10 Bahasa Daerah dengan Penutur Terbanyak di Asia Tenggara – Bahasa Madura Masuk Daftar
Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang memiliki keragaman bahasa yang sangat tinggi. Banyak bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari selain bahasa nasional masing-masing...
Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang memiliki keragaman bahasa yang sangat tinggi. Banyak bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari selain bahasa nasional masing-masing negara, termasuk di Indonesia.
Bahkan, secara global Indonesia bersama dengan Papua Nugini menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah bahasa terbanyak di dunia.
Menurut data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia yang digunakan di seluruh provinsi di negeri ini. Selain Indonesia, Filipina juga memiliki sekitar 170 hingga lebih dari 180 bahasa daerah.
Negara seperti Thailand, Myanmar, dan Malaysia juga memiliki berbagai jenis bahasa daerah bahkan dialek yang khas dan berbeda satu sama lain.
Lantas, bahasa daerah apa saja yang memiliki jumlah penutur terbanyak di kawasan Asia Tenggara?
10 Bahasa Daerah dengan Penutur Terbanyak di Asia Tenggara Berdasarkan hasil riset Seasiastats, berikut adalah daftar 10 bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Asia Tenggara:
- Bahasa Jawa – 68 juta penutur
- Bahasa Sunda – 32,4 juta penutur
- Bahasa Cebu – 20 juta penutur
- Bahasa Hiligaynon/Ilonggo – 9,1 juta penutur
- Bahasa Ilocano – 8,5 juta penutur
- Bahasa Madura – 7,7 juta penutur
- Bahasa Melayu (Sumatra/Kalimantan) – 7,5 juta penutur
- Bahasa Minangkabau – 4,8 juta penutur
- Bahasa Banjar – 3,7 juta penutur
- Bahasa Bugis – 3,5 juta penutur
Dari daftar tersebut terlihat bahwa bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Asia Tenggara didominasi oleh bahasa-bahasa dari Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman bahasa terbesar di kawasan.
Hal yang menarik adalah, meskipun memiliki ratusan bahasa daerah, penduduk Indonesia juga menguasai bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan karena bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa nasional yang menyatukan seluruh wilayah Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur.
Dalam daftar tersebut, bahasa Jawa menempati peringkat pertama. Selain itu, bahasa Sunda, Madura, Melayu (Sumatra dan Kalimantan), Minangkabau, Banjar, serta Bugis juga masuk dalam 10 besar.
Penggunaan bahasa daerah dengan jumlah yang sangat banyak ini menunjukkan bahwa bahasa lokal masih tetap lestari dan digunakan secara luas oleh masyarakat di tengah arus globalisasi yang semakin pesat.
Di sisi lain, beberapa bahasa daerah asal Filipina juga termasuk dalam daftar. Hal ini membuktikan bahwa kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan memiliki komunitas penutur bahasa daerah yang besar.
Eksistensi Bahasa Daerah Ukuran jumlah penutur bahasa daerah tidak terlepas dari faktor demografi dan cakupan wilayah persebarannya. Contohnya adalah bahasa Jawa. Bahasa ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.
Selain itu, di Jawa Barat yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda, terdapat beberapa daerah yang menggunakan bahasa Jawa dengan dialek yang khas.
Dari sisi sejarah, pada masa penjajahan, banyak orang Jawa yang dipindahkan ke luar daerah asalnya untuk bekerja sebagai buruh, misalnya di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan daerah lainnya.
Para buruh ini bekerja di kawasan perkebunan bersama dengan pekerja yang diangkut oleh Pemerintah Hindia Belanda dari Tiongkok. Hal tersebut menyebabkan penyebaran bahasa Jawa semakin luas.
Belum lagi dengan adanya program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan, yang membawa masyarakat Jawa ke berbagai provinsi di luar Jawa, sehingga penggunaan bahasa Jawa tidak lagi terbatas hanya di pulau Jawa.
Fenomena yang sama juga terjadi pada bahasa daerah lainnya, seperti bahasa Sunda yang banyak digunakan di Jawa Barat dan sekitarnya, serta bahasa Madura yang digunakan di Pulau Madura dan sebagian wilayah pesisir Jawa Timur.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat