Beranda/Inspirasi/Lulus S1 di Usia 19 Tahun, Hasna Jadi Wisudawan Termuda ITS dengan Riset Mikroplastik
Inspirasi

Lulus S1 di Usia 19 Tahun, Hasna Jadi Wisudawan Termuda ITS dengan Riset Mikroplastik

Hasna Nur Shadrina berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 19 tahun 7 bulan.

Agnes Z. YonatanBy Agnes Z. Yonatan•15 Oktober 2026•4 Menit Baca•4 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Lulus S1 di Usia 19 Tahun, Hasna Jadi Wisudawan Termuda ITS dengan Riset Mikroplastik

Hasna Nur Shadrina berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 19 tahun 7 bulan. Perjalanan akademiknya yang dimulai lebih awal membawanya menjadi wisudawan termuda pada wisuda ke-134 ITS.

Hasna Nur Shadrina mencatatkan pencapaian akademik di usia muda setelah resmi menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Pada usia 19 tahun 7 bulan, ia berhasil meraih gelar sarjana Teknik Lingkungan sekaligus menyandang predikat sebagai wisudawan termuda dalam periode wisuda ke-134 kampus tersebut.

Pencapaian ini merupakan hasil dari perjalanan pendidikan yang telah ditempuh Hasna sejak usia dini. Berbeda dari jalur pendidikan pada umumnya, perempuan yang tumbuh besar di Tangerang tersebut menjalani sejumlah jenjang pendidikan dengan waktu yang lebih singkat melalui program akselerasi.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Di balik kelulusannya, Hasna juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kehidupan sebagai mahasiswa perantauan hingga tuntutan akademik di bidang teknik lingkungan yang memerlukan penelitian dan pengujian laboratorium.

Memulai pendidikan lebih awal melalui program akselerasi

Perjalanan akademik Hasna dimulai ketika dirinya memasuki taman kanak-kanak pada usia tiga tahun. Dua tahun kemudian, tepatnya saat berusia lima tahun, ia telah melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah dasar.

Kecepatan dalam menempuh pendidikan terus berlanjut ketika Hasna mengikuti program akselerasi pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Program tersebut memungkinkannya menyelesaikan pendidikan formal dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan jalur reguler.

Pengalaman menempuh pendidikan melalui jalur percepatan turut membentuk kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Meski demikian, memasuki dunia perkuliahan menghadirkan tantangan berbeda yang belum pernah dihadapinya sebelumnya.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Sebagai seseorang yang tumbuh besar di Tangerang, Hasna harus membiasakan diri dengan kehidupan di Surabaya. Perubahan lingkungan tempat tinggal dan rutinitas menjadi bagian dari proses adaptasinya sebagai mahasiswa perantauan.

Dalam keterangannya melalui laman resmi ITS, Hasna mengungkapkan bahwa keberadaan teman-teman yang juga berasal dari luar daerah sangat membantunya menjalani masa penyesuaian. Kesamaan pengalaman sebagai perantau membuat proses adaptasi terasa lebih mudah.

Menghadapi persaingan akademik di Teknik Lingkungan ITS

Selain menyesuaikan diri dengan kehidupan di kota baru, Hasna juga harus mengikuti ritme pembelajaran di Departemen Teknik Lingkungan ITS yang dikenal memiliki lingkungan akademik kompetitif.

Tuntutan perkuliahan menjadi tantangan tersendiri, terutama karena bidang yang dipelajarinya berkaitan dengan berbagai persoalan lingkungan yang memerlukan pemahaman teori dan kemampuan penelitian.

Dalam menghadapi tekanan akademik tersebut, Hasna memilih untuk tidak terlalu membebani diri dengan kekhawatiran. Ia berupaya menjaga konsistensi selama menjalani perkuliahan agar dapat menyelesaikan setiap tahapan pendidikan dengan baik.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Hasna hingga akhirnya mampu menuntaskan studi sarjana pada usia yang jauh lebih muda dibandingkan kebanyakan mahasiswa.

Penelitian mikroplastik di Sungai Kalimas menjadi tantangan terbesar

Dari seluruh proses perkuliahan yang dijalaninya, Hasna menganggap pengerjaan tugas akhir sebagai salah satu tahapan paling berat.

Penelitian yang harus diselesaikannya tidak hanya mencakup penyusunan karya ilmiah, tetapi juga melibatkan pengujian laboratorium. Selain itu, terdapat tiga tahapan sidang akademik yang harus dilewati, yakni seminar proposal, seminar progres, dan seminar hasil.

Untuk tugas akhirnya, Hasna memilih mengkaji persoalan pencemaran lingkungan di Jawa Timur dengan berfokus pada keberadaan mikroplastik di Sungai Kalimas, Surabaya.

Pemilihan topik tersebut didasari perhatian terhadap mikroplastik sebagai salah satu jenis pencemar yang mulai menjadi perhatian dalam kajian lingkungan. Mikroplastik termasuk kategori emerging pollutant, yaitu kelompok pencemar yang keberadaannya semakin mendapat perhatian karena potensi dampaknya terhadap lingkungan.

Melalui penelitiannya, Hasna juga menyoroti persoalan regulasi dalam penanganan pencemaran lingkungan. Ia menyebut bahwa belum terdapat aturan resmi yang secara khusus menangani persoalan lingkungan di kawasan wisata seperti Sungai Kalimas.

Penelitian tersebut menjadi salah satu bagian penting dari proses penyelesaian studinya, sekaligus mempertemukannya dengan persoalan lingkungan yang dapat dikaji lebih lanjut melalui kegiatan penelitian.

Memilih memperdalam pengalaman riset setelah lulus

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, Hasna belum terburu-buru menentukan tujuan jangka panjangnya. Alih-alih langsung mengambil keputusan mengenai karier atau pendidikan lanjutan, ia memilih memanfaatkan waktu untuk memperkuat pengalaman di bidang penelitian.

Dalam tiga bulan setelah kelulusannya, Hasna berencana bergabung dengan proyek penelitian dosen yang berfokus pada toxic site identification atau identifikasi lokasi yang terkontaminasi zat beracun.

Keterlibatan dalam proyek tersebut menjadi kesempatan baginya untuk memperdalam pengalaman laboratorium serta mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan Teknik Lingkungan.

Di sisi lain, Hasna masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk perjalanan berikutnya, baik memasuki dunia kerja profesional maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Baginya, usia muda memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai pengalaman dan mengenali potensi diri. Meski memiliki banyak pilihan, ia tetap berupaya menjaga fokus terhadap langkah yang sedang dijalani.

Kelulusan Hasna pada usia 19 tahun 7 bulan menjadi penanda berakhirnya satu tahapan pendidikan yang telah dimulai sejak usia dini. Pengalaman mengikuti program akselerasi, beradaptasi dengan kehidupan perantauan, hingga menyelesaikan penelitian mikroplastik menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sebelum memasuki tahapan berikutnya.

Baca Juga: Ali Rokhman Jadi Plt Rektor Unsoed, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Agnes Z. Yonatan

Penulis: Agnes Z. Yonatan

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!