Lulusan Unesa Raih IPK 4,0 Lewat Inovasi EDU-GEOLOCI untuk Atasi Trauma Matematika Siswa SD
Lulusan S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Annas Solihin, berhasil meraih IPK sempurna 4,0 berkat tesis inovatif bertajuk “EDU-GEOLOCI”. Riset tersebut menghadirkan media...
Lulusan S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Annas Solihin, berhasil meraih IPK sempurna 4,0 berkat tesis inovatif bertajuk “EDU-GEOLOCI”. Riset tersebut menghadirkan media pembelajaran berbasis digital untuk menjawab tantangan rendahnya kemampuan spasial serta tingginya tingkat kecemasan matematika pada siswa Sekolah Dasar (SD).
Table Of Content
Atas capaian akademiknya, Annas dinobatkan sebagai lulusan terbaik dan berkesempatan melanjutkan studi doktoral (S3) melalui jalur fast track. Keberhasilannya menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan berbasis riset lokal mampu memberi dampak nyata bagi pembelajaran di sekolah dasar.
Pembelajaran Berteknologi 3D Tingkatkan Kemampuan Spasial
EDU-GEOLOCI merupakan platform digital berbasis teknologi 3D yang memadukan materi geometri, nilai-nilai Islam, serta kepedulian terhadap lingkungan. Platform ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan berhitung, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan ekologis siswa melalui visualisasi ruang yang interaktif.
Pendekatan yang diterapkan berupa pembelajaran lokus berbasis web. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir spasial siswa sekolah dasar. Dengan fitur interaktif dan suasana belajar yang menyenangkan, matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang dihindari.
Melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, siswa diajak memahami konsep geometri sekaligus menumbuhkan nilai karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Berangkat dari Kepedulian Emosional Siswa
Motivasi Annas dalam mengembangkan media pembelajaran ini berawal dari pengalamannya sebagai Pembina Pramuka. Ia menyaksikan langsung bagaimana sebagian siswa mudah menyerah saat berhadapan dengan matematika.
Menurutnya, pendidikan berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan materi dan teknologi, tetapi juga harus memahami kondisi emosional siswa.
“Jika anak merasa takut, ilmu spanduk apapun sulit masuk. Saya ingin guru-guru memiliki alat yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat secara nilai, agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas sekaligus bijak terhadap lingkungan,” jelasnya, dikutip dari laman resmi Unesa, Selasa (24/2/2026).
Selain menghadirkan media pembelajaran inovatif, Annas juga mengembangkan instrumen pengukuran kecemasan matematika yang telah divalidasi secara lokal. Ia memodifikasi Mathematics Anxiety Rating Scale (MARS) melalui analisis psikometri agar sesuai dengan konteks budaya siswa sekolah dasar di Indonesia.
“Selama ini kita sering menggunakan instrumen luar negeri yang mungkin kurang relevan. Dengan instrumen yang telah divalidasi secara lokal ini, guru dapat mengukur tingkat kecemasan matematika siswa secara lebih akurat sebelum menentukan langkah intervensi,” tutur Annas.
Studi tersebut bahkan berhasil menembus publikasi jurnal internasional terindeks Scopus Q1, memperkuat kontribusi riset ini pada level global.
Kontribusi terhadap Pendidikan Berkualitas dan SDGs
Inovasi EDU-GEOLOCI dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Annas meyakini bahwa transformasi pendidikan dasar di Indonesia dapat terwujud dalam waktu dekat apabila inovasi berbasis riset lokal terus dikembangkan. Ia optimistis bahwa pendekatan yang memadukan teknologi, nilai, dan konteks budaya mampu melahirkan generasi emas yang unggul serta kompetitif di tingkat internasional.
Keberhasilan ini menjadi contoh bahwa pendidikan dasar dapat bertransformasi melalui kreativitas, kepedulian, dan riset yang relevan dengan kebutuhan siswa Indonesia.