Dokter Muda Lulus S3 UI IPK 4,00, Riset AI Hadirkan Harapan Baru Epilepsi Anak
Sosok Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A., Subsp. Neuro.(K) menjadi perhatian publik setelah resmi meraih gelar doktor (S3) dari Universitas Indonesia pada Sabtu (14/2/2026). Rafli lulus dengan Indeks...
Sosok Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A., Subsp. Neuro.(K) menjadi perhatian publik setelah resmi meraih gelar doktor (S3) dari Universitas Indonesia pada Sabtu (14/2/2026). Rafli lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 atau predikat sempurna (Suma Cumlaude), sekaligus tercatat sebagai lulusan terbaik di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Table Of Content
Rafli menegaskan bahwa capaian akademik tersebut bukan sekadar soal angka atau gelar.
“Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar angka atau gelar. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang saya pelajari bisa benar-benar terus bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup sesama, khususnya untuk kemajuan kesehatan anak-anak di Indonesia. Itulah motivasi utama saya,” kata Rafli.
Keberhasilan ini semakin bermakna karena disertasinya menghadirkan harapan baru bagi anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat.
Kembangkan Model Machine Learning untuk Prediksi Keberhasilan Terapi
Disertasi Rafli berjudul:
Pengembangan Model Machine Learning dalam Memprediksi Keberhasilan Tata Laksana pada Anak dengan Epilepsi Resisten Obat.
Melalui penelitian tersebut, dr. Rafli bersama para pembimbingnya mengembangkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu dokter memprediksi keberhasilan pengobatan pada anak dengan epilepsi yang tidak merespons obat secara optimal.
Penelitian ini dilatarbelakangi pengamatan langsung Rafli terhadap pasien-pasien anak dengan kejang yang belum terkendali meski telah mengonsumsi berbagai jenis obat.
Inovasi yang dihasilkan meliputi:
- Pengembangan model machine learning untuk memprediksi respons terapi.
- Penyusunan protokol pemeriksaan MRI kepala baru yang mampu mendeteksi fokus kejang di otak.
- Pendekatan berbasis data untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan klinis.
Hasil riset ini diharapkan dapat membantu dokter menentukan strategi terapi yang lebih tepat sejak awal, sehingga anak-anak dengan epilepsi resisten obat memiliki peluang pengobatan yang lebih efektif.
“Harapan saya, teknologi ini bisa membuat pengobatan epilepsi pada anak jadi lebih efektif,” jelas dr. Rafli.
Tantangan Studi, Praktik, dan Peran Keluarga
Di balik capaian IPK sempurna, Rafli menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan berbagai peran. Ia tetap aktif berpraktik sebagai dokter, menjalankan tugas sebagai dosen, sekaligus menjalankan perannya sebagai ayah.
Kesulitan terbesar selama studi doktoral adalah membagi waktu dan menjaga keseimbangan tanggung jawab. Namun, keseimbangan tersebut justru menjadi energi positif yang mendorongnya meraih hasil maksimal.
Ia menyelesaikan studi doktoral hanya dalam empat semester dan lulus pada usia relatif muda. Pencapaian ini menunjukkan konsistensi, manajemen waktu, serta dedikasi tinggi terhadap dunia akademik dan pelayanan kesehatan.
Raih Penghargaan Internasional ICNA
Kontribusi penelitian Rafli mendapat pengakuan global. Pada 2025, ia meraih Global Burden Fellowship Award dari International Child Neurology Association (ICNA).
Penghargaan tersebut tidak hanya menjadi prestasi individu, tetapi juga membuktikan bahwa penelitian dari Indonesia mampu berkontribusi di tingkat dunia, khususnya dalam bidang neurologi anak.
“Setinggi apa pun gelar yang kita raih, tujuan akhirnya adalah untuk membantu sesama. Keberhasilan kita adalah titipan, di dalamnya ada doa orang tua, dukungan keluarga, guru bimbingan, serta kepercayaan dari pasien yang kita layani,” pesannya.
Menuju Riset Post-Doctoral untuk Negara Berkembang
Saat ini, dr. Rafli tengah mempersiapkan penelitian post-doctoral yang direkognisi oleh ICNA. Proyeksi hasil penelitian tersebut diharapkan dapat diterapkan di negara-negara berkembang, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga secara global.
Inovasi berbasis AI dalam penanganan epilepsi anak yang dikembangkannya menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara ilmu kedokteran dan teknologi dapat membuka jalan baru dalam pelayanan kesehatan yang lebih presisi dan efektif.