Kisah Ratna Dilla, Anak Tukang Bordir yang Lolos ITB Tanpa Sepengetahuan Orangtua, Simak Tips Belajarnya
Ratna Dilla Safarina (18), siswi SMAN 1 Subang, tak menyangka langkah diam-diamnya mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) justru berbuah manis. Dilla, anak bungsu dari Arif Sarifudin (60),...
Ratna Dilla Safarina (18), siswi SMAN 1 Subang, tak menyangka langkah diam-diamnya mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) justru berbuah manis. Dilla, anak bungsu dari Arif Sarifudin (60), tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, dengan sang ayah bekerja sebagai tukang bordir sekaligus pedagang seragam sekolah di kawasan padat penduduk di Subang.
Table Of Content
Diam-Diam Mendaftar
Sejak awal, Dilla mengaku tidak menargetkan masuk ITB. Ia bahkan tidak memberi tahu orangtuanya saat mendaftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
“Dari kelas 10 itu enggak menunjukkan terlalu gimana-gimana gitu sampai orang-orang di sekolah pun enggak banyak yang tahu gitu saya ada keinginan untuk ke ITB,” ujar Ratna Dilla Safarina.
Baca juga: Dua Pelajar SMK Asal Depok Berhasil ‘Bobol’ Sistem Keamanan NASA, Kini Dapat Penghargaan Dari NASA
Orangtua Dilla sempat menyarankan agar ia melanjutkan kuliah di daerah Subang demi mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga.
“Namun saya tak putus harapan, tiap tahun berusaha dan waktu kelas 10-11 ada beberapa guru nganjurin untuk ikut beberapa lomba OSN dan saya juga enggak kepikiran mau ke ITB, sehingga slotnya dikasihkan ke teman-teman yang benar-benar ingin ke ITB,” katanya.
Memasuki kelas 12, ia mulai memberanikan diri mencoba SNBP dengan dua pilihan kampus, yakni ITB dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
“Saya nekat tidak bilang ke orangtua. Kan namanya juga coba-coba belum tahu juga keterima atau enggaknya jadi ya udah saya cobain aja dulu,” ungkapnya.
Hasilnya di luar dugaan. Pada pengumuman 31 Maret 2026, Dilla dinyatakan lolos di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.
“Ngerasa bersalah juga sih enggak jujur diawal ke orangtua daftar ke ITB. Orangtua tahu pas saya udah keterima di ITB,” ucapnya.
Pola Belajar Disiplin
Di balik keberhasilannya, Dilla menjalani rutinitas belajar yang sangat disiplin. Hari-harinya hampir sepenuhnya diisi dengan aktivitas akademik:
- Pukul 06.00–15.00 WIB: kegiatan sekolah
- Sore hingga menjelang Maghrib: ekstrakurikuler
- Malam hari hingga pukul 22.00 WIB: belajar mandiri
- Pukul 03.00 WIB: bangun untuk belajar sebelum Subuh
“Bangun lagi jam 03.00 WIB terus belajar sampai Shubuh, dilanjut berangkat ke sekolah,” sambung dia.
Motivasi untuk menembus ITB juga muncul dari lingkungan sekolahnya. Ia terinspirasi oleh guru-guru lulusan ITB yang dinilai memiliki kualitas mengajar yang menonjol.
“Guru-guru lulusan ITB itu mengajarnya sangat menonjol, berprestasi, dan banyak yang dapat beasiswa. Itu yang menginspirasi saya,” katanya.
Sejak kecil, setiap melintasi kawasan kampus ITB di Bandung, ia kerap membayangkan bisa berkuliah di sana.
“Selalu bilang ke orangtua ingin sekali kuliah di situ. Sekarang kesampaian,” ucapnya.
Orangtua Sempat Khawatir Biaya
Ayah Dilla, Arif Syarifudin, mengaku terkejut saat mengetahui anaknya diterima di ITB, terlebih karena tidak mengetahui proses pendaftaran tersebut sejak awal.
“Dila itu tidak pernah bilang daftar ke ITB. Saya tahunya dari kakaknya di Bandung,” kata Arif.
Kebahagiaan itu sempat bercampur dengan kekhawatiran terkait biaya pendidikan. Dengan penghasilan sebagai tukang bordir dan pedagang seragam, ia membayangkan besarnya biaya kuliah di ITB.
“Saya sudah membayangkan nolnya berapa banyak,” ujarnya.
Namun, kekhawatiran tersebut mulai mereda setelah Dilla mendapatkan dukungan beasiswa, termasuk dari program Paragon Scholarship serta bantuan pendidikan lain dari kampus.
“Alhamdulillah, sekarang ada yang membantu biaya pendidikannya,” kata Arif.
Bagi Arif, pendidikan anak merupakan kebanggaan tersendiri. Meski dirinya tidak mengenyam pendidikan tinggi, ketiga anaknya berhasil meraih gelar sarjana.
“Harapan orangtua, semoga anak-anak bisa jadi orang sukses,” pungkasnya.