Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi dapat datang pada fase kehidupan yang berbeda. Hal ini dibuktikan oleh Ainun, seorang guru penyandang disabilitas netra yang berhasil meraih gelar magister Pendidikan Khusus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sekitar dua dekade setelah menuntaskan pendidikan sarjananya.
Perjalanan akademik Ainun tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga memperlihatkan pentingnya akses pendidikan dan teknologi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Di tengah kesibukannya sebagai tenaga pendidik, ia tetap berupaya mengembangkan pengetahuan dan kompetensi sesuai bidang profesinya.
Kembali Kuliah setelah 20 Tahun Mengajar
Ainun mengawali kariernya sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) setelah menyelesaikan pendidikan S1. Selama kurang lebih 20 tahun, ia mengabdikan diri dalam dunia pendidikan sembari menunggu kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Kesempatan tersebut akhirnya datang ketika ia dapat mengikuti program magister Pendidikan Khusus di UPI, kampus yang sebelumnya juga menjadi tempatnya menempuh pendidikan sarjana.
Keputusan mengambil program studi tersebut didasari keinginannya untuk memperdalam ilmu yang berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari. Melalui pendidikan magister, Ainun berharap dapat meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Teknologi Membantu Perkuliahan Lebih Mandiri
Pengalaman menempuh pendidikan magister memberikan suasana belajar yang berbeda dibandingkan ketika Ainun masih menjadi mahasiswa sarjana sekitar 20 tahun sebelumnya.
Pada masa kuliah S1, keterbatasan teknologi pendukung membuatnya masih banyak mengandalkan bantuan orang lain untuk membacakan materi pembelajaran. Kondisi tersebut berubah seiring berkembangnya perangkat dan aplikasi yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas netra.
Kini, Ainun dapat memanfaatkan laptop yang dilengkapi NonVisual Desktop Access (NVDA), sebuah perangkat lunak pembaca layar. Teknologi tersebut memungkinkannya membaca materi digital, mengetik, hingga menyelesaikan tugas perkuliahan secara lebih mandiri.
Dalam menjalani pendidikan magister, Ainun mengikuti kelas kerja sama dengan sistem blended learning atau pembelajaran campuran. Sebagian besar kegiatan akademik berlangsung secara daring, sementara pertemuan tatap muka di kampus hanya dilakukan beberapa kali dalam satu semester.
Meski demikian, kembali ke lingkungan kampus tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Perubahan tata ruang dan bertambahnya bangunan bertingkat di UPI membuat Ainun harus menyesuaikan kembali kemampuan orientasi dan mobilitasnya.
Lingkungan kampus yang dahulu telah dikenalnya dengan baik ketika menempuh S1 kini memerlukan proses adaptasi baru.
Dorong Pendidikan yang Lebih Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Bagi Ainun, keberhasilan menyelesaikan pendidikan magister juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya akses pendidikan yang setara.
Sebagai guru SLB, ia masih menjumpai pandangan negatif terhadap penyandang disabilitas. Menurutnya, stigma yang menempatkan penyandang disabilitas pada posisi berbeda dari masyarakat nondisabilitas dapat menghambat kesempatan mereka untuk berkembang.
Ia meyakini bahwa penyandang disabilitas memiliki beragam kemampuan yang dapat diasah apabila mendapatkan dukungan, pendidikan, dan akses terhadap teknologi yang memadai.
Ainun pun mendorong sesama penyandang disabilitas untuk terus belajar, termasuk meningkatkan penguasaan teknologi informasi agar dapat mengikuti perkembangan zaman.
Pesan serupa juga ditujukan kepada para orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas. Ia berharap keluarga tidak merasa berkecil hati, melainkan terus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensi dan keterampilannya.
Kisah Ainun menunjukkan bahwa pendidikan tidak memiliki batas usia. Lebih dari sekadar pencapaian gelar akademik, perjalanannya menjadi pengingat bahwa lingkungan belajar yang inklusif dan dukungan teknologi dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan serta berkontribusi dalam masyarakat.

Komentar Pengunjung (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!