Beranda/Nasional/Lulusan Perguruan Tinggi Dinilai Kurang Tahan Banting, Stella Christie Soroti Kesiapan Kerja
Nasional

Lulusan Perguruan Tinggi Dinilai Kurang Tahan Banting, Stella Christie Soroti Kesiapan Kerja

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkap adanya keluhan dari pelaku industri mengenai ketahanan mental lulusan perguruan tinggi saat memasuki dunia kerja.

Agnes Z. YonatanBy Agnes Z. Yonatan•27 Oktober 2026•3 Menit Baca•8 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Lulusan Perguruan Tinggi Dinilai Kurang Tahan Banting, Stella Christie Soroti Kesiapan Kerja

Kesiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi dunia kerja kembali menjadi perhatian pemerintah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi, ketekunan, dan ketahanan dalam bekerja sebagai bagian dari kualitas lulusan pendidikan tinggi.

Hal tersebut disampaikan Stella dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) 2026 Angkatan 1 Tahap IV di Science Techno Park Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, pada Kamis (22/10/2026).

Stella mengungkapkan bahwa sejumlah pelaku industri menilai lulusan perguruan tinggi saat ini telah memiliki bekal ilmu pengetahuan yang cukup. Namun, kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan dan tekanan di lingkungan kerja masih menjadi perhatian.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Temuan tersebut diperoleh melalui diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) yang sebelumnya diselenggarakan dalam kunjungannya ke Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur.

Industri Soroti Ketahanan Lulusan dalam Menghadapi Dunia Kerja

Diskusi yang melibatkan Universitas Brawijaya dan 19 pelaku industri di Malang tersebut merupakan bagian dari upaya menyelaraskan kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja atau link and match.

Melalui forum tersebut, pemerintah berupaya mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja dari sektor industri sekaligus mengevaluasi kesesuaian kemampuan lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi.

Stella menjelaskan bahwa kebutuhan industri terus mengalami perubahan sehingga diperlukan pemetaan secara sistematis untuk mengetahui keterampilan dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Pemetaan tersebut juga dilakukan untuk melihat sejauh mana perguruan tinggi telah memenuhi kebutuhan industri, termasuk bagaimana perusahaan menilai kompetensi lulusan yang memasuki dunia kerja.

Dari hasil diskusi, salah satu persoalan yang mengemuka adalah ketahanan lulusan ketika menghadapi tantangan pekerjaan. Menurut Stella, penguasaan materi akademik belum tentu selalu diikuti kemampuan untuk bertahan dalam situasi kerja yang penuh tekanan.

"Paling tersirat dari industri, mungkin secara ilmu sudah ada, tapi tidak tahan banting," ungkap Stella.

Ada Lulusan Baru yang Memilih Resign Meski Harus Membayar Denda Rp60 Juta

Dalam pemaparannya, Stella turut membagikan salah satu contoh yang disampaikan pelaku industri mengenai perilaku lulusan baru ketika memasuki dunia kerja.

Ia mengungkapkan adanya pekerja lulusan baru yang memilih mengundurkan diri meskipun keputusan tersebut mengharuskan mereka membayar denda hingga Rp60 juta.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Menurut Stella, sebagian pekerja bahkan bersedia menanggung konsekuensi finansial tersebut dibandingkan harus terus menghadapi tekanan di lingkungan pekerjaan.

Kondisi ini menjadi salah satu gambaran yang disampaikan industri mengenai tantangan ketahanan dan kemampuan beradaptasi lulusan baru.

Meski demikian, contoh tersebut tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh lulusan perguruan tinggi. Temuan yang disampaikan Stella merupakan masukan dari pelaku industri dalam forum diskusi mengenai kebutuhan dan kualitas tenaga kerja.

Perguruan Tinggi Didorong Membentuk Lulusan yang Lebih Tangguh

Stella menegaskan bahwa ijazah sarjana masih menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses melamar pekerjaan. Namun, gelar akademik bukan satu-satunya aspek yang diperhatikan perusahaan ketika menilai calon tenaga kerja.

Selain penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis, dunia industri juga membutuhkan lulusan yang memiliki ketahanan dalam menghadapi tantangan serta ketekunan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Oleh karena itu, Stella menilai perguruan tinggi perlu memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan karakter dan kesiapan kerja mahasiswa.

Kemampuan seperti resilience atau ketangguhan serta perseverance atau ketekunan menjadi kualitas yang perlu diperkuat selama proses pendidikan tinggi.

Melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Masukan dari pelaku industri tersebut menjadi bahan evaluasi dalam upaya memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan tenaga kerja. Dengan demikian, kualitas lulusan tidak hanya diukur melalui pencapaian akademik, tetapi juga melalui kemampuan menerapkan pengetahuan dan menghadapi tantangan dalam lingkungan profesional.

Baca Juga: Usia 21 Tahun Sudah Raih Gelar S2 Fisika ITB, Ini Kisah Andi Safa Afianzar

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Agnes Z. Yonatan

Penulis: Agnes Z. Yonatan

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!