Brian Yuliarto Tekankan Peran Strategis Akademisi dalam Kemajuan Bangsa
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan betapa krusialnya peran akademisi dalam mempercepat kemajuan bangsa. Hal ini diwujudkan melalui penguatan...
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan betapa krusialnya peran akademisi dalam mempercepat kemajuan bangsa. Hal ini diwujudkan melalui penguatan ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Brian dalam Forum Dewan Guru Besar Indonesia yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (13/2). Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi peran strategis para Guru Besar sebagai penjaga nilai-nilai utama pendidikan tinggi.
“Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada bapak ibu sekalian karena Dewan Guru Besar ini adalah guardian of value (penjaga nilai) yang menjaga nilai-nilai utama pendidikan tinggi,” ungkap Mendiktisaintek melalui keterangan resmi di Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Ujung Tombak Tridarma
Bagi Menteri Brian, gelar Guru Besar bukanlah akhir dari pencapaian akademik atau sekadar jabatan struktural. Sebaliknya, posisi ini merupakan ujung tombak tridarma perguruan tinggi yang harus memberikan kontribusi konkret bagi masyarakat.
Ia menyoroti adanya perbedaan mendasar antara ekosistem riset di Indonesia dengan negara-negara maju. Menteri Brian mendorong agar para akademisi tidak lagi terjebak dalam belenggu rutinitas administratif.
“Di negara maju, produktivitas profesor sangat ditentukan oleh kemampuan meraih hibah penelitian (research grant) yang kompetitif,” jelasnya. Ia ingin gairah (passion) meneliti kembali menjadi prioritas utama para pendidik.
Transformasi Industri dan Peran Swasta
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah perlunya pergeseran paradigma industri di Indonesia. Mendiktisaintek berharap Indonesia bisa segera beralih dari yang semula hanya trading industry (industri perdagangan) menjadi industri berbasis produksi yang kuat secara riset.
Namun, ia mencatat tantangan besar pada sektor pendanaan. “Saat ini, anggaran riset di Indonesia masih didominasi oleh pengeluaran pemerintah. Kita perlu mendorong peran swasta lebih besar, sebagaimana di negara seperti Turki, di mana 70% anggaran riset berasal dari sektor swasta,” ujar Brian.
Menurutnya, keterlibatan dunia industri menjadi kunci agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai laporan akademik, melainkan mampu dikembangkan menjadi inovasi yang bernilai ekonomi.
Prestasi Melampaui Batas Geografis
Dalam kesempatan tersebut, Brian juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para dosen di wilayah daerah, salah satunya di Universitas Timor. Meskipun berada jauh dari pusat kota, mereka terbukti mampu menembus jurnal internasional dengan impact factor yang tinggi.
Baginya, hal ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas dan letak geografis bukan penghalang bagi akademisi Indonesia untuk bersinar di kancah global. Yang terpenting adalah semangat, konsistensi, serta budaya riset yang kuat.
Sebagai penutup, ia mengajak para Guru Besar untuk memiliki visi yang lebih besar daripada sekadar angka statistik atau piagam penghargaan. Terinspirasi dari para peraih Nobel, Brian berpesan bahwa esensi tertinggi dalam meneliti adalah kebahagiaan dalam berkarya serta keinginan murni untuk berkontribusi bagi kemanusiaan.