Sempat Ditentang Orangtua, Anak Guru Ngaji dari Bantul Ini Tembus Beasiswa LPDP hingga Doktor di Belanda
Ahmad Rif’an Khoirul Lisan merupakan sosok inspiratif yang berasal dari keluarga sederhana di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagai anak seorang guru ngaji, perjalanan akademiknya...
Ahmad Rif’an Khoirul Lisan merupakan sosok inspiratif yang berasal dari keluarga sederhana di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagai anak seorang guru ngaji, perjalanan akademiknya tidak dimulai dengan kemudahan. Namun, kegigihan dan tekad kuat membawanya menembus berbagai keterbatasan hingga menempuh studi doktoral di luar negeri.
Awal Perjalanan Akademik dan Tantangan Keluarga
Perjalanan pendidikan Ri’fan dimulai saat ia diterima di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012. Keputusan tersebut tidak langsung mendapat dukungan dari sang ayah.
Penolakan itu dilatarbelakangi kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Dengan enam adik yang masih kecil, ayahnya merasa pendidikan tinggi bukan prioritas yang bisa dipaksakan.
Meski demikian, Ri’fan tetap berpegang pada keyakinannya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki kondisi keluarga dan masa depan adik-adiknya.
Bertahan Hidup sebagai Mahasiswa
Pada masa awal kuliah, Ri’fan menghadapi tantangan finansial yang tidak ringan. Ia kemudian berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang menjadi penopang utama kehidupannya selama kuliah.
Selain itu, ia aktif dalam berbagai organisasi kampus. Aktivitas ini bukan hanya menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga strategi bertahan hidup.
“Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,”kenangnya dalam laman UGM dikutip Jumat (13/3/2026).
Dalam kondisi tertentu, ia harus sangat berhemat. Dengan uang sekitar Rp4.000, ia hanya mampu membeli nasi, sayur, dan satu gorengan untuk makan.
Menggapai Beasiswa LPDP ke Amerika Serikat
Memasuki semester akhir, Ri’fan menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Pengalaman ini membantunya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara signifikan.
Dengan skor TOEFL 570, ia berhasil meraih beasiswa dari LPDP dan melanjutkan studi ke Arizona State University.
Selama menempuh studi di Amerika Serikat, Ri’fan tetap menjalani hidup sederhana. Ia sering memasak sendiri dan memanfaatkan fasilitas food bank yang tersedia di kampus.
Pandemi COVID-19 sempat mengganggu proses studinya. Setelah 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magisternya hingga lulus pada tahun 2020.
Karier Profesional dan Dedikasi Akademik
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Ri’fan sempat bekerja di Bappenas. Pengalaman ini memperluas wawasan dan kontribusinya dalam pembangunan nasional.
Ia kemudian berkarier sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, sekaligus melanjutkan kiprahnya di dunia akademik.
Baca juga: Dulu Menyadap Karet untuk Biaya Kuliah, Kini Prof Kuswanto Jadi Guru Besar
Melanjutkan Studi Doktoral di Belanda

Semangat belajar Ri’fan tidak berhenti. Pada tahun 2024, ia kembali mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research.
Fokus penelitiannya adalah pengelolaan sumber daya air dan pertanian, bidang yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara agraris.
Bagi Ri’fan, pendidikan bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga sarana untuk memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
“Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare-Tuhan tidak pernah tidur,” kata Rif’an.
Kini, ia tengah menyelesaikan studi doktoralnya di salah satu kampus riset pertanian terkemuka di Eropa, dengan harapan dapat kembali dan berkontribusi bagi sektor pertanian di Indonesia.