Universitas Padjadjaran (Unpad) mencatatkan capaian dalam pemeringkatan ilmuwan internasional setelah 20 ilmuwannya masuk dalam daftar World's Top 2% Scientists 2026 yang diterbitkan oleh Elsevier.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Unpad, jumlah tersebut menempatkan universitas yang berlokasi di Jawa Barat itu sebagai institusi pendidikan tinggi Indonesia dengan representasi ilmuwan terbanyak dalam daftar tersebut.
Dari total 20 ilmuwan yang tercatat, sebanyak 19 orang merupakan dosen aktif dari berbagai fakultas di Unpad, sedangkan satu orang lainnya merupakan alumni Fakultas Kedokteran.
Capaian ini menunjukkan kontribusi para akademisi Unpad dalam menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah yang memperoleh perhatian serta sitasi dari komunitas akademik internasional.
Melalui akun Instagram resminya, Unpad menyampaikan bahwa hasil pemeringkatan tersebut menjadi salah satu gambaran kontribusi sivitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
"Capaian ini menempatkan Unpad di posisi pertama di antara institusi di Indonesia berdasarkan jumlah ilmuwan yang tercatat dalam pemeringkatan tersebut," tulis Unpad, dikutip Kamis (15/10/2026).
Unpad ungguli UGM dan UI dalam jumlah ilmuwan yang masuk daftar
Berdasarkan data yang dipublikasikan Unpad, sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penelitian Indonesia turut mencatatkan penelitinya dalam World's Top 2% Scientists 2026.
Unpad berada pada posisi teratas dengan 20 ilmuwan, disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mencatatkan 19 ilmuwan.
Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI) sama-sama memiliki 17 ilmuwan yang tercantum dalam daftar tersebut.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatatkan 16 ilmuwan, menjadikannya salah satu lembaga penelitian Indonesia dengan jumlah peneliti terbanyak dalam pemeringkatan ini.
Institut Teknologi Bandung (ITB) menyusul dengan 15 ilmuwan. Selanjutnya, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Diponegoro masing-masing mencatatkan sembilan ilmuwan.
Adapun Bina Nusantara University (BINUS) melengkapi sepuluh institusi dengan representasi ilmuwan terbanyak dari Indonesia, yakni sebanyak tujuh orang.
Jika dihitung berdasarkan daftar sepuluh institusi tersebut, terdapat 138 ilmuwan yang tercatat. Angka ini merupakan penjumlahan jumlah ilmuwan per institusi sebagaimana dilaporkan Unpad, bukan total keseluruhan ilmuwan Indonesia dalam pemeringkatan.
Dari daftar tersebut, Unpad hanya unggul satu ilmuwan dibandingkan UGM dan tiga ilmuwan dibandingkan Unair maupun UI.
Meski demikian, perbandingan ini didasarkan pada jumlah ilmuwan yang masuk dalam pemeringkatan, bukan penilaian menyeluruh terhadap kualitas perguruan tinggi ataupun seluruh kegiatan penelitian di masing-masing institusi.
Mengenal World's Top 2% Scientists dan metode penilaiannya
World's Top 2% Scientists merupakan daftar ilmuwan internasional yang disusun dengan mempertimbangkan rekam jejak publikasi dan dampak ilmiah penelitian.
Pemeringkatan yang dipublikasikan Elsevier ini menggunakan pendekatan bibliometrik, yaitu metode pengukuran kontribusi ilmiah berdasarkan data publikasi serta sitasi karya akademik.
Salah satu indikator yang diperhatikan adalah jumlah sitasi atau banyaknya karya ilmiah seorang peneliti dirujuk dalam penelitian lainnya.
Semakin banyak suatu publikasi digunakan sebagai referensi oleh peneliti lain, semakin besar pula jejak sitasi yang tercatat dalam basis data ilmiah.
Selain jumlah sitasi, penilaian juga mempertimbangkan h-index, yakni indikator yang menggabungkan produktivitas publikasi dengan jumlah sitasi yang diterima.
Pengukuran turut memperhitungkan kontribusi penulis dalam publikasi ilmiah, termasuk posisi penulis dalam suatu penelitian yang melibatkan lebih dari satu akademisi.
Berbagai indikator tersebut kemudian digunakan dalam penyusunan skor gabungan atau composite score (c-score) untuk menggambarkan pengaruh ilmiah peneliti secara lebih menyeluruh.
Dengan pendekatan tersebut, pemeringkatan tidak semata-mata mempertimbangkan banyaknya publikasi yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana karya-karya tersebut digunakan dan dirujuk dalam perkembangan penelitian.
Namun, indikator bibliometrik tetap memiliki keterbatasan karena pola publikasi dan sitasi dapat berbeda antara satu bidang keilmuan dan bidang lainnya.
Oleh karena itu, masuknya seorang akademisi dalam daftar tersebut dapat dipahami sebagai pengakuan terhadap rekam jejak dan dampak publikasinya berdasarkan indikator yang digunakan, bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang ilmuwan.
Fakultas Farmasi dan FMIPA mendominasi ilmuwan Unpad
Dari 19 dosen aktif Unpad yang masuk dalam World's Top 2% Scientists 2026, sebagian besar berasal dari Fakultas Farmasi serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Fakultas Farmasi mencatatkan tujuh dosen, yakni Dr. Yedi Herdiana, Prof. Nasrul Wathoni, Prof. Muchtaridi, Prof. Aliya Nur Hasanah, Prof. Rizky Abdulah, Arif Budiman, dan Sofa Dewi Alfian.
Keberadaan para akademisi tersebut memperlihatkan representasi yang cukup besar dari bidang farmasi dalam daftar ilmuwan Unpad yang memperoleh pengakuan internasional.
FMIPA menyusul dengan enam ilmuwan, yaitu Prof. I Made Joni, Noto Susanto Gultom, Prof. Diana Rakhmawaty Eddy, Prof. Yeni Wahyuni Hartati, Irkham, serta Prof. Unang Supratman.
Sementara itu, Fakultas Kedokteran memiliki empat dosen yang masuk dalam daftar, yakni Prof. Rovina, Qorinah Estiningtyas Sakilah Adnani, Dr. Afiat Berbudi, dan Prof. Ronny.
Dua ilmuwan lainnya berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Teknologi Industri Pertanian.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis diwakili oleh Prof. Sofik Handoyo, sedangkan Fakultas Teknologi Industri Pertanian diwakili oleh Dr. Edy Subroto.
Berdasarkan komposisi tersebut, Fakultas Farmasi dan FMIPA secara bersama-sama menyumbang 13 dari 19 dosen aktif Unpad yang masuk daftar, atau sekitar 68,4%.
Komposisi ini menunjukkan bahwa bidang farmasi serta matematika dan ilmu pengetahuan alam memiliki representasi terbesar dalam capaian Unpad pada pemeringkatan tahun 2026.
Representasi ilmuwan Indonesia dalam penelitian global
Masuknya sejumlah akademisi Indonesia dalam World's Top 2% Scientists 2026 memperlihatkan keterlibatan peneliti dalam kegiatan publikasi ilmiah yang memiliki jangkauan internasional.
Selain Unpad, sejumlah perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, dan lembaga penelitian nasional juga menunjukkan representasi melalui peneliti yang tercantum dalam daftar tersebut.
Keberadaan ilmuwan dari berbagai institusi mencerminkan beragamnya bidang penelitian yang dikembangkan di Indonesia, mulai dari kesehatan dan ilmu alam hingga teknologi, ekonomi, dan ilmu terapan.
Bagi perguruan tinggi, rekam jejak publikasi dan sitasi menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan aktivitas penelitian serta keterhubungannya dengan komunitas ilmiah global.
Meski demikian, dampak penelitian terhadap masyarakat juga perlu dilihat dari berbagai aspek lain, termasuk penerapan hasil riset, kontribusi terhadap pengembangan kebijakan, dan pemanfaatan inovasi.
Capaian Unpad dengan 20 ilmuwan dalam daftar World's Top 2% Scientists 2026 menjadi salah satu gambaran kontribusi akademisi Indonesia dalam perkembangan ilmu pengetahuan internasional.
Di tengah persaingan penelitian global, keberlanjutan publikasi ilmiah, kolaborasi antarpeneliti, serta pengembangan kualitas riset menjadi aspek penting untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi Indonesia pada masa mendatang.
Baca Juga: UI dan BINUS Kuasai Peringkat Kampus Terbaik Jabodetabek Versi THE WUR 2027


Komentar Pengunjung (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!