Dihina Karena Cadel dan Bukan Orang Jawa, Mahasiswa Tionghoa ITS Malah Jadi Dalang Muda yang Bisa Tiga Bahasa
“Saya sempat berhenti mendalang, tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” kata Christopher Jason Santoso, dikutip dari laman...
“Saya sempat berhenti mendalang, tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” kata Christopher Jason Santoso, dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Christopher menceritakan pengalamannya ketika harus menjauh dari hobinya yaitu mendalang.
Mahasiswa Program S1 Studi Pembangunan ITS ini merupakan seorang dalang muda. Kisahnya menjadi menarik karena ia tidak berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang dalang, dan juga memiliki darah Tionghoa. Hal ini cukup unik mengingat wayang selama ini selalu identik dengan budaya Jawa.
Padahal Christopher yang bukan keturunan Jawa justru memilih untuk mendalami bidang ini bahkan sejak usia dini, dan telah mencintai wayang semenjak masih kecil. Meskipun pernah mengalami masa sulit, kisahnya tetap patut diperhatikan.
Berawal dari Tugas di Sekolah Dasar Ketertarikan Christopher terhadap wayang dimulai dari sebuah tugas sekolah. Mahasiswa angkatan 2022 ini pertama kali mengenal wayang ketika masih bersekolah di tingkat dasar, saat ia diminta untuk menampilkan pagelaran wayang kecil di sekolahnya.
Sejak saat itu, ia mulai merasa tertarik dengan wayang. “Dari awal, saat mengerjakan tugas itu saya merasa ini adalah sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari,” kenangnya. Ia kemudian mulai membaca berbagai buku tentang pewayangan dan mempelajari berbagai tokoh yang ada di dalamnya.
Pembacaan serta pembelajaran tentang wayang memang sangat penting. Sebab dalam satu pertunjukan, seorang dalang harus menguasai berbagai kemampuan sekaligus – mulai dari mengatur alur cerita, memainkan puluhan tokoh, menyesuaikan suara untuk masing-masing tokoh, hingga berinteraksi dengan pemain gamelan.
Dihina Karena Cadel dan Berbeda Etnis
Setelah merasa tertarik dengan dunia wayang, Christopher mulai belajar secara serius di sebuah sanggar yang berada di Surabaya. Ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga untuk mengejar minatnya tersebut. Sayangnya, dukungan seperti itu tidak ia terima dari teman-temannya di sanggar.
Pengalamannya di sana tidak selalu menyenangkan. Sejak kecil, Christopher mengalami rhotasisme – yaitu gangguan artikulasi dalam ilmu bahasa yang membuat seseorang kesulitan mengucapkan beberapa konsonan dengan jelas. Pada kasus Christopher, ia mengalami kesulitan saat mengucapkan huruf “R” sehingga suaranya terdengar cadel.
Kondisi ini dianggap sebagai masalah besar karena kemampuan berbicara merupakan aspek krusial bagi seorang dalang. Sebagai narator, dalang harus mampu mengucapkan kata-kata dengan jelas, terutama karena pertunjukan wayang sangat bergantung pada narasi dan dialog yang panjang. Karena itulah, Christopher sering menerima ejekan dari orang lain.
Selain itu, ia juga pernah mengalami diskriminasi karena latar belakang etnisnya yang bukan Jawa. Dunia pewayangan memang sejak lama dianggap identik dengan masyarakat Jawa. Biasanya seorang dalang berasal dari keluarga atau komunitas yang sudah lama menjalankan tradisi tersebut.
Karenanya, ketika ada orang yang mendalami dunia pewayangan dari luar etnis Jawa, hal ini masih dianggap sebagai hal yang tabu. Pengalaman pahit tersebut membuat Christopher sempat menjauh dari dunia wayang. Kembali Belajar Secara Mandiri Namun, mimpi yang ia miliki semenjak kecil tidak mudah menghilang.
Setelah sempat berhenti, Christopher memutuskan untuk kembali belajar mendalang. Kali ini ia belajar secara otodidak. Ia memanfaatkan buku serta media sosial untuk memperdalam pengetahuannya tentang pewayangan. Christopher juga mempelajari gaya para dalang besar Indonesia.
Tiga tokoh yang banyak memberikan inspirasi baginya adalah Ki Nartosabdo, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Tristuti Rachmadi – yang ketiganya dikenal sebagai dalang berpengaruh dalam dunia wayang kulit modern. Selain itu, Christopher juga melakukan penelitian terkait kebudayaan. Ia berusaha memahami konteks sosial serta filosofi yang terkandung dalam cerita wayang.
Dengan pendekatan seperti ini, ia tidak hanya belajar teknik mendalang semata, tetapi juga memahami makna budaya yang ada di balik setiap cerita yang dimainkan. Dalang yang Mahir Tiga Bahasa Salah satu penampilan yang membuat namanya dikenal luas terjadi pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS.
Dalam pertunjukan tersebut, Christopher membawakan cerita wayang dengan menggunakan tiga bahasa sekaligus, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Mandarin. Pendekatan seperti ini jarang dilakukan dalam pertunjukan wayang tradisional, yang biasanya menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa utama.
Dengan menggunakan tiga bahasa, pertunjukan wayang dapat lebih mudah dipahami oleh penonton dari berbagai latar belakang. Cara ini juga menjadi simbol dari identitas Christopher sendiri, yang berada di antara dua budaya – Jawa dan Tionghoa.
Pengalaman Hidup Menjadi Topik Penelitian Pengalaman yang ia alami semenjak kecil tidak hanya membentuk perjalanan dalam dunia seni, tetapi juga memengaruhi penelitian akademik yang ia lakukan.
Christopher menulis skripsi dengan judul: “Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme.” Penelitian ini membahas bagaimana orang yang mengalami rhotasisme menghadapi diskriminasi sosial di lingkungan perkotaan.
Ia juga aktif mempresentasikan hasil risetnya di berbagai forum internasional. “Bahkan, salah satu penelitian saya telah mengantarkan saya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia, International Symposium on Javanese Culture 2024,” ujarnya.
Dalang, Peneliti, dan Pengusaha Jamu Modern Kegiatan Christopher tidak hanya terbatas pada bidang seni dan akademik. Ia juga aktif mengikuti berbagai forum internasional seperti Asia Youth Sustainability Forum 2025, Youth Asian-African Legal Consultative Organization (AALCO) 2023, serta Smart Ocean Summer School di Tianjin University, China.
Di bidang inovasi, ia bahkan menjadi perwakilan Indonesia dan ITS dalam ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia dan berhasil meraih juara. Yang lebih menarik, ia juga mendirikan bisnis jamu modern bernama Herbits.
Menurutnya, saat ini anak muda jarang mengonsumsi jamu, padahal minuman tradisional ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Melalui Herbits, ia mencoba mengubah cara konsumsi jamu agar lebih sesuai dengan selera generasi muda. Startup ini telah mendapatkan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 serta ITS Youth Technopreneur 2023–2024.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat