Beranda/Nasional/Guru Besar UGM: 57 Ribu Orang Utan Terdampak Karhutla di Kalimantan, Ancaman Kehilangan Habitat Kian Serius
Nasional

Guru Besar UGM: 57 Ribu Orang Utan Terdampak Karhutla di Kalimantan, Ancaman Kehilangan Habitat Kian Serius

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan dan pencemaran udara, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang menghuni kawasan tersebut.

Agnes Z. YonatanBy Agnes Z. Yonatan•19 Oktober 2026•5 Menit Baca•6 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Guru Besar UGM: 57 Ribu Orang Utan Terdampak Karhutla di Kalimantan, Ancaman Kehilangan Habitat Kian Serius

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan dan pencemaran udara, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang menghuni kawasan tersebut. Orang utan menjadi salah satu spesies yang menghadapi dampak serius akibat rusaknya habitat alami mereka.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, mengungkapkan bahwa sekitar 57.000 orang utan terdampak karhutla di Kalimantan. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen atau setara 34.200 individu disebut mengalami dampak yang sangat berat, terutama akibat hilangnya habitat.

Temuan tersebut disampaikan Wisnu dalam siniar UGM bertajuk Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya, sebagaimana diberitakan detikEdu pada Minggu (18/10/2026).

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran hutan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Kerusakan ekosistem yang ditinggalkan dapat memengaruhi kehidupan satwa dalam jangka panjang, khususnya spesies yang sangat bergantung pada keberadaan hutan.

Ketika Hutan Terbakar, Orang Utan Kehilangan Rumah dan Sumber Kehidupan

Bagi orang utan, pepohonan bukan sekadar tempat berlindung, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Dahan dan tajuk pohon menjadi ruang untuk beraktivitas, sementara daun, pucuk tanaman, serta buah-buahan menyediakan sumber makanan dan kebutuhan cairan.

Ketika kebakaran melanda, berbagai kebutuhan tersebut ikut menghilang. Orang utan yang biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon terpaksa mencari sumber makanan dan air di tempat lain, termasuk turun ke permukaan tanah.

Namun, kondisi tersebut justru menghadirkan ancaman tambahan. Pada kawasan bergambut, api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya tidak lagi memperlihatkan kobaran yang jelas. Satwa yang melintasi lahan tersebut berisiko mengalami luka bakar pada kaki akibat panas dan bara yang masih tersimpan.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Selain menyebabkan hilangnya sumber makanan, kebakaran juga mengurangi keberagaman tumbuhan yang diperlukan orang utan untuk mempertahankan kesehatannya.

Wisnu menjelaskan bahwa orang utan memiliki kemampuan memilih tumbuhan tertentu untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan. Perilaku ini dikenal sebagai self-medication, yakni kemampuan satwa menggunakan sumber daya alami untuk membantu proses penyembuhan diri.

Dalam penelitiannya di kawasan Sebangau, Kalimantan, Wisnu menemukan keterkaitan antara pemanfaatan tumbuhan oleh orang utan dan pengetahuan masyarakat Dayak mengenai tanaman obat. Hal tersebut menunjukkan pentingnya keberagaman vegetasi hutan bagi kehidupan satwa maupun pengetahuan tradisional masyarakat setempat.

Paparan Asap Memperbesar Risiko Gangguan Kesehatan

Ancaman karhutla terhadap orang utan tidak hanya berasal dari api dan kerusakan pepohonan. Asap yang menyelimuti kawasan hutan turut menimbulkan berbagai persoalan kesehatan bagi satwa yang terpapar.

Menurut Wisnu, iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan termasuk gangguan kesehatan yang kerap ditemukan pada orang utan terdampak kebakaran.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Paparan asap dapat mengganggu sistem pernapasan, terlebih apabila berlangsung dalam waktu lama. Pada kondisi yang berat, gangguan tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan serius hingga menyebabkan kematian.

Risiko tersebut semakin mengkhawatirkan karena orang utan yang kehilangan habitat juga menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan dan tempat berlindung. Kondisi lingkungan yang tidak lagi mendukung dapat mengurangi kemampuan mereka untuk bertahan hidup.

Salah satu peristiwa yang memperlihatkan dampak nyata karhutla adalah kematian Sampurna, seekor orang utan jantan yang ditemukan dalam kondisi lemah dengan gangguan pernapasan berat di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 30 Agustus 2026. Meski sempat dievakuasi dan mendapat pertolongan, Sampurna tidak berhasil diselamatkan.

Banyak Kematian Satwa Diduga Belum Terungkap

Besarnya kawasan hutan menjadi tantangan tersendiri dalam mengetahui jumlah satwa liar yang menjadi korban kebakaran. Tidak semua wilayah dapat dijangkau petugas, sehingga kondisi hewan yang berada jauh di dalam hutan sering kali tidak terpantau.

Wisnu menyebutkan bahwa luas habitat orang utan di Kalimantan mencapai sekitar 1,9 juta hektare, sedangkan di Sumatra sekitar 1,1 juta hektare.

Dengan wilayah seluas itu, proses pemantauan tidak dapat menjangkau seluruh kawasan secara menyeluruh. Temuan satwa yang terluka maupun mati lebih memungkinkan dilakukan di lokasi yang memiliki akses dan sering dilalui manusia.

Sementara itu, nasib satwa yang berada di bagian dalam hutan masih sulit diketahui. Situasi ini memunculkan dugaan bahwa jumlah kematian akibat karhutla sebenarnya lebih besar daripada yang berhasil didokumentasikan.

Meski demikian, belum tersedia angka pasti mengenai jumlah orang utan yang mati akibat kebakaran tersebut. Angka 57.000 yang disampaikan Wisnu merujuk pada orang utan yang terdampak, bukan jumlah individu yang kehilangan nyawa.

Perlindungan Habitat Jadi Kunci Kelangsungan Hidup Orang Utan

Dampak karhutla terhadap orang utan menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan tidak dapat dinilai hanya dari luas lahan yang terbakar. Hilangnya pepohonan, berkurangnya ketersediaan pakan, serta meningkatnya risiko penyakit turut memperbesar tekanan terhadap populasi satwa liar.

Di sisi lain, orang utan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis. Aktivitas mereka mengonsumsi buah dan menyebarkan biji membantu proses regenerasi tumbuhan secara alami.

Karena itu, berkurangnya populasi orang utan dapat berdampak pada keberlangsungan ekosistem hutan dalam jangka panjang.

Upaya pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan habitat, penyelamatan satwa terdampak, serta pemulihan vegetasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan orang utan di alam liar.

Peristiwa karhutla di Kalimantan sekaligus menjadi pengingat bahwa kerusakan hutan membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan. Di balik lahan yang hangus, terdapat kehidupan ribuan satwa yang harus menghadapi perubahan lingkungan dan ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.

Baca Juga: UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Agnes Z. Yonatan

Penulis: Agnes Z. Yonatan

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!