Erni Tidak Lolos Masuk Fakultas Kedokteran, Namun Karyanya Kini Dipajang di Ajang Pameran Buku di Wilayah Timur Tengah
Kadangkala kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal serupa dialami Erni Puspita Sari, yang dulunya memiliki impian sederhana untuk menjadi dokter. Namun, jalannya hidup...
Kadangkala kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal serupa dialami Erni Puspita Sari, yang dulunya memiliki impian sederhana untuk menjadi dokter. Namun, jalannya hidup akhirnya membawanya memasuki dunia sastra dan penulisan.
Karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab kini telah dipajang di berbagai acara pameran buku internasional di kawasan Timur Tengah. Buku yang dibuatnya telah muncul di beberapa ajang bergengsi, antara lain Sharjah International Book Fair, Riyadh International Book Fair, serta pameran buku di Kuwait dan Jeddah pada akhir tahun 2025.
Bagi seorang penulis asal Indonesia yang bukan merupakan penutur bahasa Arab asli, pengalaman ini terasa seperti impian yang tiba-tiba menjadi kenyataan. “Tentu saja, perasaan saya campur aduk. Rasanya seperti mimpi. Bahkan setelah buku itu terpajang di empat tempat—di Uni Emirat Arab, Kuwait, International Book Fair Riyadh, dan Jeddah—saya masih sering merasa, ‘Ini benar terjadi atau hanya mimpi?’,” kata Erni dalam wawancara.
Penulis Non-Penutur Asli Menulis Langsung dalam Bahasa Arab dan Mendapatkan Apresiasi Salah satu aspek yang membuat cerita Erni menarik adalah keberaniannya untuk menulis langsung menggunakan bahasa Arab.
Di dunia penerbitan, hal ini jarang dilakukan oleh penulis yang bukan penutur asli bahasa tersebut. Menulis sebuah buku penuh dalam bahasa kedua memerlukan penguasaan yang kuat terhadap kosakata, struktur bahasa, serta nuansa budaya terkait.
Oleh karena itu, banyak pembaca di Timur Tengah justru merasa terkesan dan kagum. “Yang paling berharga bagi saya adalah bagaimana mereka begitu menghormati saya sebagai penulis non–native speaker bahasa Arab yang berani menulis buku langsung dalam bahasa Arab.
Mereka sangat menghargai hal itu dan sering menyampaikannya dengan pujian yang tulus,” terangnya.
Ketika Buku Berperan Sebagai Obat Bagi Para Pembaca
Selain apresiasi mengenai kemampuan berbahasa, tanggapan dari para pembaca juga menjadi salah satu hal yang paling menyentuhkan hati Erni. Beberapa orang mengaku menemukan kedamaian saat membaca halaman pertama karyanya.
“Ada pembaca yang mengatakan bahwa mereka sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, dan ketika membaca halaman pertama buku saya, mereka langsung merasa buku ini ‘berbicara’ kepada mereka dan memberi ketenangan,” imbuh Erni.
Pengalaman tersebut membuat Erni merasa seolah-olah sedang mewujudkan impian lamanya, meskipun melalui cara yang berbeda. Erni dulunya bercita-cita menjadi dokter yang dapat menyembuhkan banyak orang.
Kini, ia merasa masih bisa melakukan hal yang sama, meskipun dengan jalan yang berbeda pula. “Di situlah saya merasa, mungkin ini salah satu cara Allah memberi saya kesempatan untuk mewujudkan mimpi lama saya: menjadi seorang dokter—bukan dengan jas putih, tapi melalui buku.”
Apa yang Ada di Dalam Buku Itu?
Buku karya Erni Puspita Sari berjudul The Girl Who Was Saved by Books. Karya ini diterbitkan pada tahun 2025 melalui salah satu penerbit besar di Kuwait dan ditulis langsung dalam bahasa Arab tanpa bantuan penerjemah.
Penerbit hanya melakukan penyunting terkait aspek teknis sebelum naskah tersebut dicetak. Secara tema, buku ini berada pada perpaduan antara kategori self-help dan kesehatan mental. Dalam bukunya, Erni mengisahkan tentang seorang gadis yang bercita-cita menjadi dokter.
Ia ingin menjadi dokter agar dapat menyelamatkan kucing kesayangannya yang sedang sakit. Namun, jalan hidup tokoh dalam buku ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Impian untuk menjadi dokter secara perlahan bergeser ketika ia menemukan dunia lain yang juga memiliki kekuatan menyembuhkan, yaitu buku.
Dari sinilah muncul gagasan utama dalam cerita bahwa terkadang yang dapat menyelamatkan seseorang bukanlah profesi yang telah lama diimpikan, melainkan pengalaman membaca yang memberikan ruang untuk memahami diri sendiri.
Judul The Girl Who Was Saved by Books muncul dari pengalaman tersebut. Buku digambarkan sebagai tempat di mana seseorang dapat menemukan jawaban, kedamaian, serta cara baru untuk melihat kehidupan.
Melalui aktivitas membaca, tokoh utama belajar untuk mengobati luka batin yang sebelumnya sulit dipahaminya. “Buku adalah obat, dan perpustakaan adalah apotek. Dari situlah saya merasa tetap bisa jadi dokter, meski bukan dokter medis,” kata Erni.
Proses Penulisan Dimulai Sejak Masa Pandemi Proses penulisan buku ini sendiri memakan waktu yang cukup lama. Erni memulai penulisannya sejak masa pandemi pada tahun 2020. Naskahnya baru selesai pada akhir tahun 2024, bersamaan dengan masa revisi skripsinya.
Ia bahkan sering menulis di belakang lembaran kertas bekas revisi skripsi yang tidak terpakai lagi. Pengalamannya tinggal di pesantren membuatnya terbiasa menulis secara manual.
Oleh karena itu, sebagian besar draf awal buku ditulis dengan tangan sebelum akhirnya diketik kembali. Untuk mempercepat proses pengetikan, ia bahkan mengajak beberapa teman untuk menjadi juru tulis dengan imbalan sekitar Rp500 per halaman.
Pengalaman panjang ini membuat isi buku terasa sangat pribadi. Ada satu kalimat yang sangat mampu menggambarkan hubungan Erni dengan buku. “Seperti judul bukunya, The Girl Who Was Saved by Books, saya sendiri adalah gadis yang diselamatkan oleh buku,” ujarnya.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat