Maudy Ayunda dan ITB Kolaborasi Hasilkan Paten Inovasi Nyamplung, Dari Tanaman Pesisir ke Produk Global
Maudy Ayunda bersama tim peneliti dari Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengajukan paten untuk inovasi berbasis tanaman nyamplung.
Kolaborasi antara akademisi dan sektor industri kembali menunjukkan hasil nyata. Setelah menjalani penelitian selama tiga tahun, aktris sekaligus pegiat pendidikan Maudy Ayunda bersama tim peneliti dari Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengajukan paten untuk inovasi berbasis tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum), salah satu tanaman asli Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.
Table Of Content
Pencapaian tersebut menandai tonggak penting dalam upaya hilirisasi hasil riset kampus menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing produk berbasis biodiversitas Indonesia.
Baca Juga: Gaji Alumni ITB Tembus Rp119 Juta per Bulan, Ini Daftar Jurusan dengan Penghasilan Tertinggi
Tiga Tahun Meneliti Potensi Nyamplung
Melalui unggahan di media sosial, Maudy Ayunda mengungkapkan bahwa kerja sama riset dengan Fakultas Farmasi ITB telah dimulai sejak 2023. Selama periode tersebut, tim peneliti berfokus menggali potensi tanaman nyamplung, terutama kandungan aktifnya yang dinilai menjanjikan untuk pengembangan produk perawatan kulit.
Maudy menyebut pengajuan paten bersama ini sebagai salah satu pencapaian terbesar dari perjalanan riset yang telah dijalani. Ia juga mengaku bangga dapat berkolaborasi dengan para peneliti lintas disiplin ilmu yang memiliki visi untuk menghadirkan inovasi berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Riset Kampus Menuju Produk Bernilai Ekonomi
Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, menjelaskan bahwa penelitian tersebut melibatkan berbagai tahapan, mulai dari standardisasi bahan baku, pengembangan metode ekstraksi, pemurnian senyawa polifenol, hingga pemanfaatan calophyllolide sebagai bahan aktif utama dalam formulasi produk.
Nyamplung yang banyak tumbuh di kawasan pesisir Indonesia dipilih karena memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku produk kesehatan maupun kosmetik. Setelah melalui serangkaian penelitian, tim berhasil menghasilkan metode produksi polifenol dari biji nyamplung yang kemudian memperoleh paten pada 2026.
Hilirisasi Biodiversitas Indonesia
Keberhasilan ini menjadi bagian dari upaya ITB mendorong hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti di laboratorium. Dalam proses pengembangannya, riset tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah, tetapi juga mencakup identifikasi potensi pasar, pengujian keamanan, formulasi produk, hingga tahapan komersialisasi.
Menurut ITB, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa penelitian di lingkungan perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi industri. Di sisi lain, kolaborasi antara peneliti dan mitra dari luar kampus juga membuka peluang lebih besar bagi pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi berkelas global.
Baca Juga: Tim iConic ITB Raih Juara 2 Nasional Lewat Inovasi Helm Pintar Pencegah Microsleep