Beranda/Nasional/Bahasa Inggris Wajib Diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah Mulai 2027, Kemenag Siapkan Pelatihan Guru
Nasional

Bahasa Inggris Wajib Diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah Mulai 2027, Kemenag Siapkan Pelatihan Guru

Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah pada tahun ajaran 2027/2028 menghadirkan tantangan baru bagi Kementerian Agama.

Agnes Z. YonatanBy Agnes Z. Yonatan•15 Oktober 2026•6 Menit Baca•3 Dilihat•0 Komentar
ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Bahasa Inggris Wajib Diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah Mulai 2027, Kemenag Siapkan Pelatihan Guru

Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada jenjang pendidikan dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan tersebut akan berlaku bagi siswa kelas 3 sekolah dasar (SD) maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI), sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan berbahasa Inggris sejak usia sekolah.

Namun, penerapan kebijakan ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan kurikulum. Kesiapan tenaga pendidik menjadi salah satu tantangan utama, terutama di lingkungan madrasah yang memiliki guru dengan latar belakang pendidikan beragam.

Kementerian Agama (Kemenag) mengakui bahwa persiapan pengajaran Bahasa Inggris di MI sempat menghadirkan kebingungan. Pasalnya, kementerian perlu memastikan guru kelas mampu mengajarkan mata pelajaran tersebut meskipun sebagian besar tidak memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenag menjalin kerja sama dengan British Council melalui program penguatan kemampuan mengajar Bahasa Inggris yang berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan penyediaan bahan pembelajaran.

Kesiapan guru menjadi tantangan penerapan kurikulum baru

Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, Direktorat GTK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Rini Rizki Rahmayani, mengungkapkan bahwa pihaknya menghadapi tantangan dalam mempersiapkan tenaga pengajar Bahasa Inggris di MI.

Persoalan tersebut muncul karena Kemenag tidak melakukan rekrutmen guru Bahasa Inggris secara khusus untuk memenuhi kebutuhan pengajaran pada jenjang MI.

Sebagai gantinya, guru kelas yang telah mengajar di madrasah perlu dipersiapkan agar memiliki kemampuan memberikan pembelajaran Bahasa Inggris kepada siswa.

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Menurut Rini, kondisi tersebut menjadi pekerjaan besar karena banyak guru MI berasal dari latar belakang pendidikan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) atau disiplin ilmu lain yang tidak secara khusus berfokus pada Bahasa Inggris.

"Karena kita tidak merekrut guru bahasa Inggris, tetapi membuat guru kelas di Madrasah Ibtidaiyah ini mengajarkan bahasa Inggris yang mungkin latar belakang pendidikannya justru bukan di sana," ujar Rini seusai peluncuran program pelatihan di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Tantangan tersebut semakin besar mengingat waktu persiapan menuju penerapan kebijakan pada tahun ajaran 2027/2028 semakin terbatas.

Dengan demikian, peningkatan kemampuan guru menjadi salah satu aspek penting agar Bahasa Inggris dapat diajarkan sesuai kebutuhan siswa dan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Kemenag gandeng British Council untuk meningkatkan kompetensi guru

Sebagai bagian dari persiapan kebijakan, Kemenag bekerja sama dengan British Council melalui program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP).

SPONSORED CONTENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container

Program ini dirancang untuk membantu guru mengembangkan kemampuan mengajar Bahasa Inggris melalui pendekatan pembelajaran kolaboratif.

Rini menyampaikan bahwa program yang ditawarkan British Council memiliki struktur pelatihan yang jelas, termasuk pendekatan untuk mengukur dampak pelaksanaannya.

Menurutnya, metode yang digunakan dalam program tersebut dapat menjadi acuan bagi pengembangan pelatihan tenaga pendidik pada bidang lainnya.

Kemenag pun menyambut kerja sama ini sebagai salah satu langkah untuk mempersiapkan guru MI menghadapi perubahan kebutuhan pembelajaran.

Melalui program tersebut, tenaga pendidik diharapkan tidak hanya memperoleh materi pembelajaran Bahasa Inggris, tetapi juga keterampilan untuk menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Salah satu pendekatan utama yang digunakan British Council dalam pelatihan guru adalah Communities of Practice (CoP), yakni model pengembangan kompetensi melalui komunitas belajar dan pertukaran pengalaman antarpeserta.

School Systems Lead British Council, Buyung Sudrajat, menjelaskan bahwa metode tersebut telah diterapkan dalam program pelatihan di negara lain, termasuk Mesir dan Viet Nam.

Dalam pelaksanaan sebelumnya, pendekatan serupa telah menjangkau hingga 16 ribu peserta.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar penggunaan metode CoP untuk mendukung pelatihan guru Bahasa Inggris di madrasah Indonesia.

Buyung mengakui bahwa keberagaman latar belakang pendidikan guru MI menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, pendekatan pelatihan berbasis komunitas dinilai dapat mengakomodasi perbedaan kemampuan dan pengalaman peserta.

Berbeda dari program yang mengandalkan fasilitator internasional, pelatihan ini akan melibatkan tenaga pendidik dan praktisi pendidikan dari tingkat lokal.

Guru, pengawas sekolah, dosen, serta praktisi pendidikan yang memiliki kompetensi dan pengalaman memfasilitasi pembelajaran akan dilibatkan untuk mendampingi peserta lainnya.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan proses pengembangan kemampuan mengajar yang lebih dekat dengan kebutuhan guru di lapangan.

Dengan melibatkan fasilitator dari lingkungan pendidikan setempat, program pelatihan juga diarahkan untuk memperkuat budaya belajar bersama di antara para tenaga pendidik.

Guru MI akan memperoleh berbagai bahan ajar Bahasa Inggris

Selain meningkatkan kemampuan mengajar, penyediaan sumber pembelajaran menjadi salah satu perhatian utama dalam program kerja sama Kemenag dan British Council.

Buyung menjelaskan bahwa guru MI nantinya akan memperoleh akses terhadap berbagai bahan ajar yang telah disusun dan disesuaikan dengan capaian pembelajaran dalam kurikulum.

Sumber pembelajaran tersebut tidak hanya berupa buku teks, tetapi juga mencakup rancangan kegiatan belajar, materi aktivitas kelas, hingga lagu yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Berbagai bahan tersebut telah dipetakan dalam bentuk panduan atau booklet untuk memudahkan guru menentukan materi yang sesuai dengan topik pembelajaran.

Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi perkenalan atau introduction, guru dapat memilih sumber pembelajaran yang telah disediakan berdasarkan kebutuhan kelas.

Melalui penyediaan bahan ajar tersebut, guru diharapkan memiliki lebih banyak pilihan metode pembelajaran yang dapat digunakan sesuai kondisi siswa.

Namun, British Council menekankan bahwa materi yang tersedia tidak dirancang untuk diterapkan secara seragam di seluruh madrasah.

Perbedaan kemampuan siswa, lingkungan sekolah, serta kebutuhan pembelajaran membuat setiap guru perlu menyesuaikan penggunaan bahan ajar.

Oleh karena itu, program pelatihan juga mencakup pendampingan agar guru mampu memilih, memahami, dan mengadaptasi materi pembelajaran secara mandiri.

Dalam pelaksanaan lokakarya atau workshop CoP, guru akan dilatih untuk mengakses sumber pembelajaran Bahasa Inggris yang telah disediakan British Council.

Peserta juga akan mempelajari cara menentukan bahan ajar yang paling sesuai dengan materi pembelajaran dan kemampuan siswa.

Selain memilih materi, guru akan dibekali keterampilan untuk memodifikasi kegiatan pembelajaran agar dapat diterapkan secara efektif dalam lingkungan kelas masing-masing.

Menurut Buyung, pendekatan tersebut penting karena setiap kelas memiliki karakteristik berbeda yang tidak dapat disamakan sepenuhnya.

Guru dinilai sebagai pihak yang paling memahami kondisi peserta didiknya, sehingga perlu diberikan ruang dan keterampilan untuk menyesuaikan metode pembelajaran.

Melalui pendekatan ini, program pelatihan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris tenaga pendidik, tetapi juga memperkuat keterampilan pedagogis dalam menyampaikan materi kepada siswa sekolah dasar.

Penyesuaian bahan ajar menjadi bagian penting agar pembelajaran Bahasa Inggris dapat berlangsung sesuai tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa MI.

Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD dan MI pada tahun ajaran 2027/2028 menjadi salah satu perubahan dalam pembelajaran bahasa asing di tingkat pendidikan dasar.

Di lingkungan madrasah, kebijakan tersebut membutuhkan persiapan yang mencakup peningkatan kemampuan tenaga pendidik, penyediaan bahan ajar, serta pengembangan metode pembelajaran yang sesuai.

Kerja sama antara Kemenag dan British Council melalui program STEPS-CoP menjadi salah satu langkah untuk membantu guru kelas menghadapi tanggung jawab mengajar Bahasa Inggris.

Melalui pelatihan berbasis komunitas dan penyediaan sumber pembelajaran, guru MI diharapkan memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut meskipun tidak seluruhnya berasal dari latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

Meski demikian, kesiapan tenaga pendidik tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan kebijakan di sekolah.

Program pelatihan yang diselenggarakan menjelang tahun ajaran 2027/2028 diharapkan dapat membantu proses adaptasi guru terhadap perubahan kurikulum sekaligus mendukung penguatan pendidikan Bahasa Inggris sejak jenjang dasar.

Dengan demikian, penerapan kebijakan tidak hanya berfokus pada penambahan mata pelajaran wajib, tetapi juga pada kesiapan guru dan ketersediaan sumber pembelajaran yang mendukung kegiatan belajar mengajar di madrasah.

Baca Juga: 20 Negara Tujuan Favorit Awardee LPDP 2026 Tahap I, Inggris Paling Diminati untuk Studi Luar Negeri!

ADVERTISEMENTKamusMahasiswa Network
Prefetch Container
Agnes Z. Yonatan

Penulis: Agnes Z. Yonatan

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Memeriksa status sesi...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!