Berangkat Dari Empati, Mahasiswa UI Ciptakan Kacamata AI Untuk Penyandang Gangguan Mata Bisa Lari
Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung inovasi global. Setelah melalui perjalanan panjang sejak kompetisi nasional, Tim Labmino resmi ditunjuk sebagai Global Ambassador dalam program...
Indonesia kembali menorehkan prestasi di panggung inovasi global. Setelah melalui perjalanan panjang sejak kompetisi nasional, Tim Labmino resmi ditunjuk sebagai Global Ambassador dalam program Samsung Solve for Tomorrow (SFT).
Di balik pencapaian tersebut, ada kisah inspiratif sekelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) yang membuktikan bahwa ruang kelas bukanlah batas, melainkan titik awal untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam sesi Exclusive Media Session, Tim Labmino dari UI yang digawangi oleh Anthony Edbert Feriyanto, Ariq Maulana Malik Ibrahim, Muhammad Fazil Tirtana, dan Kaindra Rizq Sachio membagikan kisah lengkap di balik lahirnya inovasi RunSight—sebuah solusi berbasis AI yang lahir dari empati, riset teknis yang mendalam, dan kolaborasi lintas peran.

Momentum ini menjadi semakin istimewa karena pada penyelenggaraan global perdananya, Indonesia berhasil menempatkan wakil di jajaran tim terbaik dunia, sekaligus mempertegas potensi inovator muda Tanah Air di kancah internasional.
Berangkat dari Bangku Kuliah: Ketika Ilmu Bertemu Empati
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI, Tim Labmino terbiasa berhadapan dengan algoritma, pemrograman, dan teori kecerdasan buatan. Namun, yang membedakan perjalanan mereka adalah keberanian untuk membawa ilmu tersebut keluar dari laboratorium dan mengujinya pada problem nyata.
“Kita start dengan problem dulu. Kita lihat kebutuhan nyata di sekitar,” ujar Ariq, yang berperan sebagai IT Engineer dalam tim, Jum’at (13/2/2026)
Inspirasi itu datang dari lingkar pertemanan mereka sendiri, seorang teman dengan gangguan penglihatan yang memiliki keterbatasan untuk berlari secara mandiri. Dari empati tersebut, lahirlah ide untuk menciptakan solusi yang memungkinkan penyandang tunanetra berlari dengan aman dan independen.
Sebagai mahasiswa, mereka tidak memiliki fasilitas riset besar atau pendanaan masif. Yang mereka miliki adalah pengetahuan teknis, semangat belajar, dan kemauan untuk mencoba berulang kali.
Bagi mahasiswa lain, kisah ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan modal besar; sering kali ia dimulai dari kepekaan terhadap sekitar dan keberanian untuk bereksperimen.
Journey Tim Labmino: Dari Kompetisi Nasional ke Global Ambassador
Perjalanan Tim Labmino dimulai pada Mei 2025 melalui kompetisi tingkat nasional. Proses mereka berlanjut dari babak penyisihan hingga semifinal nasional. Pada tahap ini, mereka sudah harus menghadirkan prototype yang berfungsi.
Setelah dinobatkan sebagai pemenang tingkat nasional, perjalanan mereka berlanjut ke seleksi global. Sebelumnya, inovasi RunSight berhasil masuk dalam Top 20 Global Teams, sebagaimana diberitakan dalam artikel “Harumkan Indonesia, RunSight Masuk Top 20 SFT Global 2025.” Kini, pencapaian tersebut berlanjut dengan penunjukan resmi sebagai SFT Global Ambassador.

“Perjalanannya panjang. Dari proposal, bikin prototype, kumpulin dataset, iterasi berkali-kali, sampai akhirnya bisa berdiri di level global,” ungkap Anthony, sang Product Engineer, Jum’at (13/2/2026).
Sebagai mahasiswa aktif, mereka harus menyeimbangkan perkuliahan, tugas akademik, dan pengembangan produk. Manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri, namun justru membentuk kedisiplinan dan kepemimpinan dalam tim.
RunSight: Kacamata AI yang Lahir dari Empati
RunSight adalah kacamata berbasis AI yang dirancang untuk membantu penyandang gangguan penglihatan berlari di lintasan dengan aman.
Teknologi ini bekerja melalui tiga komponen utama:
- Perangkat kacamata dengan kamera untuk menangkap visual lintasan secara real-time.
- Modul komputasi yang memproses data menggunakan AI.
- Output audio melalui earphone yang memandu pengguna saat berlari.
Dalam pengembangannya, tim menggunakan tiga model AI utama:
- AI segmentasi garis untuk mendeteksi arah lintasan (lurus atau berbelok).
- AI deteksi objek untuk mengenali orang atau rintangan di depan.
- AI kedalaman untuk mengukur jarak terhadap hambatan.
Menariknya, mereka tidak menggunakan lidar seperti kebanyakan perangkat sejenis.
“Kami hanya menggunakan kamera. Dengan itu, kami bisa memangkas biaya hingga 35%, tapi tetap menjaga performa dan akurasi,” jelas Kai, yang berperan sebagai AI Engineer, Jum’at (13/02/2026) Keputusan teknis ini menunjukkan bagaimana mahasiswa mampu melakukan cost-efficiency engineering tanpa mengorbankan kualitas.
Selain perangkat keras, RunSight juga dilengkapi aplikasi mobile yang memungkinkan pengguna menyimpan performa lari, melihat statistik, dan terhubung dalam komunitas. Lebih dari sekadar alat, RunSight adalah bukti bahwa ilmu komputasi dapat diterjemahkan menjadi solusi inklusif.

Dukungan dan Ekosistem: Kunci Perjalanan Panjang
Keberhasilan Tim Labmino tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitar. Keluarga, mentor, hingga ekosistem kompetisi memainkan peran penting dalam membentuk kepercayaan diri dan kapasitas teknis mereka.
Termasuk dukungan melalui ekosistem pembinaan dalam program Samsung Electronics melalui Samsung Solve for Tomorrow. Program ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang mentoring dan validasi ide.
“Dari awal kita diarahkan, dibimbing, sampai akhirnya berkembang. Itu sangat membantu,” ujar Fazil, sebagai Software Engineer, Jum’at (13/2/2026).
Mereka juga menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas dalam tim. Dengan latar belakang ilmu komputer dan sistem informasi, setiap anggota memiliki tanggung jawab spesifik AI, software, product engineering, hingga manajemen tim.
Bagi mahasiswa, keberanian mengikuti kompetisi seperti ini dapat membuka akses pada jaringan, mentor, dan pengalaman internasional yang memperkaya pembelajaran akademik.
Makna Global Ambassador dan Inspirasi untuk Mahasiswa Indonesia
Menjadi Global Ambassador bukan sekadar gelar bagi Tim Labmino. Ini adalah bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing secara global ketika ilmu, empati, dan kerja tim berjalan beriringan.
Ke depan, mereka ingin meningkatkan akurasi model AI, memperluas penggunaan ke cabang olahraga lain, serta menghadirkan dampak sosial yang lebih luas.
Harapan terbesar mereka sederhana namun bermakna: semakin banyak penyandang gangguan penglihatan dapat berlari kembali, tidak hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental dan interaksi sosial.
Sebagai pesan untuk generasi muda Indonesia, Anthony menutup dengan refleksi sederhana: “Mulailah dari problem nyata. Bangun solusi bersama user. Karena buat apa ada solusi kalau tidak ada yang memakai?”
Dari ruang kelas Ilmu Komputer UI, langkah mereka kini menggema hingga panggung dunia.
Dan mungkin, inovasi besar berikutnya sedang disiapkan, oleh mahasiswa yang hari ini masih duduk di bangku kuliah, mencari problem pertama yang ingin mereka selesaikan.
Reporter: Siti Hannah Alaydrus/Kamus Mahasiswa
Editor: Widiyanto/Kamus Mahasiswa
Keren