Atasi Kekurangan Tenaga Medis, Pemerintah Percepat Akselerasi Dokter Spesialis di Kalbar
Pontianak – Pemerataan akses layanan kesehatan berkualitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satu persoalan utama adalah...
Pontianak – Pemerataan akses layanan kesehatan berkualitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satu persoalan utama adalah belum meratanya ketersediaan dokter spesialis, sehingga masyarakat di sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan layanan kesehatan, khususnya untuk penanganan pasien kritis dan kegawatdaruratan.
Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang masih mengalami kekurangan dokter spesialis anestesi. Berdasarkan data profil kesehatan per Maret 2026, pemenuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar baru mencapai 36,42 persen dari kebutuhan ideal sebanyak 115 dokter spesialis. Saat ini, hanya terdapat 42 dokter spesialis anestesi yang melayani 58 rumah sakit pemerintah dan swasta di berbagai wilayah Kalbar, termasuk kawasan perbatasan, pesisir, dan pedalaman.
Sebagai upaya mempercepat pemerataan tenaga medis, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di berbagai daerah.
Langkah tersebut diwujudkan melalui peluncuran Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Magister Ilmu Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan), Selasa (19/5).
Program ini menjadi prodi spesialis pertama di Untan sekaligus yang pertama di Provinsi Kalimantan Barat. Kehadiran program tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan kesehatan daerah dan mempercepat pemerataan dokter spesialis di kawasan Kalimantan.
Baca juga: AHY: Indonesia Harus Reformasi Pendidikan Jika Ingin Jadi Negara Maju
Dorong Pemerataan Dokter Spesialis
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan mengatakan pembukaan prodi baru tersebut merupakan bagian dari program percepatan pemenuhan tenaga medis nasional.
“Kita menyambut lahirnya program studi baru di bawah naungan PPDS Fakultas Kedokteran Untan, yaitu Program Spesialis Anestesiologi dan Magister Ilmu Farmasi, sebagai capaian nyata program akselerasi pemenuhan dan distribusi tenaga medis spesialis/subspesialis di Indonesia dalam mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Sehat 2045,” ujar Wamendiktisaintek Fauzan.
Menurutnya, persoalan kesehatan nasional bukan hanya soal jumlah dokter spesialis yang terbatas, tetapi juga distribusi tenaga medis yang belum merata di berbagai wilayah Indonesia.
“Pemerintah memberikan kebijakan khusus untuk meningkatkan jumlah tenaga dokter yang diambil dari putra-putri daerah sehingga selain meningkatkan mutu layanan kesehatan, juga dapat mengurangi problem distribusi tenaga medis,” ujar Wamen Fauzan.
Pemerintah pusat juga terus memperluas akses pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di berbagai perguruan tinggi. Hingga saat ini, Kemdiktisaintek telah membuka 160 program studi baru yang terdiri atas 128 program dokter spesialis dan 32 program dokter subspesialis.
Dengan penambahan tersebut, total program studi PPDS di Indonesia meningkat menjadi 526 program studi dari sebelumnya 366 program studi.
Baca juga: Benarkah Tingkat Pendidikan Memengaruhi Gaji?
Penguatan Layanan Kesehatan Daerah
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, yang mewakili Gubernur Kalbar menilai pembangunan pendidikan dokter spesialis di daerah menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan masyarakat.
“Kita membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang dididik, lahir dan siap mengabdi di tanahnya sendiri,” ujar Sekda Kalbar.
Selain memperkuat layanan kesehatan, pembukaan Program Studi Magister Ilmu Farmasi Untan juga diharapkan mampu mendorong pengembangan riset berbasis potensi biodiversitas Kalimantan Barat, termasuk inovasi pengobatan berbahan alam dan pengembangan teknologi farmasi berbasis bukti.
Dalam kesempatan itu, Wamen Fauzan menegaskan pendidikan kedokteran tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik dan keterampilan profesional, tetapi juga pembentukan karakter tenaga kesehatan.
“Kita tidak hanya mendidik tenaga profesional di bidang ilmu dan keterampilan, tetapi juga membangun karakter serta sentuhan humanis dalam pelayanan kesehatan,” ujar Wamen Fauzan.
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit pendidikan, dunia industri, dan organisasi profesi melalui Sistem Kesehatan Akademik.
Menurutnya, pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Kalimantan Barat penting agar riset dan pengabdian masyarakat dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi penyelesaian persoalan daerah.
“Kalau selama ini perguruan tinggi berjalan sendiri-sendiri, hasilnya hanya memberikan resonansi lokal. Tetapi kalau bergerak bersama melalui konsorsium, dampaknya akan jauh lebih besar dalam menyelesaikan persoalan daerah,” tutup Wamen Fauzan.