Jumlah Perguruan Tinggi Kemenag Vs Kemdiktisaintek
Di Indonesia, pengelolaan perguruan tinggi berada di bawah dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Agama (Kemenag). Perguruan...
Di Indonesia, pengelolaan perguruan tinggi berada di bawah dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Agama (Kemenag). Perguruan tinggi berbasis keagamaan umumnya berada di bawah Kemenag, sementara kampus umum dikelola Kemdiktisaintek.
Pembagian ini turut memengaruhi komposisi mahasiswa, di mana kampus di bawah Kemenag cenderung lebih homogen secara agama, sedangkan perguruan tinggi umum lebih beragam karena tidak berfokus pada latar belakang keagamaan tertentu.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan perbedaan mencolok dalam jumlah perguruan tinggi dari kedua kementerian. Kemdiktisaintek menaungi 2.937 perguruan tinggi, yang terdiri atas 2.812 perguruan tinggi swasta dan 125 perguruan tinggi negeri.
Sementara itu, Kemenag membawahi 907 perguruan tinggi, dengan rincian 848 perguruan tinggi swasta dan 59 perguruan tinggi negeri. Data ini mencakup institusi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik.
Jumlah mahasiswa di bawah Kemdiktisaintek juga jauh lebih besar. Pada 2023, tercatat ada 8,3 juta mahasiswa, dan meningkat menjadi 8,4 juta pada 2024. Namun, peningkatan ini tidak diikuti oleh jumlah dosen, yang justru mengalami penurunan dari 270 ribu dosen pada 2023 menjadi 249 ribu pada 2024.
Berbanding terbalik, kampus-kampus di bawah Kemenag mengalami penurunan jumlah mahasiswa dan dosen. Jumlah mahasiswa turun dari 1,2 juta pada 2023 menjadi 1 juta pada 2024. Jumlah dosen pun ikut menurun dari 48,7 ribu menjadi 39,8 ribu dalam periode yang sama.
Penurunan ini memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi. Baik pemerintah maupun penyelenggara pendidikan swasta perlu menelaah lebih jauh penyebab tren ini dan mencari strategi untuk memastikan keberlanjutan dan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!