Tenaga Kerja Indonesia Masih Didominasi Lulusan SD
Sebanyak 34,63% dari total pekerja di Indonesia merupakan lulusan SD ke bawah.
Komposisi tenaga kerja Indonesia sepanjang 2025 masih didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan dasar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus dan November 2025 menunjukkan bahwa lulusan SD ke bawah tetap menjadi kelompok terbesar dalam struktur penduduk bekerja, sementara tenaga kerja berpendidikan tinggi masih memiliki porsi yang relatif kecil.
Baca Juga: 38,9 Juta Pekerja Digaji di Bawah UMK, Terbanyak Lulusan SMA
Proporsi Tenaga Kerja Indonesia
Pada November 2025, proporsi pekerja lulusan SD ke bawah tercatat sebesar 34,63%, sedikit menurun dibanding Agustus 2025 yang mencapai 34,75%. Dengan kata lain, lebih dari sepertiga tenaga kerja Indonesia masih berasal dari kelompok pendidikan dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kerja nasional masih banyak ditopang sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah, terutama di sektor informal dan padat karya.
Di sisi lain, lulusan SMA menempati posisi kedua dengan proporsi 20,99% pada November 2025, turun tipis dari 21,19% pada Agustus. Sementara itu, lulusan SMP justru mengalami kenaikan kecil dari 17,11% menjadi 17,31%, menandakan adanya perubahan tipis pada komposisi tenaga kerja tingkat menengah pertama.
Porsi lulusan SMK juga meningkat, dari 13,89% pada Agustus menjadi 14,06% pada November 2025. Kenaikan ini mencerminkan semakin besarnya kontribusi tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan vokasi dalam dunia kerja.
Untuk kelompok pendidikan tinggi, lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 tercatat sebesar 10,81%, relatif stabil dibanding Agustus 2025 yang sebesar 10,84%. Adapun lulusan Diploma I/II/III berada di angka 2,20%, sedikit turun dari 2,22%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pekerja berpendidikan tinggi masih berada di kisaran satu dari sepuluh tenaga kerja di Indonesia.
Kenapa Lulusan SD Mendominasi?
Dominasi lulusan SD ke bawah tidak lepas dari faktor demografi dan sejarah pendidikan di Indonesia. Sebagian besar kelompok usia kerja saat ini berasal dari generasi yang pada masanya memiliki akses pendidikan lebih terbatas dibanding sekarang, terutama di wilayah pedesaan. Selain itu, banyak pekerja di sektor informal yang mengandalkan pengalaman kerja dan keterampilan praktis dibanding ijazah formal, sehingga pendidikan dasar sudah dianggap cukup untuk masuk ke dunia kerja.
Sementara itu, kecilnya proporsi lulusan perguruan tinggi mengindikasikan bahwa transformasi struktur tenaga kerja menuju ekonomi berbasis keahlian masih berlangsung secara bertahap. Di satu sisi, akses pendidikan tinggi memang terus meningkat, tetapi di sisi lain pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor-sektor dengan produktivitas rendah yang belum sepenuhnya membutuhkan tenaga kerja berpendidikan tinggi.
Baca Juga: Jakarta Jadi Provinsi dengan Perempuan Paling Lama Sekolah pada 2025