Mahasiswa Multitasking: Antara Produktif dan Kehilangan Waktu Istirahat
Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tuntutan kemandirian finansial, mahasiswa kini dihadapkan pada realitas baru dunia kerja. Salah satu fenomena yang semakin marak adalah polyworking, yakni...
Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tuntutan kemandirian finansial, mahasiswa kini dihadapkan pada realitas baru dunia kerja. Salah satu fenomena yang semakin marak adalah polyworking, yakni menjalani lebih dari satu pekerjaan atau proyek secara bersamaan. Fenomena ini menjadi pilihan banyak mahasiswa untuk bertahan sekaligus berkembang di era yang serba dinamis.
Polyworking pada mahasiswa umumnya dipicu oleh tekanan ekonomi. Biaya kuliah, tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari membuat sebagian mahasiswa merasa perlu memiliki sumber penghasilan sendiri. Kondisi ini mendorong mereka untuk tidak hanya mengandalkan uang saku dari orang tua, tetapi juga berusaha mandiri secara finansial.
Selain faktor ekonomi, keinginan untuk mengeksplorasi karier juga menjadi alasan kuat mahasiswa memilih polyworking. Masa kuliah dianggap sebagai fase yang tepat untuk mencoba berbagai bidang pekerjaan. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa berharap dapat mengenali minat, bakat, serta arah karier yang ingin ditempuh setelah lulus.
Perkembangan teknologi digital turut mempermudah mahasiswa menjalani polyworking. Fleksibilitas kerja berbasis daring memungkinkan mahasiswa mengambil pekerjaan tanpa terikat ruang dan waktu. Pekerjaan seperti freelancer penulis, desainer grafis, admin media sosial, tutor online, hingga content creator menjadi pilihan yang populer.
Selain pekerjaan berbasis digital, tidak sedikit mahasiswa yang memilih bekerja di sektor jasa, seperti barista, kasir, atau driver ojek online. Jenis pekerjaan ini dianggap lebih mudah diakses dan memiliki jam kerja yang dapat disesuaikan dengan jadwal perkuliahan. Kombinasi kerja daring dan luring pun kerap dijalani secara bersamaan.
Polyworking menawarkan sejumlah kelebihan bagi mahasiswa. Pendapatan yang diperoleh dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mengurangi ketergantungan finansial pada orang tua. Di sisi lain, mahasiswa juga berkesempatan mengembangkan beragam keterampilan, mulai dari komunikasi, kreativitas, hingga manajemen waktu.
Meski demikian, polyworking juga memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan. Menjalani banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan berpotensi menyebabkan kelelahan fisik dan mental atau burnout. Jadwal yang padat sering kali membuat mahasiswa kekurangan waktu istirahat dan sulit menjaga keseimbangan hidup.
Dampak lain yang patut diwaspadai adalah penurunan performa akademik. Fokus yang terbagi antara kuliah dan pekerjaan dapat membuat mahasiswa kesulitan mengatur prioritas. Jika tidak dikelola dengan baik, tugas kuliah terbengkalai, konsentrasi belajar menurun, dan prestasi akademik ikut terdampak.
Fenomena polyworking juga tidak lepas dari budaya hustle yang berkembang di kalangan Gen Z. Produktivitas kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan, sehingga kesibukan dianggap sebagai sesuatu yang harus dibanggakan. Padahal, bekerja tanpa batas justru berisiko mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup.
Dengan demikian, polyworking mencerminkan pergeseran paradigma kerja di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Fleksibilitas dan produktivitas menjadi nilai utama, namun tetap perlu diimbangi dengan kesadaran akan batas diri. Mahasiswa dituntut untuk bijak mengelola waktu dan energi agar polyworking tidak menjadi beban, melainkan sarana pengembangan diri yang berkelanjutan.
Penulis:Nabila Rahma Hidayat