Mayoritas Lulusan ITB Dapat Pekerjaan Kurang dari 3 Bulan Setelah Lulus!
Rata-rata lulusan ITB mendapat pekerjaan 2,11 bulan setelah lulus.
Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2018 menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat dalam memasuki dunia kerja. Berdasarkan hasil Tracer Study ITB 2025 yang diterbitkan Direktorat Pengembangan Pendidikan ITB, sebagian besar alumni berhasil memperoleh pekerjaan atau memulai usaha dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah menyelesaikan studi.
Table Of Content
Temuan ini menjadi indikator bahwa kompetensi lulusan ITB masih memiliki daya saing yang tinggi di tengah dinamika pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif. Tidak hanya terserap di berbagai sektor industri, sejumlah alumni juga memilih membangun usaha sendiri dalam waktu relatif singkat setelah kelulusan.
Rata-rata Waktu Tunggu Kerja Hanya 2,11 Bulan
Dari 2.285 alumni yang menjadi observasi dalam kategori pekerja, rata-rata waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan pertama tercatat sebesar 2,11 bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan setelah meninggalkan bangku kuliah.
Data survei memperlihatkan sebanyak 1.330 alumni berhasil memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah lulus. Jumlah tersebut menjadi kelompok terbesar dibandingkan kategori waktu tunggu lainnya. Sementara itu, 647 alumni mendapatkan pekerjaan dalam rentang tiga hingga enam bulan, dan 308 alumni membutuhkan waktu lebih dari enam bulan.
Selain rata-rata yang rendah, median waktu tunggu kerja tercatat dua bulan dengan modus satu bulan. Artinya, sebagian besar lulusan memperoleh pekerjaan hanya dalam satu hingga dua bulan setelah menyelesaikan pendidikan.
Lulusan Wirausaha Memulai Lebih Cepat
Tidak hanya pada jalur karier profesional, lulusan yang memilih berwirausaha juga menunjukkan proses transisi yang cepat. Dari total 114 alumni yang menjadi observasi pada kategori wirausaha, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memulai usaha hanya 0,85 bulan.
Sebanyak 65 alumni memulai usaha dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah kelulusan. Sementara itu, 19 alumni mulai berwirausaha dalam rentang tiga hingga enam bulan, dan 30 alumni memulai usaha lebih dari enam bulan setelah lulus.
Menariknya, median dan modus waktu tunggu untuk memulai usaha sama-sama berada pada angka satu bulan. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian lulusan telah memiliki rencana bisnis atau usaha yang matang bahkan sebelum menyelesaikan studi.
Baca Juga: Mau Masuk ITB 2026? Ini Jadwal dan Jalur SSU yang Wajib Kamu Tahu
Daya Serap Pasar Kerja Dinilai Tinggi
Dalam laporannya, ITB menyimpulkan bahwa mayoritas alumni, baik yang memilih bekerja maupun berwirausaha, mampu memulai karier dalam waktu relatif singkat.
“Hal ini menandakan bahwa alumni ITB angkatan 2018 dapat diterima dengan baik dalam pasar kerja Indonesia,” tulis ITB dalam laporan Tracer Study 2025.
Tingkat penerimaan yang tinggi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan industri terhadap lulusan dengan kompetensi teknis, kemampuan analitis, dan keterampilan pemecahan masalah yang menjadi ciri khas pendidikan di ITB. Selain itu, jaringan alumni yang kuat dan kerja sama kampus dengan berbagai sektor industri juga berpotensi mempercepat proses rekrutmen lulusan baru.
Lebih dari Tiga Perempat Alumni Memilih Bekerja
Tracer Study ITB 2025 juga memotret kondisi aktivitas alumni beberapa tahun setelah lulus. Dari total responden, sebanyak 2.482 alumni atau sekitar 76 persen memilih bekerja maupun bekerja sambil berwirausaha. Di sisi lain, 164 alumni atau sekitar 5 persen memilih fokus menjalankan usaha.
Data ini menunjukkan bahwa dunia kerja masih menjadi pilihan utama lulusan ITB. Namun demikian, munculnya kelompok alumni yang memilih jalur kewirausahaan memperlihatkan adanya kecenderungan untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan pekerjaan.
Lebih dari 3.200 Alumni Berpartisipasi dalam Survei
Tracer Study ITB 2025 melibatkan 3.274 responden dari total 3.664 alumni angkatan 2018. Angkatan ini dipilih karena berada pada rentang satu hingga tiga tahun setelah kelulusan, periode yang dianggap ideal untuk mengevaluasi proses transisi dari pendidikan tinggi menuju dunia profesional.
Program Studi Manajemen menjadi penyumbang responden terbanyak dengan 170 alumni. Sementara itu, Program Studi Seni Rupa mencatat jumlah responden paling sedikit, yakni 22 alumni.
Dari sisi tingkat partisipasi, sebanyak 12 program studi mencatat respons 100 persen, antara lain Teknologi Pascapanen, Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air, Teknik Pangan, Manajemen Rekayasa, Meteorologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pertanian, Rekayasa Hayati, Astronomi, dan Fisika.
Potret Positif Lulusan Perguruan Tinggi
Hasil Tracer Study ITB 2025 memberikan gambaran positif mengenai kesiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi dunia kerja. Dengan rata-rata waktu tunggu kerja hanya 2,11 bulan dan mayoritas alumni memperoleh pekerjaan dalam kurun kurang dari tiga bulan, lulusan ITB menunjukkan kemampuan yang baik dalam menjawab kebutuhan pasar.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kualitas pendidikan, relevansi kompetensi lulusan, serta keterhubungan dengan dunia industri menjadi faktor penting dalam mempercepat penyerapan tenaga kerja. Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan yang semakin ketat, kemampuan lulusan untuk segera memasuki dunia kerja menjadi salah satu indikator penting keberhasilan pendidikan tinggi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang siap bersaing.
Baca Juga: Gaji Alumni ITB Tembus Rp119 Juta per Bulan, Ini Daftar Jurusan dengan Penghasilan Tertinggi