Memiliki perjalanan pendidikan yang hampir selalu berjalan beriringan, Durinda Puspasari dan Durinta Puspasari berhasil mencatatkan pencapaian akademik yang unik. Saudara kembar asal Malang tersebut sama-sama menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3) di Program Doktor Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (UM).
Kekompakan keduanya tidak hanya terlihat saat menyelesaikan pendidikan doktoral. Sejak jenjang sarjana hingga magister, Durinda dan Durinta juga memilih bidang studi yang sama. Keduanya merupakan lulusan S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, kemudian melanjutkan S2 Pendidikan Ekonomi, hingga akhirnya meraih gelar doktor di bidang Pendidikan Ekonomi UM.
Setelah menyelesaikan pendidikan tertingginya, keduanya juga menjalani profesi yang sama sebagai dosen di Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Melanjutkan S3 untuk Mengembangkan Kapasitas sebagai Pendidik
Bagi Durinda dan Durinta, keputusan melanjutkan pendidikan doktoral bukan hanya sekadar mengejar gelar akademik. Sebagai dosen, keduanya melihat pendidikan S3 sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang pengajaran maupun penelitian.
Menariknya, perjalanan S3 tersebut tidak direncanakan sejak awal untuk ditempuh bersama. Keduanya memiliki dorongan masing-masing untuk meningkatkan kompetensi dan memilih melanjutkan pendidikan sebagai bagian dari pengembangan diri.
Selama menjalani proses studi, menjaga motivasi dan kesehatan mental menjadi hal penting bagi keduanya. Dukungan keluarga, teman, serta sikap positif turut membantu mereka melewati berbagai tantangan selama menyelesaikan pendidikan doktoral.
Saling Mendukung dalam Proses Penelitian dan Disertasi
Menjalani pendidikan di tempat dan waktu yang sama memberikan keuntungan tersendiri bagi Durinda dan Durinta. Hubungan sebagai saudara kembar membuat keduanya memiliki ruang diskusi yang lebih dekat selama proses perkuliahan.
Saat menghadapi tantangan dalam penelitian maupun penyusunan disertasi, keduanya saling bertukar ide, memberikan masukan, serta menjadi penyemangat satu sama lain. Meskipun memiliki topik penelitian yang berbeda, keduanya tetap dapat berdiskusi mengenai berbagai hal selama proses akademik berlangsung.
Dua Disertasi dengan Fokus Berbeda di Era Digital
Walaupun menempuh program studi yang sama, Durinda dan Durinta mengangkat tema penelitian yang berbeda dalam disertasinya.
Durinta meneliti mengenai intensi berwirausaha mahasiswa dengan memasukkan literasi digital sebagai variabel yang memengaruhi proses terbentuknya minat tersebut. Dalam penelitiannya, ia menyoroti bahwa pendidikan kewirausahaan dapat diperkuat melalui pendekatan seperti pembelajaran berbasis proyek, inkubasi bisnis mahasiswa, serta pemanfaatan platform digital sebagai sarana praktik.
Sementara itu, Durinda mengangkat penelitian mengenai perilaku belajar mahasiswa di era digital. Ia mengembangkan model yang melihat keterkaitan antara pengaruh sosial, literasi digital, motivasi belajar, dan keyakinan terhadap kemampuan diri dalam membentuk perilaku belajar mahasiswa.
Keduanya melihat bahwa gelar doktor bukan menjadi akhir dari perjalanan akademik, melainkan menjadi langkah baru untuk memberikan kontribusi melalui bidang pendidikan dan penelitian.
Bagi Durinda dan Durinta, menempuh pendidikan doktoral bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik tertinggi, tetapi juga membangun visi untuk memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswa Unesa Raih Emas World Climbing Series 2026, Kunci Sukses Lewat Perubahan Mental


Komentar Pengunjung (1)
.