122 Program Studi Ditutup Sepanjang 2026, Ini Jurusan yang Paling Banyak Dihentikan
Sejumlah prodi ini ditutup karena jumlah mahasiswa terus turun.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat sebanyak 122 program studi (prodi) ditutup sepanjang 2026. Menariknya, tidak ada satu pun program studi kependidikan yang masuk dalam daftar jurusan yang paling banyak dihentikan.
Table Of Content
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa penutupan program studi tersebut berasal dari usulan perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) penyelenggara. Dengan kata lain, kebijakan ini bukan semata-mata keputusan pemerintah, melainkan hasil evaluasi yang dilakukan masing-masing kampus terhadap program studinya.
“Dari 11 program studi yang paling banyak ditutup, tidak ada program studi pendidikan di dalamnya,” ujar Brian dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Kampus dengan Jurusan Fisika Terbaik 2026, Ada Harvard sampai Stanford!
Daftar Prodi yang Paling Banyak Ditutup
Berdasarkan data Kemdiktisaintek, sejumlah program studi yang paling banyak dihentikan penyelenggaraannya pada 2026 meliputi:
- D3 Kebidanan
- D3 Manajemen Informatika
- D3 Akuntansi
- D3 Teknik Komputer
- S1 Manajemen Retail
- D3 Keuangan dan Perbankan
- D3 Keperawatan
- S1 Matematika
Program-program tersebut menjadi yang paling sering diusulkan untuk ditutup oleh perguruan tinggi selama tahun ini.
Jumlah Mahasiswa Menurun Jadi Salah Satu Faktor
Menurut Brian, salah satu alasan utama penutupan program studi adalah berkurangnya jumlah peminat dan mahasiswa yang mendaftar. Ketika sebuah prodi tidak lagi memiliki daya tarik yang cukup bagi calon mahasiswa, kampus biasanya melakukan evaluasi terhadap keberlanjutan program tersebut.
Selain faktor jumlah mahasiswa, beberapa perguruan tinggi juga memilih mengganti program studi lama dengan program yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masa depan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, program studi Matematika di beberapa kampus dapat bertransformasi menjadi Aktuaria yang saat ini memiliki prospek karier lebih spesifik dan diminati industri.
Bukan Sekadar Ditutup, Tapi Bertransformasi
Kemdiktisaintek menegaskan bahwa penutupan program studi tidak selalu berarti bidang keilmuannya hilang. Dalam banyak kasus, yang terjadi justru transformasi dan pengembangan kurikulum agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
Sebagai ilustrasi, program studi Teknik Elektro dapat berkembang menjadi program yang lebih spesifik seperti Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, atau Robotics. Perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan dunia kerja sekaligus perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Pemerintah juga mendorong setiap kelompok program studi untuk melakukan evaluasi berkala, umumnya setiap tiga hingga empat tahun, guna memastikan materi pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.
Penutupan Prodi Berdasarkan Usulan Kampus
Brian menegaskan bahwa kebijakan penghapusan program studi dilakukan berdasarkan usulan dari perguruan tinggi yang bersangkutan atau sebagai konsekuensi atas pelanggaran berat tertentu. Setelah usulan diterima dan dievaluasi, Kemdiktisaintek akan menerbitkan surat keputusan resmi terkait penutupan program studi tersebut.
Karena itu, fenomena penutupan 122 prodi pada 2026 tidak selalu dapat dimaknai sebagai menurunnya kualitas pendidikan tinggi. Dalam banyak kasus, langkah tersebut justru menjadi bagian dari strategi kampus untuk memperbarui program akademik dan menghadirkan jurusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa serta tuntutan dunia kerja yang terus berubah.
Baca Juga: Gaji Alumni ITB Tembus Rp119 Juta per Bulan, Ini Daftar Jurusan dengan Penghasilan Tertinggi