perpustakaan
- DKI Jakarta: 715 perpustakaan
- Kalimantan Barat: 452 perpustakaan
- Sumatra Selatan: 410 perpustakaan
Data ini menunjukkan adanya ketimpangan jumlah perpustakaan yang terakreditasi antarwilayah di Indonesia. Hal ini menjadi pr untuk pemerintah dalam memperhatikan fasilitas literasi yang dapat diakses dengan mudah oleh seluruh kalangan masyarakat. Keunggulan buku fisik yang membuat seseorang dapat lebih fokus secara kognitif tanpa gangguan layar, membuat proses penyerapan informasi menjadi semakin berkualitas. Oleh karena itu akses terhadap buku fisik di berbagai daerah harus merata, sehingga tingkat literasi masyarakat dapat meningkat.
Kabar baiknya, jumlah perpustakaan di Indonesia terus mengalami peningkatan di beberapa tahun terakhir. Meningkatnya jumlah perpustakaan ini salah satunya dilatarbelakangi oleh pemerintah dengan menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik sebesar Rp150 miliar kepada 207 lokasi prioritas di seluruh Indonesia pada 2025. Sedangkan alokasi anggaran pada 2026 ini turun menjadi Rp125 miliar, tetapi meski demikian jumlah penerimanya semakin meningkat menjadi 272 daerah prioritas.