Manajemen hingga Hukum, Ini Bidang Studi dengan Proporsi Penganggur S1 Terbesar
Dari sejumlah bidang studi, Manajemen menempati posisi teratas dengan proporsi sebesar 10,3% dari total penganggur berpendidikan minimal S1.
Pendidikan tinggi sering dianggap sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan peluang seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Gelar sarjana tidak hanya diharapkan menjadi bukti pendidikan formal, tetapi juga menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan memiliki prospek pendapatan yang lebih tinggi.
Table Of Content
Namun, meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi perlu diikuti dengan ketersediaan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi. Ketika pertumbuhan jumlah lulusan tidak sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan pasar kerja, sebagian lulusan pun masih menghadapi risiko menganggur.
Gambaran tersebut terlihat dalam Labor Market Brief Juli 2026 yang diterbitkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Dengan menggunakan data Sakernas Agustus 2025, laporan tersebut mengidentifikasi bidang studi yang memiliki proporsi besar di antara penganggur berpendidikan minimal S1 di Indonesia.
Baca Juga: Survei BPS 2025: Gen Z jadi Kelompok Usia dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi
Manajemen Memiliki Proporsi Terbesar
Dari sejumlah bidang studi yang tercatat, Manajemen menempati posisi teratas dengan proporsi sebesar 10,3% dari total penganggur berpendidikan minimal S1.
Selanjutnya, terdapat Hukum dengan proporsi 9,0%, disusul Ekonomi sebesar 8,7%. Sementara itu, bidang studi Pendidikan menyumbang 7,1% dan Akuntansi sebesar 5,1%.
Jika kelima bidang studi tersebut digabungkan, proporsinya mencapai sekitar 40% dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1.
Meski demikian, tingginya proporsi tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa lulusan dari bidang studi tersebut lebih sulit mendapatkan pekerjaan. Menurut LPEM FEB UI, besarnya jumlah penganggur dari suatu bidang studi juga dapat dipengaruhi oleh jumlah lulusan dan luasnya cakupan bidang studi tersebut di pendidikan tinggi.
Banyak Lulusan, Persaingan Kerja Makin Besar
Manajemen menjadi salah satu contoh bidang studi dengan cakupan yang luas. Kompetensinya dapat diterapkan pada berbagai pekerjaan, seperti administrasi, pemasaran, sumber daya manusia, hingga pengelolaan bisnis. Di sisi lain, program studi Manajemen juga tersedia di banyak perguruan tinggi sehingga jumlah lulusannya relatif besar.
Selain lima bidang studi dengan proporsi terbesar, Informatika juga masuk dalam daftar bidang studi dengan kontribusi cukup besar terhadap pengangguran lulusan S1, yakni sebesar 4,6%.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh bidang studi yang dipilih. Jumlah lulusan, karakteristik program studi, serta kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Menjembatani Pendidikan dan Kebutuhan Dunia Kerja
Besarnya jumlah lulusan perguruan tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi. Karena itu, keterkaitan antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan dunia kerja menjadi semakin penting.
Peningkatan keterampilan yang relevan, penguatan kompetensi praktis, serta ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dapat membantu memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan pasar kerja. Dengan demikian, gelar sarjana tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga dapat menjadi bekal yang benar-benar relevan bagi perjalanan lulusan memasuki dunia kerja.
Baca Juga: Melihat Tren Angka Pengangguran di Indonesia 1 Dekade Terakhir