TPT Jawa Barat 6,61%, Lulusan SMK Masih Jadi Kelompok Pengangguran Tertinggi
Kelompok lulusan SMK memiliki TPT tertinggi di Jawa Barat Mei 2026, mencapai 10,64%.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kondisi pasar kerja di suatu wilayah. Indikator ini menggambarkan persentase angkatan kerja yang belum memiliki pekerjaan, tetapi masih tersedia dan aktif mencari pekerjaan.
Table Of Content
Di Jawa Barat, kondisi pengangguran pada Mei 2026 tercatat sedikit membaik. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, TPT provinsi tersebut berada di angka 6,61%. Angka ini turun tipis sebesar 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Meski secara umum mengalami penurunan, tingkat pengangguran masih menunjukkan perbedaan yang cukup besar jika dilihat berdasarkan pendidikan terakhir yang ditamatkan.
Baca Juga: Survei BPS 2025: Gen Z jadi Kelompok Usia dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi
SMK Catat TPT Paling Tinggi
Kelompok lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatatkan TPT tertinggi di Jawa Barat pada Mei 2026. Persentasenya mencapai 10,64%, atau sekitar 4,03 poin persentase di atas rata-rata TPT Jawa Barat.
Namun, angka tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan dibandingkan Februari 2026. TPT lulusan SMK turun 0,32 poin persentase, memberikan sedikit gambaran positif di tengah masih tingginya tingkat pengangguran kelompok pendidikan vokasi.
Setelah SMK, lulusan SMA memiliki TPT sebesar 8,55%. Berikutnya terdapat lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 dengan 7,01% dan lulusan SMP sebesar 5,69%.
Adapun kelompok Diploma I/II/III mencatat TPT sebesar 5,09%. Sementara itu, penduduk dengan pendidikan SD ke bawah justru memiliki tingkat pengangguran paling rendah, yakni 3,94%.
Ketidaksesuaian Kompetensi Jadi Tantangan
Tingginya TPT di kalangan lulusan SMK menunjukkan masih adanya tantangan dalam menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Lulusan SMK pada dasarnya dipersiapkan untuk memiliki keterampilan yang lebih spesifik dan siap memasuki dunia kerja, tetapi kebutuhan industri yang terus berubah membuat kompetensi tersebut perlu terus disesuaikan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun berupaya memperkuat keterhubungan antara sekolah vokasi dan dunia industri melalui pengembangan teaching factory. Konsep ini diarahkan agar pembelajaran di SMK semakin mendekati kebutuhan dan kondisi nyata di dunia kerja.
Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kawasan industri dan ekonomi di Jawa Barat, termasuk koridor industri baru di wilayah utara Jawa Barat atau Rebana serta kawasan industri kreatif dan pariwisata Lido.
Upaya tersebut melibatkan sejumlah instansi, termasuk Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.
TPT SMK Menurun, tetapi Tantangan Belum Usai
Penurunan TPT lulusan SMK pada Mei 2026 menjadi perkembangan yang cukup positif. Namun, dengan angka yang masih mencapai 10,64%, kelompok ini tetap menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian dalam upaya memperbaiki kondisi ketenagakerjaan Jawa Barat.
Penguatan pendidikan vokasi, peningkatan relevansi keterampilan, serta kerja sama yang lebih erat antara sekolah dan industri menjadi penting agar lulusan SMK tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar kerja.
Dengan demikian, perbaikan TPT tidak hanya bergantung pada jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia, tetapi juga pada seberapa baik pendidikan mampu mempersiapkan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Baca Juga: Melihat Tren Angka Pengangguran di Indonesia 1 Dekade Terakhir