Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo
Yuda Agustian berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan IPK 3,94.
Wisuda ke-101 UIN Walisongo Semarang pada Sabtu (22/8/2026) menjadi momen istimewa bagi Yuda Agustian. Lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) itu berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.
Table Of Content
Di balik capaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah. Berasal dari pelosok Tasikmalaya, Jawa Barat, Yuda harus merantau sekaligus berjuang mandiri untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh lepas dan petani.
Keterbatasan ekonomi tidak membuat Yuda mengurungkan niat untuk menempuh pendidikan tinggi. Justru, kondisi tersebut menjadi alasan baginya untuk terus mencari jalan agar dapat bertahan dan menyelesaikan studinya.
Baca Juga: Putra Bali Raih IPK 4,00, Lulus Doktor UGM dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan
Sempat Berhenti Kuliah demi Mengumpulkan Modal
Perjalanan Yuda sebagai mahasiswa tidak selalu berjalan mulus. Pada semester awal, ia bahkan harus mengambil cuti kuliah selama satu semester.
Keputusan tersebut diambil bukan karena kehilangan semangat belajar, melainkan karena ia perlu bekerja penuh waktu di toko ritel Alfamart. Penghasilan dari pekerjaan itu digunakan untuk mengumpulkan modal agar dirinya dapat kembali melanjutkan kuliah di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Bagi Yuda, bekerja sambil kuliah bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan.
“Bagi saya, keterbatasan bukan penghalang untuk berkembang, melainkan ruang belajar yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh.”
Menurutnya, gelar yang kini diraih merupakan hasil dari berbagai pekerjaan yang ia jalani selama menempuh pendidikan, termasuk perjuangan melewati malam-malam ketika ia harus memilih antara beristirahat atau kembali bekerja.
Menjalani Beragam Pekerjaan demi Bertahan Kuliah
Setelah kembali menjalani perkuliahan, perjuangan Yuda belum berakhir. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan, ia menjalani berbagai pekerjaan paruh waktu.
Ia pernah menjadi instruktur Pramuka di SDN Wonosari 03 selama sekitar 2,5 tahun. Selain itu, Yuda juga bekerja sebagai barista kedai kopi, tentor bimbingan belajar di Yayasan Binterbusih, kurir antar-jemput, hingga membantu membersihkan rumah dosen.
Beragam pekerjaan tersebut ia jalani di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa. Bagi Yuda, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama dapat membantunya bertahan dan melanjutkan pendidikan.
Kegigihan tersebut juga mendapat perhatian dari Syaiful Bakhri, salah satu dosennya. Melihat kondisi dan semangat Yuda, ia memberikan bantuan beasiswa UKT selama empat semester. Dukungan tersebut menjadi salah satu hal yang membantu Yuda menyelesaikan pendidikannya.
Tak Hanya Bertahan, Yuda Tetap Mengejar Prestasi
Kesibukan bekerja tidak membuat Yuda berhenti berprestasi. Di sela aktivitasnya, ia tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan dan mengembangkan dirinya.
Pada 2024, Yuda berhasil meraih juara ketiga dalam Lomba Video Kreatif Nasional Perpustakaan UIN Walisongo. Ia juga pernah menjadi Duta Hukum dan HAM Jawa Barat serta aktif dalam berbagai kegiatan sebagai volunteer.
Perjalanan akademiknya akhirnya ditutup dengan skripsi berjudul “Transformational Leadership and Quality Culture Formation at Miftahul Akhlaqiyah Islamic Elementary School Semarang”.
Kerja keras bertahun-tahun itu kemudian terbayar saat Yuda dinobatkan sebagai lulusan terbaik FTIK dengan IPK 3,94.
Ingin Melanjutkan Pendidikan ke Jenjang S2
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Yuda dapat bernapas lebih lega. Namun, perjalanan pendidikannya belum ingin ia akhiri.
Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Bagi Yuda, pendidikan bukan sekadar cara untuk memperoleh gelar, tetapi juga jalan untuk mengubah kondisi kehidupan dan membangun masa depan yang lebih baik.
Perjalanan Yuda menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cita-cita. Dengan kerja keras, kemauan untuk bertahan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya, ia berhasil melewati berbagai tantangan hingga berdiri sebagai salah satu lulusan terbaik.
Di akhir kisahnya, Yuda menyampaikan pesan sederhana bagi mereka yang sedang menghadapi keadaan sulit: jangan mudah menyerah. Menurutnya, setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar selama seseorang terus berusaha dan tidak berhenti berdoa.