ChatGPT dan Tugas Kuliah: Membantu atau Mengikis Kemampuan Intelektual?
Penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas kuliah kini menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan tinggi. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) memunculkan perdebatan...
Penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas kuliah kini menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan tinggi. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) memunculkan perdebatan menarik: apakah ChatGPT berperan sebagai teman belajar yang membantu produktivitas, atau justru menjadi lawan yang menghambat kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Jawabannya sangat bergantung pada cara dan tujuan penggunaannya.Di Indonesia, penggunaan AI dalam pembelajaran sudah sangat masif. Bahkan, sekitar 95% mahasiswa dilaporkan pernah memanfaatkan AI untuk membantu proses akademik mereka.
Fakta ini menunjukkan bahwa AI, termasuk ChatGPT, telah dipandang sebagai “teman sejawat” dalam belajar, selama penggunaannya dilakukan secara etis, bijak, dan tidak melanggar nilai-nilai akademik.Sebagai teman, ChatGPT dapat berperan sebagai asisten pribadi yang mendukung proses belajar mahasiswa.
AI ini dapat membantu mahasiswa menghemat waktu, mengurai kebuntuan ide, dan memahami materi yang kompleks. Namun, peran ini hanya positif apabila ChatGPT tidak dijadikan sebagai pengganti pemikiran mahasiswa, melainkan sebagai pendukung proses intelektual.
Salah satu bentuk penggunaan ChatGPT yang etis adalah untuk brainstorming ide. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk mencari topik makalah, merancang kerangka tulisan, atau memancing sudut pandang awal sebelum mengembangkan argumen sendiri. Dalam konteks ini, ChatGPT berfungsi sebagai pemantik kreativitas, bukan penentu hasil akhir.
Selain itu, ChatGPT juga bermanfaat dalam membantu memahami konsep-konsep yang rumit. Mahasiswa dapat meminta penjelasan ulang materi kuliah dengan bahasa yang lebih sederhana dan komunikatif. Penggunaan ini mendukung proses pemahaman, terutama bagi mahasiswa yang kesulitan mengikuti penjelasan di kelas atau literatur akademik yang kompleks.
Namun, ChatGPT dapat berubah menjadi “lawan” ketika digunakan secara tidak etis. Salah satu bentuk penyalahgunaan yang paling umum adalah menyuruh AI mengerjakan seluruh tugas, seperti esai, laporan, atau bahkan skripsi, lalu mengklaimnya sebagai karya pribadi. Tindakan ini termasuk kecurangan akademik dan bertentangan dengan prinsip kejujuran ilmiah.
Ketergantungan berlebihan pada AI juga dapat mengikis kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Jika mahasiswa terbiasa menerima jawaban instan tanpa proses analisis, mereka akan menjadi pasif dan kehilangan keterampilan penting seperti pemecahan masalah, penalaran logis, dan kemampuan berargumen secara mandiri.

Masalah lain yang sering luput disadari adalah potensi kesalahan informasi atau halusinasi AI. ChatGPT dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu akurat atau mutakhir. Tanpa verifikasi ulang terhadap buku, jurnal, atau sumber akademik yang valid, mahasiswa berisiko menyebarkan informasi keliru dalam tugas akademiknya.
Oleh karena itu, batasan etis penggunaan AI di perguruan tinggi perlu ditegaskan. Transparansi menjadi kunci utama, di mana mahasiswa wajib jujur mencantumkan penggunaan AI jika memang dimanfaatkan dalam proses tertentu. Selain itu, ChatGPT harus diposisikan sebagai alat bantu dan pemverifikasi, bukan sebagai pembuat utama karya akademik.
Sebagai kesimpulan, ChatGPT adalah alat yang sah dan sangat membantu bagi mahasiswa jika digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan efisiensi belajar. Namun, ia dapat menjadi lawan yang berbahaya bagi perkembangan intelektual jika digunakan untuk menciptakan karya instan tanpa proses berpikir. Prinsip utamanya sederhana: gunakan AI untuk meningkatkan kualitas karyamu, bukan untuk menggantikan proses belajarmu.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat