FOMO Organisasi Kampus: Perlu Ikut Semua?
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin sering dirasakan oleh mahasiswa, terutama dalam dunia organisasi kampus. Banyak mahasiswa merasa takut tertinggal jika tidak mengikuti UKM, kepanitiaan,...
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin sering dirasakan oleh mahasiswa, terutama dalam dunia organisasi kampus. Banyak mahasiswa merasa takut tertinggal jika tidak mengikuti UKM, kepanitiaan, lomba, atau kegiatan kampus lainnya. Perasaan ini muncul karena lingkungan sekitar seolah menuntut mahasiswa untuk selalu aktif, produktif, dan penuh prestasi di luar kelas.
Di awal masa perkuliahan, FOMO sering datang bersamaan dengan semangat eksplorasi. Mahasiswa baru ingin mencoba segalanya agar tidak merasa “kurang pengalaman” dibandingkan teman-temannya. Melihat teman aktif di berbagai organisasi dan memamerkan pencapaian di media sosial membuat tekanan tersebut semakin kuat.
Organisasi kampus memang menawarkan banyak manfaat. Mulai dari melatih soft skill, memperluas relasi, hingga menjadi nilai tambah di CV. Namun, masalah muncul ketika mahasiswa mengikuti terlalu banyak kegiatan tanpa mempertimbangkan kapasitas diri. Alih-alih berkembang, mahasiswa justru kelelahan secara fisik dan mental.
FOMO organisasi sering membuat mahasiswa sulit berkata “tidak”. Rasa sungkan menolak ajakan teman atau takut dianggap tidak ambisius membuat mahasiswa memaksakan diri. Akibatnya, jadwal menjadi padat, waktu istirahat berkurang, dan fokus pada akademik mulai terganggu.
Dampak lain dari FOMO adalah munculnya stres dan rasa bersalah. Ketika tidak aktif di satu kegiatan, mahasiswa merasa tertinggal. Namun saat terlalu aktif, mereka merasa kewalahan. Kondisi ini menciptakan dilema yang melelahkan dan berpotensi memicu burnout.
Padahal, setiap mahasiswa memiliki prioritas dan ritme hidup yang berbeda. Ada yang cocok aktif di banyak organisasi, ada pula yang lebih berkembang dengan fokus pada akademik atau satu kegiatan tertentu. Membandingkan diri dengan orang lain justru sering membuat mahasiswa kehilangan arah dan tujuan pribadi.
Mengelola FOMO organisasi kampus bisa dimulai dengan mengenali diri sendiri. Mahasiswa perlu memahami minat, kemampuan, dan batasan waktu yang dimiliki. Mengikuti satu atau dua kegiatan yang benar-benar sesuai minat jauh lebih bermanfaat daripada mengikuti banyak kegiatan tanpa makna.
Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk memiliki keberanian menentukan prioritas. Akademik, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi tetap harus menjadi fondasi utama. Organisasi seharusnya menjadi sarana pengembangan diri, bukan sumber tekanan baru.
Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa tidak semua pencapaian harus dipamerkan. Media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, tanpa menunjukkan proses lelah dan pengorbanan di baliknya. Kesadaran ini dapat membantu mengurangi rasa FOMO yang berlebihan.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa aktif bukan tentang seberapa banyak organisasi yang diikuti, melainkan seberapa besar dampak dan pembelajaran yang diperoleh. Dengan memilih secara sadar dan seimbang, mahasiswa dapat berkembang tanpa harus kehilangan diri sendiri di tengah hiruk-pikuk organisasi kampus.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat