Beranda/Berita Kampus/Kisah Felix Degei, Lulusan University of Adelaide yang Memilih Jadi Guru Honorer di Papua
Berita Kampus

Kisah Felix Degei, Lulusan University of Adelaide yang Memilih Jadi Guru Honorer di Papua

WI
By Widiyanto
•9 September 2026•3 Menit Baca•20 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Kisah Felix Degei, Lulusan University of Adelaide yang Memilih Jadi Guru Honorer di Papua

Felix Degei adalah putra Papua yang berhasil meraih beasiswa LPDP ke The University of Adelaide, Australia. Setelah menempuh studi, Felix justru menolak berbagai tawaran bergengsi dan memilih mengabdi sebagai guru honorer di tanah kelahirannya.

Keputusan tersebut tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan. Saat masih sekolah, Felix harus berjalan kaki sejauh 26 kilometer setiap hari untuk bisa mendapatkan pendidikan.

"Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun" tutur Felix dalam laman LPDP dikutip Minggu (8/3/2026).

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Kondisi kampung kelahirannya di Putaapa bahkan belum sepenuhnya terhubung listrik dan internet. Dalam situasi seperti itu, banyak anak menghadapi ancaman putus sekolah karena keterbatasan akses pendidikan.

Mengejar Cita-cita ke Australia

Sejak kecil, Felix memiliki mimpi besar untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Ketertarikannya pada Australia bermula dari sebuah radio milik ayahnya.

Felix kecil sering membawa radio Tiens tersebut dan mendengarkan siaran dari Melbourne. Setiap kali penyiar mengatakan, "Radio Australia dari Melbourne," kalimat itu tersimpan kuat dalam ingatannya. Ia pun bertekad suatu hari akan sampai ke sana.

Perjalanan pendidikan Felix kemudian berlanjut ketika ia menempuh studi S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas Cenderawasih dan lulus pada tahun 2012.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Sambil bekerja sebagai asisten dosen, Felix juga mengikuti kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Denpasar, Bali. Di sana ia mulai mengenal berbagai program beasiswa internasional.

Beberapa beasiswa yang ia ketahui antara lain:

  • Australia Awards Scholarship (AAS)
  • Fulbright Scholarship
  • Chevening Scholarship
  • Beasiswa LPDP

Felix sempat mengikuti seleksi Australia Awards, namun tidak berhasil lolos. Ia kemudian mencoba kesempatan lain dengan mengikuti program English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Australia.

Di tengah berbagai upaya tersebut, Felix akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaftar Beasiswa LPDP.

"Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir LPDP juga bagus ini." ucapnya.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Felix akhirnya berhasil mendapatkan Beasiswa LPDP dan melanjutkan studi Master of Education di The University of Adelaide, Australia.

Memilih Pulang ke Tanah Papua

Setelah menyelesaikan pendidikan di Australia, berbagai peluang karier terbuka bagi Felix. Salah satunya adalah kesempatan untuk membantu staf atau tenaga ahli dari seorang anggota DPD RI di Jakarta.

Namun, Felix memilih jalan berbeda. Ia memutuskan pulang ke Papua dan mengabdikan diri sebagai guru honorer di Nabire.

Sejak tahun 2019, aktivitasnya dipenuhi kegiatan mengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Rutinitas Felix antara lain:

  • Mengajar sebagai guru honorer di SMA Negeri 1 Plus KPG (Kolese Pendidikan Guru) Nabire
  • Mengajar di Unit Pelaksana Program PGSD milik Universitas Cenderawasih di Nabire
  • Mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM)
  • Menjadi tutor Bahasa Inggris di sekolah persiapan Imam Katolik

Sebagian besar siswa yang diajar Felix berasal dari daerah pedalaman Papua. Dalam proses belajar mengajar, ia sering menemukan kondisi yang memprihatinkan.

Banyak siswa tingkat SMA yang belum lancar membaca, menulis, bahkan melakukan perkalian dasar.

"Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA." tuturnya.

Tetap Mengabdi Demi Anak-anak Papua

Keputusan Felix untuk menolak peluang karier besar demi kembali ke tanah kelahirannya bukan hal mudah. Namun bagi Felix, keberadaannya sangat dibutuhkan oleh anak-anak Papua yang masih menghadapi keterbatasan pendidikan.

Ia merasa kehadirannya sebagai guru dapat membantu membuka masa depan generasi muda di wilayah tersebut.

"Kalau saya menghilang, itu tidak baik," katanya.

Kisah Felix Degei menjadi gambaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang meraih gelar tinggi, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut kembali digunakan untuk membangun daerah dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Tag Terkait:#kisah inspiratif#Beasiswa LPDP#Inspirasi Pendidikan#Felix Degei#Guru Honorer#Tokoh Pendidikan Indonesia#Pendidikan Papua#University Of Adelaide#Mahasiswa Indonesia Di Luar Negeri#Pendidikan Daerah Terpencil
WI

Penulis: Widiyanto

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!