Wamen Stella: Penguasaan Data Jadi Kunci Indonesia Bersaing di Era Kecerdasan Buatan
Wamen Stella menilai Indonesia perlu memperkuat penguasaan data agar mampu bersaing di era kecerdasan buatan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menilai Indonesia perlu memperkuat penguasaan data agar mampu bersaing di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Selain memahami teknologi, kekayaan data dinilai menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan AI di masa depan.
Table Of Content
Pernyataan tersebut disampaikan Stella saat menjadi pembicara dalam sesi Fireside Chat bertema Education and AI pada forum Sino-Indonesian Next Generation Dialogue (SINGD) 2026 yang digelar di Tsinghua Southeast Asia Center.
AI Dinilai Sebagai Peluang bagi Indonesia
Dalam pemaparannya, Stella mengajak generasi muda untuk memandang perkembangan AI sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan. Menurutnya, Indonesia perlu menyusun strategi yang sesuai dengan potensi dan karakteristik yang dimiliki agar dapat mengambil manfaat dari perkembangan teknologi tersebut.
Ia menekankan bahwa peluang yang tersedia sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia, sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal.
Data Menjadi Fondasi Pengembangan AI
Stella menjelaskan bahwa pengembangan teknologi AI bergantung pada tiga komponen utama, yaitu algoritma, daya komputasi (computing power), dan data. Dari ketiga unsur tersebut, ia menilai Indonesia memiliki keunggulan pada aspek data.
Menurutnya, data merupakan elemen penting dalam pengembangan model AI. Tanpa data yang memadai, algoritma dan kemampuan komputasi yang baik tidak akan mampu menghasilkan sistem AI yang optimal.
Indonesia, lanjut Stella, memiliki beragam sumber data dari berbagai sektor yang dapat dimanfaatkan sebagai aset strategis untuk mendukung inovasi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem AI global.
Pendidikan dan Riset Perlu Diperkuat
Selain mengoptimalkan pemanfaatan data, Stella menegaskan bahwa peningkatan daya saing Indonesia di bidang AI juga membutuhkan investasi jangka panjang, terutama pada sektor pendidikan tinggi, pengembangan talenta, dan riset.
Berdasarkan pengalamannya sebagai akademisi di Amerika Serikat dan China, ia menilai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Diperlukan komitmen yang berkelanjutan untuk membangun sumber daya manusia yang unggul serta memperkuat ekosistem penelitian.
Melalui investasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu berperan dalam pengembangan dan inovasi kecerdasan buatan di tingkat global.
Baca Juga: 80% Beasiswa LPDP Kini Diprioritaskan untuk STEM, Upaya Pemerintah Siapkan SDM Masa Depan