Aurelie Moeremans Membuka Fakta Kelam Child Grooming pada Anak dan Remaja, Dampak Dan Cara Mencegahnya
Istilah child grooming kembali menjadi perhatian publik setelah aktris Aurelie Moeremans secara terbuka mengungkap pengalaman traumatisnya saat masih berusia 15 tahun. Pengakuan tersebut disampaikan...
Istilah child grooming kembali menjadi perhatian publik setelah aktris Aurelie Moeremans secara terbuka mengungkap pengalaman traumatisnya saat masih berusia 15 tahun. Pengakuan tersebut disampaikan Aurelie melalui buku memoarnya Broken Strings, yang memuat kisah manipulasi dan kontrol emosional yang dialaminya dari seorang pria dewasa.
Pengakuan ini memicu pertanyaan luas di masyarakat: apa itu child grooming, bagaimana modusnya, apa saja ciri-cirinya, dampaknya bagi korban, serta bagaimana cara mencegahnya. Pasalnya, praktik ini kerap luput dari perhatian karena sering disamarkan sebagai bentuk perhatian atau hubungan romantis, padahal berisiko menimbulkan trauma mendalam hingga dewasa.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah rangkaian tindakan manipulatif yang dilakukan seseorang untuk menjalin kedekatan, membangun rasa percaya, serta menciptakan ikatan emosional dengan anak. Tujuan dari praktik ini adalah untuk mengendalikan, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak, baik secara emosional maupun seksual.
Dalam banyak kasus, istilah child grooming kerap dikaitkan dengan pedofilia, yakni ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur.
“Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak,” jelas Farraas Afiefah Muhdiar, psikolog anak, remaja, dan keluarga, dikutip dari Kompas.com, Jumat (9/1/2026).

Farraas menjelaskan, proses grooming umumnya tidak dilakukan secara terang-terangan, apalagi dengan kekerasan fisik seperti penculikan. Sebaliknya, pelaku memanfaatkan pendekatan yang tampak positif, seperti memberi perhatian khusus, menunjukkan kasih sayang, hingga menciptakan rasa aman bagi anak.
Cara tersebut dilakukan agar pelaku mendapatkan kepercayaan korban, sehingga anak kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
“Seolah-olah ada intensi untuk sayang, padahal sebenarnya intensinya adalah memanfaatkan si anak tersebut,” tutur Farraas.
Sebagai contoh, pelaku bisa rutin mengirim pesan, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering melontarkan pujian, serta mengapresiasi korban. Ketika kedekatan emosional sudah terbangun, pelaku mulai mengajukan permintaan tertentu yang mengarah pada unsur seksual, mulai dari permintaan foto hingga mengarahkan anak melakukan tindakan seksual.
Mengapa Anak Bisa Tertarik pada Orang Dewasa?
Farraas mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang membuat anak atau remaja rentan tertarik pada orang dewasa dan akhirnya terjebak dalam child grooming.
1. Muncul Rasa Bangga
Salah satu pemicunya adalah perasaan bangga karena menjalin hubungan dengan sosok yang lebih dewasa, terutama yang dianggap mapan secara ekonomi maupun pendidikan.
“Jadi ngerasanya tuh kayak ‘Ih keren kok aku bisa pacaran sama orang yang kayak gini yang udah punya ini, udah punya itu’,” ujar dia.
Anak menilai pasangan yang lebih tua memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman seusianya, seperti stabilitas finansial, perhatian, dan pengalaman hidup.
2. Mencari Figur Ayah
Faktor lain adalah kebutuhan akan figur ayah yang tidak terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kayak punya isu sama figur ayah, jadi ketika dikasih perhatian sama laki-laki dewasa jadi lebih rentan,” tutur Farraas.
Kondisi ini membuat anak lebih mudah menerima perhatian dari pria dewasa yang menunjukkan kepedulian.
3. Kebutuhan Akan Apresiasi
Ketertarikan pada orang dewasa juga bisa muncul karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di lingkungan keluarga.
“Punya isu keluarga, dia punya kebutuhan yang selama ini tidak terisi. Mungkin dia orangtuanya tidak hadir secara emosional,” kata Farraas.
Bagaimana Ciri-ciri Anak yang Jadi Korban Child Grooming?
Farraas menyebut, praktik child grooming tidak selalu mudah dikenali, terutama pada remaja dan dalam keluarga dengan komunikasi yang kurang terbuka.
Meski demikian, terdapat sejumlah tanda awal yang patut diwaspadai orangtua, antara lain:
- Perubahan perilaku yang mencolok, seperti anak menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan sesuatu, mengunci gawai, dan memilih menyendiri.
- Perubahan kondisi keuangan, misalnya anak tiba-tiba memiliki barang baru atau uang lebih banyak tanpa penjelasan yang jelas.
- Saat orangtua mencoba menggali informasi, korban grooming kerap menunjukkan sikap defensif, menghindar, atau tampak gelisah.
“Yang paling kelihatan banget sih ya, banyak ngerahasiain sesuatu, pokoknya kayak enggak mau ceritain tentang itu (aktivitas anak),” tandas Farraas.
Apa Dampak Child Grooming pada Anak?
Masih disadur dari Kompas.com, child grooming dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Baca juga: Alasan Aurelie Moeremans Ungkap Luka Jadi Korban Grooming Lewat Buku Broken Strings
Korban berisiko mengalami gangguan psikologis jangka panjang, seperti kecemasan, depresi, stres pascatrauma, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup. Jika korban dipaksa membuat konten bermuatan intim, mereka juga cenderung mengalami rasa malu mendalam dan menyalahkan diri sendiri atas pelecehan yang dialami.
Bagaimana Mencegah Anak Menjadi Korban Child Grooming?
Dikutip dari laman Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Tangerang, berikut sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Membangun komunikasi terbuka, dengan membiasakan anak berbicara jujur tentang perasaannya tanpa takut dimarahi.
- Mengawasi aktivitas offline dan online, termasuk media sosial, game daring, dan pergaulan anak.
- Mengajarkan batasan tubuh, termasuk hak anak atas tubuhnya dan bagaimana mengatakan “tidak”.
- Mengajarkan anak berani melapor, dengan mendorong anak segera bercerita jika ada seseorang yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!