Jadi Doktor Termuda Se-Indonesia, Anak NTT Tembus Top 2% Peneliti Dunia, Riset Tentang Energi Masa Depan
Nama Grandprix Thomryes Marth Kadja tercatat sebagai doktor termuda se-Indonesia. Gelar doktor tersebut telah ia raih sejak tahun 2017. Tidak hanya itu, ia juga langganan masuk dalam daftar peneliti...
Nama Grandprix Thomryes Marth Kadja tercatat sebagai doktor termuda se-Indonesia. Gelar doktor tersebut telah ia raih sejak tahun 2017. Tidak hanya itu, ia juga langganan masuk dalam daftar peneliti terbaik dunia melalui Top 2% Scientist in the World versi Elsevier dan Stanford University.
Table Of Content
Pada tahun 2024, ia masuk dalam daftar Top 2% Scientists Worldwide 2024 The Single-year Impact Category by Stanford University. Kemudian pada tahun 2025, ia kembali masuk daftar tersebut berkat inovasi risetnya di bidang material nano dan energi berkelanjutan. Prestasi ini membuktikan bahwa anak muda dari wilayah Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) mampu menghasilkan riset dan kolaborasi kelas dunia.
Grandprix berasal dari Desa Tarus, Kupang – Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia lahir pada tahun 1993 dari pasangan Octovianus Kadja, SE dan Ir. Yeane Do Djeta. Sejak kecil, orang tuanya terus mendukung pendidikan serta menanamkan budaya literasi yang kuat sehingga menumbuhkan minat membaca sejak dini dalam dirinya.
Dirangkum Kompas.com pada Jumat (7/2/2026), Grandprix menempuh pendidikan menengah atas di SMA Katolik Giovanni dengan program akselerasi selama dua tahun (2007–2009). Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) dengan beasiswa dan berhasil lulus cumlaude. Sejak sekolah, ia dikenal sebagai langganan juara, salah satunya Juara 1 Olimpiade Kimia SMA se-Provinsi NTT.
Prestasi Akademik Sejak Mahasiswa
Saat melanjutkan pendidikan Strata 1 (S1) di Program Studi Kimia UI pada tahun 2009–2013, Grandprix kembali mengukir prestasi nasional, di antaranya Medali Perak Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) bidang Kimia serta Juara Nasional Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina kategori Science Project. Ia juga meraih gelar lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari UI.
Pada tahun 2013, Grandprix memperoleh beasiswa Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dua tahun kemudian, ia meraih gelar Magister Sains (M.Si) dengan predikat cumlaude.
Selama menempuh pendidikan S2 dan S3, Grandprix menghasilkan sembilan artikel ilmiah, terdiri dari satu artikel di jurnal nasional dan delapan artikel di jurnal internasional. Dari delapan jurnal internasional tersebut, tujuh di antaranya terindeks Scopus dan empat artikel dipublikasikan di jurnal bereputasi sangat baik (Q1) dengan impact factor antara 2,6 hingga 5,7.
Doktor Termuda Se-Indonesia di Usia 24 Tahun
Pada tahun 2017, Grandprix berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Zeolit ZSM-5 Hierarkis Bebas Mesoporogen: Sintesis, Mekanisme dan Peningkatan Tingkat Hierarki” dan resmi menyandang gelar Doktor pada usia 24 tahun, menjadikannya doktor termuda se-Indonesia.
Keahliannya dalam bidang Kimia Anorganik telah dipresentasikan dalam berbagai seminar ilmiah di hadapan komunitas saintis Indonesia maupun internasional. Bahkan ia pernah diundang memberikan seminar di Department of Chemistry, University of Bath, United Kingdom.
Menjadi Dosen ITB dan Fokus Riset Material Nano

Saat ini Grandprix menjabat sebagai dosen dan lektor di ITB. Ia tergabung dalam Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik serta menjadi bagian dari Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK-ITB) sejak 2019. Fokus risetnya berada pada bidang nanomaterials for catalysis, adsorption, and molecular separation.
Ia juga meraih Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 kategori Ilmuwan Muda atas dedikasinya dalam penelitian material nano untuk energi berkelanjutan. Salah satu fokus penelitiannya adalah pengembangan material nanopori dan MXene, material nano dua dimensi yang baru ditemukan secara global pada tahun 2011.
“Lab kami adalah yang pertama mengembangkan MXene di Indonesia sejak tahun 2019,” ujarnya, dilansir dari laman ITB, Jumat (6/2/2026).
Material ini memiliki potensi besar sebagai katalis dalam reaksi pemecahan air menjadi hidrogen dan oksigen untuk mendukung energi bersih. Selain itu, material nano juga digunakan dalam pengembangan membran pemurnian air, sensor berbasis partikel nano emas, serta aplikasi energi seperti sel surya.
Kolaborasi Internasional dan Tantangan Riset
Grandprix menilai bahwa pencapaiannya tidak lepas dari kolaborasi internasional dengan berbagai institusi dunia seperti National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Kyushu University di Jepang, hingga Harvard University di Amerika Serikat.
“Saya sangat bersyukur ada pihak eksternal yang memberikan penghargaan seperti ini, karena itu berarti penelitian yang kita kembangkan diakui dan dihargai,” ungkapnya.
Ia juga mengakui tantangan utama riset di Indonesia adalah keterbatasan fasilitas. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang.
“Tantangannya tentu ada, yang klasik di kita adalah keterbatasan bahan dan fasilitas. Tapi, puji Tuhan, kami selalu mengusahakan apa yang bisa dikerjakan dengan fasilitas yang kami miliki. We make the best out of what we have. Kuncinya adalah kolaborasi dengan kolega-kolega di luar negeri. Muda itu bukan soal usia saja, tapi tentang semangat yang membara dan tidak pernah padam. Kita tidak boleh merasa kecil karena masih muda,” katanya.
Menurutnya, dukungan ITB dan lingkungan akademik yang mendorong kolaborasi membuatnya optimistis bahwa Indonesia dapat menjadi pemain penting dalam sains material global. Terlebih, lebih dari 90 persen proses industri kimia membutuhkan katalis, sehingga inovasi di bidang ini diyakini akan berdampak besar bagi sektor energi, lingkungan, dan manufaktur nasional dalam lima tahun ke depan.