Bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) selama ini menjadi salah satu sektor yang mendapatkan perhatian besar dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Namun, kajian terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa peningkatan pasokan lulusan STEM belum sepenuhnya diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang seimbang.
Kajian berjudul “Pasokan Digenjot, Penyerapan Tertinggal: Bukti Kohort Pasca Pandemi untuk Kebijakan Talenta STEM” yang disusun oleh Prota Nurmalia Kusumawardhani dan Anya Ariella Br Tampubolon mengungkapkan bahwa peluang kerja lulusan STEM mengalami penurunan dibandingkan beberapa bidang studi lain, khususnya setelah pandemi.
Dalam penelitian tersebut, salah satu sumber data yang digunakan adalah penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang dalam beberapa tahun terakhir memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan talenta STEM.
Pada 2025, porsi penerima beasiswa LPDP untuk bidang STEM mencapai sekitar 66 hingga 69 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 74 persen pada 2026, dengan target minimal mencapai 80 persen.
Namun, peningkatan dukungan terhadap pendidikan STEM belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kondisi pasar kerja. LPEM FEB UI menemukan adanya pelebaran kesenjangan peluang kerja antara lulusan STEM dan bidang studi pembanding, dengan kesenjangan terbesar terjadi pada angkatan lulusan 2023 sebesar 12,4 poin persentase.
Peluang Masuk Pekerjaan Formal Lulusan STEM Menurun
Dalam kajiannya, LPEM FEB UI juga melihat peluang lulusan STEM untuk memperoleh pekerjaan formal dibandingkan lulusan bidang pendidikan. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan posisi lulusan STEM dalam pasar kerja formal.
Kesenjangan peluang pekerjaan formal tercatat sebesar 7,2 poin persentase pada lulusan angkatan 2021. Angka tersebut meningkat menjadi 9,6 poin pada lulusan 2022 dan berada di angka 7,6 poin pada lulusan 2023.
Meski mengalami perubahan antarangkatan, laporan tersebut menyebutkan bahwa tidak ada kelompok bidang studi lain yang mengalami penurunan status pekerjaan formal sebesar lulusan STEM dalam periode yang diamati.
Tekanan terhadap lulusan STEM juga tidak selalu muncul dalam bentuk pengangguran terbuka. Sebagian lulusan tetap mendapatkan pekerjaan, tetapi menghadapi kondisi seperti bekerja di sektor informal, menerima pendapatan lebih rendah, atau mendapatkan pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang pendidikan.
Kondisi Awal Karier Dapat Berdampak Jangka Panjang
LPEM FEB UI menyoroti bahwa tantangan pada masa awal memasuki dunia kerja dapat memberikan dampak yang panjang bagi perjalanan karier seseorang.
Kajian tersebut mengutip penelitian Oreopoulos, von Wachter, dan Heisz (2012) yang menemukan bahwa lulusan perguruan tinggi Kanada yang memasuki pasar kerja saat periode resesi mengalami penurunan pendapatan pada awal karier. Pemulihan kondisi tersebut membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sepuluh tahun.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi ketika seseorang pertama kali memasuki dunia kerja dapat memengaruhi perkembangan karier dalam jangka panjang.
Analisis Menggunakan Data Puluhan Ribu Lulusan S1 dan D4
Dalam menyusun kajian ini, peneliti menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS periode Agustus 2022 hingga 2024 yang digabungkan sebagai pooled cross-section.
Data tersebut mencakup 43.151 lulusan jenjang S1 dan D4 yang sedang bekerja maupun mencari pekerjaan.
Lulusan bidang pendidikan digunakan sebagai kelompok pembanding karena memiliki jumlah sampel terbesar sekaligus mencatat tingkat bekerja dan pekerjaan formal tertinggi dibandingkan enam kelompok bidang studi lainnya.
Kebijakan STEM Tetap Penting dengan Evaluasi Pasar Kerja
LPEM FEB UI menegaskan bahwa hasil kajian ini bukan menjadi alasan untuk mengurangi perhatian terhadap pengembangan bidang STEM. Sebaliknya, penguatan pendidikan STEM perlu diiringi dengan pemantauan terhadap kebutuhan industri dan perkembangan pasar kerja.
Peningkatan jumlah lulusan STEM perlu berjalan bersama dengan strategi penyerapan tenaga kerja agar investasi dalam pengembangan talenta dapat memberikan dampak yang optimal bagi lulusan maupun perekonomian nasional.
Baca Juga: BPK Penabur Dominasi OSN SMA 2026, Sekolah Swasta Kuasai Daftar Peringkat Teratas


Komentar Pengunjung (3)
g
.
nice