Tembus 60 Ribu Pendaftar, Panitia PMB PTKIN 2026 Jamin Mutu dan Validitas Sistem Seleksi
Per tanggal 13 Mei kemarin, tercatat sudah ada lebih dari 60 ribu orang yang mendaftar di UM-PTKIN 2026.
Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PMB PTKIN) mengadakan konferensi pers di The Grand Platinum, Jakarta, pada Rabu (13/5/2026). Pertemuan ini digelar untuk memaparkan progres seleksi masuk perguruan tinggi Islam negeri tahun ini.
Tren Pendaftar dan Strategi Menjaga Eksistensi Prodi Keagamaan
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Dr. Abd Aziz, menyampaikan bahwa dari total kuota sekitar 80 ribu kursi yang disediakan, saat ini sudah ada 60 ribu calon mahasiswa yang mendaftar. Mengingat pendaftaran baru akan ditutup pada 30 Mei mendatang, panitia memprediksi jumlah ini akan terus melonjak hingga menjelang penutupan.
Selain memaparkan data pendaftaran, Prof. Aziz menyoroti pentingnya menjaga eksistensi program studi keagamaan murni yang cenderung sepi peminat, seperti Ilmu Hadis serta Akidah dan Filsafat Islam. Sebagai upaya nyata mempertahankan prodi yang dinilai sebagai fondasi utama PTKIN tersebut, pihak panitia menyiapkan insentif berupa beasiswa khusus. Beasiswa ini bersumber dari internal kampus maupun program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB).
Baca Juga: Inilah Daftar Lengkap 22 Prodi UM-PTKIN 2026 UIN Madura, Simak Rincian Daya Tampungnya!
Jaminan Kualitas Sistem dan Fasilitas Ujian yang Inklusif
Dari aspek teknis pelaksanaan, Koordinator Penjamin Mutu PMB PTKIN, Prof. Zulfahmi Alwi, M.Ag., Ph.D., menjamin bahwa kualitas ujian berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE) sangat terjaga dan objektif. Sinkronisasi antara tim perumus soal dan pengembang sistem terus dimatangkan, dibarengi dengan pengawasan ketat di setiap lokasi ujian demi meminimalkan kecurangan.
Dukungan terhadap kelancaran ujian ini juga diamini oleh Bendahara Forum Pimpinan PTKN, Prof. Dr. Mairtin Kustanti, M.Pd. Ia menegaskan bahwa anggaran operasional di setiap kampus telah dioptimalkan untuk membenahi sarana prasarana. Fokus utama alokasi dana tersebut diarahkan untuk membangun fasilitas ujian yang ramah dan inklusif bagi para pendaftar disabilitas, guna memastikan kendala teknis di lapangan dapat dihindari.