SPP Nol Rupiah, Bayar dengan Inovasi: Perjalanan Arfian Fuadi Membangun Pendidikan Teknologi dari Bengkel Salatiga
“SPP, uang gedung, tidak ada sama sekali. Jadi dari tuition based education system menjadi innovation based education system,” kata Fajar Budi Laksono, direktur operasional saat...
“SPP, uang gedung, tidak ada sama sekali. Jadi dari tuition based education system menjadi innovation based education system,” kata Fajar Budi Laksono, direktur operasional saat menjelaskan konsep pendidikan yang diterapkan di Dtech Engineering, Salatiga.
Di institusi ini, mahasiswa tidak menggunakan uang untuk menyelesaikan studi. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan untuk menghasilkan karya inovatif. Konsep pendidikan yang satu ini merupakan gagasan dari Arfian Fuadi, pendiri Dtech Engineering.
Bagi yang belum mengetahui, Dtech Engineering adalah badan usaha yang bergerak di bidang teknologi dan rekayasa dengan kantor pusat di Salatiga, Jawa Tengah. Usaha ini didirikan Arfian Fuadi pada tahun 2009.
Secara umum, Dtech Engineering fokus pada bidang desain serta pembuatan produk teknologi industri, khususnya yang berkaitan dengan proses manufaktur presisi. Yang menjadi ciri khasnya, lembaga ini tidak mengenakan biaya apapun untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, namun mengharuskan peserta untuk memberikan ide atau hasil inovasi sebagai bentuk pengganti pembayaran.
Ide Arfian Fuadi mengenai sistem pendidikan berbasis inovasi tidak berasal dari latar belakang akademis atau keilmuan tertentu. Ia bukan seorang pakar pendidikan maupun analis kebijakan publik. Dahulu kala, ia hanya seorang penjaga bengkel yang merasa prihatin dengan perkembangan inovasi di tanah air.
Dari kesadaran itu lahirlah model pendidikan yang berbeda ini. Menurut Arfian, kemajuan teknologi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Ia melihat bahwa banyak permasalahan di Indonesia memiliki akar pada sistem pendidikan yang berlaku.
“Core problem Indonesia ternyata pendidikan. Misal inovasi lemah ya pendidikan, korupsi ya pendidikan lagi,” kata Arfian. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada inovasi.
Menurutnya, jika kaum muda Indonesia mampu menghasilkan produk teknologi secara mandiri, maka ketergantungan pada barang impor dapat dikurangi. Nilai impor barang nonmigas Indonesia bahkan mencapai angka sekitar Rp3.000 triliun setiap tahunnya. “Produk impor setengahnya aja dibikin Indonesia, pengangguran 8 juta itu hilang,” ujar Arfian.
Pendidikan Tanpa Biaya yang Dibayar dengan Hasil Karya
Program pendidikan yang dirancang Arfian dikenal dengan nama Sustainable Education Project. Mahasiswa yang diterima tidak dikenakan biaya apapun untuk pendidikan. Proses seleksi calon mahasiswa juga tidak menggunakan mekanisme yang rumit.
“Syarat nggak ada, cuma biasanya kualifikasi uji dengan membuat esai. Setelah proses esai kemudian interview. Baru masuk,” ujar Fajar. Setelah lulus seleksi, mahasiswa langsung terlibat dalam berbagai proyek industri.
Metode pembelajaran yang diterapkan adalah teaching factory. Artinya, proses belajar dilakukan dengan cara yang sama seperti bekerja di lingkungan industri sebenarnya. Mahasiswa tidak hanya mempelajari materi teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh tahapan mulai dari produksi, desain, hingga pengembangan produk.
“Kita kan vokasi, langsung praktik. Teori dua jam terus teaching factory di posisi masing-masing misal desainer atau operator,” jelas Fajar. Dalam sistem ini, mahasiswa mempelajari berbagai bidang keilmuan seperti desain teknik, keterampilan presentasi, pemasaran, hingga pembuatan identitas produk.
Program ini telah berjalan selama tiga angkatan dengan jumlah lebih dari 100 mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. “Sekitar 100 orang, sudah tiga angkatan. Tahun ini buka angkatan keempat,” kata Arfian pada tahun 2024 silam.
Salah satu hasil kerja sama antara mahasiswa dan industri adalah pembuatan kursi kereta api kelas eksekutif. Kursi tersebut saat ini telah digunakan di beberapa rute kereta api seperti Argo Bromo Anggrek, Taksaka, dan Dwipangga.
Sebelumnya, jenis kursi serupa banyak diimpor dari negara lain. “Angkatan kedua bikin kursi kereta, sudah di Argobrormo Anggrek. Untuk eksekutif dan luxury,” ujar Fajar. Proyek ini juga telah menciptakan kesempatan kerja bagi sekitar 200 orang pekerja.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang didirikan Arfian pada tahun 2009 ini telah berkembang melampaui skala lokal. Dtech Engineering telah mencatat bahwa mereka telah menangani sekitar 300 proyek dari lebih dari 150 mitra kerja yang berada di lebih dari 30 negara di dunia.
Proyek yang dikerjakan mencakup berbagai bidang teknologi mulai dari drone, komponen kereta api, hingga desain mesin pesawat terbang. Perusahaan ini bahkan pernah meraih kemenangan dalam kompetisi desain teknologi tingkat dunia yang diselenggarakan oleh General Electric.
Dalam ajang tersebut, Dtech Engineering merancang komponen bracket mesin jet yang memiliki bobot lebih ringan. Bracket adalah bagian yang berfungsi sebagai penyangga pada mesin untuk menjaga stabilitas posisi komponen lainnya.
Desain yang lebih ringan dapat mengurangi berat keseluruhan pesawat sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Tim dari Salatiga tersebut berhasil mengalahkan sekitar 40 tim riset dari berbagai negara di dunia. Jika melihat perjalanan hidupnya, karir Arfian Fuadi tidaklah mudah.
Sebelum mendirikan perusahaan teknologi ini, ia pernah bekerja sebagai penjaga bengkel, petugas keamanan malam di kantor pos Salatiga, pekerja percetakan foto, hingga pedagang sparepart. Kemudian ia membeli komputer bersama adiknya dan mulai menerima pesanan jasa desain teknik melalui platform crowdsourcing.
Proyek pertama mereka justru datang dari negara Jerman. Dari pesanan kecil tersebut, jaringan kerja yang menjangkau seluruh dunia mulai terbentuk. Kini Dtech Engineering memiliki sekitar 450 orang karyawan serta beberapa lokasi bengkel produksi.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat