Ngopi Sambil Nugas: Apakah Belajar di Kafe Lebih Produktif?
Belajar di kafe dan merapikan meja belajar (desk setup) kini menjadi tren di kalangan mahasiswa. Namun, di balik tampilannya yang estetik dan sering dibagikan di media sosial, kedua kebiasaan ini...
Belajar di kafe dan merapikan meja belajar (desk setup) kini menjadi tren di kalangan mahasiswa. Namun, di balik tampilannya yang estetik dan sering dibagikan di media sosial, kedua kebiasaan ini ternyata memiliki dampak nyata terhadap produktivitas belajar. Aktivitas tersebut bukan sekadar gaya hidup, melainkan strategi menciptakan suasana yang mendukung fokus dan kenyamanan saat mengerjakan tugas akademik.
Lingkungan belajar memiliki peran penting dalam memengaruhi suasana hati dan konsentrasi mahasiswa. Ketika suasana terasa membosankan atau menekan, motivasi belajar cenderung menurun. Oleh karena itu, banyak mahasiswa mencari alternatif tempat belajar atau menata ulang ruang belajarnya agar lebih kondusif dan menyenangkan.
Belajar di kafe, atau yang sering disebut work from café (WFC), menawarkan suasana baru yang berbeda dari kamar atau perpustakaan. Kafe biasanya memiliki desain yang nyaman, pencahayaan hangat, serta atmosfer tenang yang dapat meningkatkan mood. Perubahan suasana ini mampu memicu semangat belajar, terutama bagi mahasiswa yang mudah jenuh.
Selain suasana, fasilitas pendukung di kafe juga menjadi alasan utama. Akses WiFi gratis, minuman seperti kopi atau teh, serta tempat duduk yang nyaman membantu mahasiswa bertahan lebih lama untuk fokus mengerjakan tugas. Dengan kebutuhan dasar yang terpenuhi, energi dan konsentrasi pun lebih terjaga.
Menariknya, bagi sebagian mahasiswa, kebisingan ringan di kafe justru membantu fokus. Suara percakapan pelan dan aktivitas sekitar menciptakan white noise yang konstan, sehingga otak lebih mudah berkonsentrasi dibandingkan kondisi yang terlalu sunyi. Namun, efektivitas ini tentu bergantung pada preferensi masing-masing individu.
Di sisi lain, merapikan meja belajar atau desk setup juga terbukti berpengaruh besar terhadap produktivitas. Meja yang berantakan sering kali memicu stres tanpa disadari karena otak harus memproses terlalu banyak rangsangan visual. Kondisi ini membuat mahasiswa lebih mudah terdistraksi.
Meja belajar yang rapi dan terorganisir membantu menciptakan ketenangan mental. Dengan hanya menyisakan barang-barang yang diperlukan, fokus menjadi lebih terarah pada tugas yang sedang dikerjakan. Secara psikologis, meja yang tertata juga membangun asosiasi mental antara ruang tersebut dan aktivitas belajar.
Selain kerapian, aspek kenyamanan fisik dalam desk setup tidak boleh diabaikan. Pengaturan meja dan kursi yang ergonomis, pencahayaan yang cukup, serta posisi layar yang tepat dapat mencegah kelelahan dan gangguan kesehatan. Kenyamanan fisik yang terjaga berkontribusi langsung pada peningkatan performa akademik.
Baik belajar di kafe maupun menata meja belajar pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan lingkungan yang mendukung fokus dan produktivitas. Faktor estetika memang dapat meningkatkan motivasi, tetapi bukan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan belajar.
Sebagai kesimpulan, efektivitas kedua tren ini terletak pada kemampuan mahasiswa mengelola lingkungannya sesuai kebutuhan pribadi. Tidak ada satu metode yang paling benar untuk semua orang. Selama suasana yang diciptakan mampu mendukung fokus, kenyamanan, dan konsistensi belajar, baik kafe maupun meja belajar yang tertata rapi dapat menjadi kunci produktivitas mahasiswa.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat