Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Antasyafi Robby Al-Hilmi, berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang World Climbing Series (WCS) 2026. Atlet panjat tebing asal Gresik tersebut meraih medali emas nomor Speed Individual Men dalam seri kelima WCS yang berlangsung di Guiyang, China, pada 11 hingga 13 September 2026.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting dalam karier Robby karena merupakan medali emas internasional pertama yang berhasil diraihnya sepanjang mengikuti kompetisi tingkat dunia.
Dalam babak final, Robby tampil impresif dengan mencatatkan waktu 4,65 detik. Catatan tersebut membuatnya mengungguli atlet tuan rumah China serta perwakilan Jepang yang menjadi pesaingnya di partai penentuan.
Perjalanan Panjang Sebelum Naik Podium Tertinggi
Perjalanan menuju podium tertinggi tidak berjalan mudah bagi Robby. Sebelum tampil di China, ia sempat menghadapi ketidakpastian terkait keberangkatan menuju kompetisi. Namun, setelah mendapatkan kepastian dukungan dari pemerintah beberapa minggu sebelum pertandingan, ia dapat kembali fokus mempersiapkan diri.
Sebelumnya, Robby telah menjalani rangkaian kompetisi di Eropa pada Juli 2026. Ia berhasil meraih medali perak pada nomor Mixed Relay di Polandia serta kembali memperoleh medali perak nomor Individual Speed di Chamonix, Prancis.
Selain mengikuti kompetisi internasional, Robby juga dipercaya menjadi sparring partner bagi tim nasional panjat tebing yang dipersiapkan menghadapi ASEAN Games. Ia juga menjalani rangkaian WCS untuk mengumpulkan poin dunia.
Transformasi Mental Jadi Faktor Penting Kesuksesan
Keberhasilan Robby di Guiyang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik dan teknik, tetapi juga perubahan cara berpikir yang ia lakukan sebagai seorang atlet.
Dalam beberapa kompetisi sebelumnya, Robby mengaku sering mengalami tekanan ketika memasuki babak perebutan emas. Keinginan besar untuk membuktikan kemampuan sebagai atlet muda justru membuatnya kehilangan fokus terhadap proses yang telah dijalani.
Melalui diskusi bersama psikolog olahraga, rekan sesama atlet, serta para senior di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Robby mulai belajar mengelola ekspektasi dan menikmati setiap pertandingan tanpa terbebani hasil akhir.
Saat bertanding di Guiyang, ia tidak lagi memasang target berlebihan. Fokusnya hanya memberikan penampilan terbaik untuk Indonesia. Perubahan pola pikir tersebut akhirnya membawanya meraih kemenangan pertama dalam ajang internasional.
Tetap Fokus Hadapi Tantangan Berikutnya
Meski berhasil menjadi juara, Robby memilih untuk tidak terlalu lama merayakan pencapaiannya. Ia langsung mengalihkan perhatian ke seri berikutnya di Chongqing yang berlangsung pada 18 hingga 20 September 2026.
Bagi Robby, kemenangan di Guiyang merupakan bagian dari perjalanan panjang. Ia menyadari bahwa setiap kompetisi baru akan dimulai dari awal dan setiap atlet memiliki peluang yang sama untuk kembali bersaing.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kesiapan mental memiliki peran besar dalam dunia olahraga prestasi. Bagi Robby, emas di World Climbing Series bukan hanya hasil dari latihan fisik, tetapi juga perjalanan dalam membangun kepercayaan diri dan mengendalikan tekanan sebagai atlet profesional.
Baca Juga: 20 PTN Paling Diburu di SNBP 2026, Kampus Mana yang Jadi Favorit Siswa?


Komentar Pengunjung (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!