8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasinya, LPEM UI Soroti Arah Pendidikan Tinggi
Sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia tercatat bekerja pada pekerjaan yang tingkat pendidikannya berada di bawah kualifikasi mereka.
Sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia tercatat bekerja pada pekerjaan yang tingkat pendidikannya berada di bawah kualifikasi mereka. Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI) bertajuk Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?
Table Of Content
Laporan yang disusun Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD tersebut tidak hanya membahas fenomena lulusan sarjana yang bekerja di bawah tingkat pendidikannya. Peneliti juga mengidentifikasi sejumlah bidang studi yang banyak ditemukan di antara pengangguran lulusan S1.
Temuan ini menjadi perhatian di tengah rencana pemerintah membangun perguruan tinggi baru, Universitas Republik Indonesia (URI). Dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026, LPEM FEB UI menyoroti sejumlah hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan URI.
Baca Juga: Melihat Tren Angka Pengangguran di Indonesia 1 Dekade Terakhir
Bukan Sekadar Membuka Jurusan Populer
Menurut laporan tersebut, perencanaan universitas baru tidak cukup hanya mempertimbangkan program studi yang populer atau mudah dibuka. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah kompetensi yang masih belum tersedia, kebutuhan wilayah maupun sektor yang belum terlayani, serta posisi lulusan yang akan dihasilkan di pasar kerja.
Fenomena lulusan S1 yang bekerja pada pekerjaan dengan kebutuhan pendidikan lebih rendah dapat menunjukkan bahwa pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan berkembang lebih cepat dibandingkan penciptaan pekerjaan profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Selain itu, hubungan antara program pendidikan, kompetensi lulusan, dan kebutuhan pemberi kerja dinilai belum cukup kuat.
Karena itu, penambahan kapasitas pendidikan tinggi melalui pendirian universitas baru tanpa perencanaan yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomi berisiko meningkatkan jumlah lulusan tanpa diikuti bertambahnya peluang untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.
Lima Bidang Studi Dominasi Pengangguran S1
LPEM FEB UI menyusun analisis tersebut berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Jika dilihat berdasarkan bidang studi terakhir, pengangguran dengan pendidikan minimal S1 paling banyak berasal dari Manajemen.
Lima bidang studi teratas secara keseluruhan mencakup sekitar 40 persen dari pengangguran lulusan sarjana. Rinciannya sebagai berikut:
- Manajemen: 10,3 persen
- Hukum: 9,0 persen
- Ekonomi: 8,7 persen
- Pendidikan: 7,1 persen
- Akuntansi: 5,1 persen
Pola tersebut menunjukkan bahwa cukup banyak pengangguran sarjana berasal dari program studi yang memiliki cakupan keilmuan luas sekaligus jumlah lulusan yang besar.
Manajemen, misalnya, mencakup berbagai bidang seperti pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, aset, sumber daya manusia, hingga industri.
Pilihan Pekerjaan Luas Tak Menjamin Mudah Terserap
Meskipun memiliki cakupan pekerjaan yang beragam, lulusan dari rumpun bisnis tetap menghadapi persaingan ketika memasuki dunia kerja.
Pada tahap awal karier, mereka tidak hanya bersaing dengan lulusan dari bidang yang sama. Lulusan Hukum, Ekonomi, Komunikasi, dan bidang lainnya juga dapat menjadi pesaing untuk posisi pekerjaan yang relatif umum.
Hal serupa juga terlihat pada bidang Pendidikan. Program studi dalam bidang ini mencakup berbagai jenis pendidikan, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi, hingga pendidikan vokasi.
Penyerapan lulusan Pendidikan ke pasar kerja dapat dipengaruhi oleh pola rekrutmen guru, kebutuhan sekolah di setiap wilayah, ketersediaan formasi, serta persyaratan profesi.
Informatika Juga Masuk dalam Daftar Pengangguran
Temuan lain dalam kajian tersebut adalah keberadaan lulusan Ilmu Komputer atau Informatika yang mencakup 4,6 persen dari pengangguran lulusan minimal S1.
Padahal, kedua bidang tersebut kerap dianggap memiliki prospek pekerjaan yang baik. LPEM FEB UI mencatat bahwa kedua bidang tersebut memiliki program yang sangat beragam, sementara kebutuhan industri dapat berubah dengan cepat.
Selain itu, perbedaan mutu pendidikan, penguasaan keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta jenis teknologi yang digunakan perusahaan turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Namun, angka-angka tersebut tidak menunjukkan tingkat pengangguran dari masing-masing bidang studi. Data hanya menggambarkan bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara pengangguran berpendidikan minimal S1.
Dengan demikian, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa Manajemen, Pendidikan, atau bidang studi lainnya memiliki prospek kerja paling buruk. Untuk mengetahui risiko pengangguran berdasarkan bidang studi, jumlah pengangguran pada setiap bidang perlu dibandingkan dengan keseluruhan angkatan kerja lulusan dari bidang studi yang sama.
Perluasan Perguruan Tinggi Harus Lebih Terarah
LPEM FEB UI menegaskan bahwa temuan tersebut bukan berarti mempermasalahkan pentingnya perluasan akses pendidikan tinggi. Sebaliknya, perluasan pendidikan tinggi dinilai perlu dilakukan secara lebih terarah.
Dalam pendirian universitas baru, perlu ada kejelasan mengenai bidang studi yang benar-benar dibutuhkan, standar mutu yang kuat, pengisian kesenjangan akses secara nyata, serta keterkaitan dengan strategi pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Tanpa kejelasan tersebut, pendirian universitas baru berisiko hanya berfokus pada peningkatan pasokan lulusan, sementara persoalan transisi dari pendidikan ke dunia kerja belum banyak berubah.
Dalam kondisi pasar kerja saat ini, LPEM FEB UI menilai penguatan mutu perguruan tinggi yang sudah ada, peningkatan hubungan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja, serta penciptaan lebih banyak pekerjaan berketerampilan tinggi sama pentingnya dengan mendirikan universitas baru.
Baca Juga: Survei BPS 2025: Gen Z jadi Kelompok Usia dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi