Beranda/Berita Kampus/Inovatif! Dua Siswi SMA Ciptakan Tempe Biji Trembesi yang Berpotensi Atasi Diabetes, Hingga Raih Juara ISPO
Berita Kampus

Inovatif! Dua Siswi SMA Ciptakan Tempe Biji Trembesi yang Berpotensi Atasi Diabetes, Hingga Raih Juara ISPO

Dua siswi dari SMA Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, berhasil menciptakan inovasi tempe dari biji trembesi yang berpotensi membantu mengatasi diabetes. Temuan ini menunjukkan bahwa tempe dari biji trembesi memiliki kandungan zat antihiperglikemik yang lebih tinggi dibandingkan tempe kedelai biasa.

WI
By Widiyanto
•9 September 2026•5 Menit Baca•23 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Inovatif! Dua Siswi SMA Ciptakan Tempe Biji Trembesi yang Berpotensi Atasi Diabetes, Hingga Raih Juara ISPO

Dua siswi dari SMA Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, berhasil menciptakan inovasi tempe dari biji trembesi yang berpotensi membantu mengatasi diabetes. Temuan ini menunjukkan bahwa tempe dari biji trembesi memiliki kandungan zat antihiperglikemik yang lebih tinggi dibandingkan tempe kedelai biasa.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Wini Naura Inarsih dan Queena Belva Ayra Maulana, siswi kelas 11 yang terdorong melakukan riset karena pengalaman pribadi Wini. Ia terinspirasi dari kondisi neneknya yang menderita diabetes dan tidak diperbolehkan dokter mengonsumsi tempe kedelai, padahal tempe merupakan makanan favoritnya.

"Jadi sedikit cerita, nenek saya penderita diabetes dan kemarin sempat saya pulang ke kampung. Terus kata dokternya nggak dibolehin untuk makan tempe biasa. Terus kebetulan juga nenek saya penyuka tempe banget, sampai tante saya yang merawat nenek itu bilang 'nenek harus makannya dengan tempe, nasinya harus perfect serving," kata Wini saat menceritakan risetnya di SMA Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada Minggu (8/3/2026) lalu, ditulis Rabu (11/3/2026).

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Berangkat dari situasi tersebut, Wini bersama temannya Queena memutuskan untuk mencari bahan alternatif selain kedelai untuk membuat tempe. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada biji trembesi (Samanea saman).

Awal Mula Penelitian Tempe Biji Trembesi

Menurut Queena, pemilihan biji trembesi berawal dari pengamatan sederhana terhadap lingkungan sekitar. Pohon trembesi yang cukup familiar ditemukan di sekitar rumah Wini menjadi ide awal penelitian mereka.

"Pohonnya sendiri itu sangat familiar, waktu itu ada di dekat rumah Wini. Dan buahnya itu dia kayak kacang polong, terus di atasnya ada bijinya, terus ini bijinya aku sama bunda sendiri di rumah bikin tempe seperti itu. Kita baca-baca jurnal, dan belum ada yang membuat (tempe) biji trembesi ini, dan menggabungkan teknologi fermentasi, sehingga teknologi fermentasi itu bisa membangunkan senyawa bioaktif," demikian jawab Queena.

Mereka kemudian membuat tempe menggunakan ragi tempe yang dibeli dari toko online. Dari proses fermentasi tersebut, ditemukan beberapa senyawa bioaktif penting yang muncul, yaitu:

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
  1. Flavonoid
  2. Tanin
  3. Saponin

Ketiga senyawa ini dikenal memiliki potensi aktivitas antihiperglikemik yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah.

Foto: Ilustrasi

Uji Coba pada Mencit Diabetes

Setelah berhasil membuat tempe dari biji trembesi, Wini dan Queena melanjutkan penelitian dengan melakukan uji coba pada hewan laboratorium. Mereka menggunakan mencit atau tikus putih (Mus musculus) yang telah diinduksi diabetes.

"Saat itu kami beli 30 mencit putih, lalu kami ujikan di laboratorium FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta," ujar Queena.

Selama beberapa bulan, mereka secara rutin memantau kondisi mencit di laboratorium hewan dengan bimbingan dokter hewan dan pakar peternakan. Proses uji laboratorium fitokimia dilakukan dalam waktu singkat, namun pembacaan hasilnya dilakukan secara bertahap selama beberapa hari.

Hasil Penelitian yang Menjanjikan

Hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah pada mencit yang diberikan tempe biji trembesi. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan mencit yang diberikan obat diabetes standar yang dapat dibeli secara daring.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

"Untuk hasilnya kita bandingkan dengan obat standar, yang bisa dibeli di e-commerce. Jadi kita bandingkan itu, standar medikasinya, dengan tempe trembesi milik kami, itu hasilnya lebih tinggi tempe biji trembesi daripada obat standar," jelas Wini.

Meski demikian, keduanya menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap uji hewan. Untuk memastikan manfaatnya bagi manusia, diperlukan uji klinis lanjutan yang tentunya memerlukan waktu dan penelitian lebih mendalam.

Raih Medali Emas ISPO 2025

Berkat penelitian tersebut, proyek ilmiah Wini dan Queena kemudian didaftarkan dalam ajang Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) 2025 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Foto: Nograhany Widhi Koesmawardhani/detikcom

Hasilnya, penelitian mereka berhasil meraih medali emas dalam kompetisi tersebut yang diumumkan pada Februari 2026.

"Alhamdulillah, perasaan kami sebenarnya tidak terlalu expect, karena kita sempat mendaftar ke beberapa lomba sebelumnya dan fail, sebelum ini sempat lolos, sampai akhirnya di sekolah ini, Alhamdulillah tidak disangka bahwa kami lolos dan mendapatkan medal, itu yang senang sekali dan kebetulan kami memiliki one same passion," tutur Wini.

Rencana Penelitian Lanjutan

Untuk pengembangan riset berikutnya, Wini dan Queena berencana melakukan uji perbandingan antara tempe biji trembesi dengan tempe kedelai biasa.

"Jadi, untuk selanjutnya, kami berharap untuk membuat uji perbandingan dengan tempe kedelai lalu kami bandingkan, seberapa efektifnya, daripada uji tempe trembesi itu. Jadi, agar lebih meyakinkan, bahwa uji tempe trembesi lebih efektif, daripada uji tempe kedelai," jelas mereka yang berencana kembali mengikuti ISPO 2026 dengan penelitian terbaru.

Selain melanjutkan penelitian, keduanya juga memiliki rencana melanjutkan studi di bidang biologi, kedokteran, atau biomedis.

Peran Sekolah dalam Mendukung Riset Siswa

Kepala Sekolah SMA Kharisma Bangsa Muhammad Budiawan menjelaskan bahwa sekolah memiliki sistem pembimbingan khusus bagi siswa yang mengikuti kompetisi ilmiah.

"Dan prosesnya tentu saja hal pertama yang kita lakukan adalah memilih kira-kira permasalahan apa yang paling urgent untuk diselesaikan. Kemudian siswa yang datang untuk bisa mengurai permasalahan tersebut. Sebutkan tiga yang paling urgent untuk diselesaikan, dan kemudian mengurai tiga solusinya yang paling mungkin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Yang feasible dan juga secara biaya itu bisa diproduksi dengan benar," demikian urai Pak Awan.

Setelah itu, siswa diarahkan melakukan penelitian awal serta studi literatur sebelum menyusun proposal proyek ilmiah.

"Dan kemudian menyimpulkan kira-kira apa saja yang diperlukan, baik alat untuk penelitian, termasuknya antara instrumen yang dikasih untuk pekerjaan pengujian. Setelah itu pelaksanaan penelitian dengan pembimbingan," urai Pak Awan.

Sekolah juga tidak hanya memfasilitasi siswa yang berbakat di bidang sains. Bakat di bidang seni, bahasa, hingga olahraga juga mendapatkan dukungan untuk mengikuti berbagai kompetisi.

"Bagi siswa yang suka menulis puisi, desain-desain seperti ini dan juga seni, bahkan olahraga juga kami fasilitasi," ujar Pak Awan.

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Tag Terkait:#Prestasi Siswa Indonesia#Tempe Trembesi#Penelitian Siswa SMA#Inovasi Pelajar Indonesia#ISPO 2025#Sains Pelajar Indonesia#Diabetes#Fermentasi Pangan#SMA Kharisma Bangsa#Penelitian Biologi
WI

Penulis: Widiyanto

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!